Palang Merah Internasional Pangkas Ribuan Pekerja: Krisis Donor Finansial

ICRC Pangkas 2.900 Staf, Anggaran Anjlok 17% karena Donor Internasional Mundur

Jeneva, Swiss—Palang Merah Internasional (ICRC) pada Jumat (21/11/25) mengumumkan langkah drastis dan menyakitkan, yaitu pemotongan anggaran tahunan sebesar 17% dan penghapusan 2.900 posisi kerja secara global menjelang tahun 2026.

Dilansir dari Al Jazeera, keputusan ini diambil oleh organisasi kemanusiaan yang berbasis di Jenewa tersebut sebagai respons langsung terhadap penurunan signifikan dukungan finansial dari donor internasional.

Termasuk dukungan dari Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman, yang mulai mengalihkan prioritas pendanaan mereka ke sektor pertahanan dan keamanan, seiring dengan meningkatnya konflik bersenjata dan kebutuhan bantuan di seluruh dunia.

Presiden ICRC, Mirjana Spoljaric menegaskan bahwa realitas finansial yang suram memaksa Palang Merah untuk melakukan restrukturisasi besar-besaran, agar misi inti mereka di garis depan konflik tetap dapat berjalan.

Misi Kemanusiaan Terancam

Keputusan untuk mengurangi anggaran operasional hingga mencapai $ 2,2 Miliar turun drastis dari tahun sebelumnya bukan sekadar langkah efisiensi biasa, melainkan pengakuan pahit atas “krisis keuangan yang belum pernah terjadi sebelumnya” di sektor bantuan global.

Pemotongan masif ini,  mencakup hampir seperlima dari total anggaran tahunan, adalah salah satu restrukturisasi paling signifikan yang dilakukan ICRC dalam beberapa dekade terakhir.

Spoljaric menyoroti adanya “konvergensi berbahaya antara konflik bersenjata yang meningkat, pemotongan signifikan terhadap pendanaan bantuan, dan toleransi sistemik terhadap pelanggaran berat hukum humaniter internasional.”

Ini adalah alarm keras bahwa saat dunia menghadapi lonjakan konflik, sumber daya untuk membantu para korban justru mengering.

Dampak “America First”

Penurunan pendanaan ini memiliki akar yang dalam, salah satunya terkait dengan pergeseran kebijakan luar negeri dari negara donor utama.

Amerika Serikat, yang secara historis merupakan donor terbesar bagi ICRC, telah mengurangi kontribusinya.

Penurunan ini mencerminkan tren yang lebih luas di antara pendukung tradisional, seperti Inggris dan Jerman, di mana pemerintah semakin mengalihkan fokus anggaran mereka.

  • Pengaruh Agenda “America First”: Kebijakan luar negeri AS di bawah Presiden Donald Trump telah mengubah prioritas bantuan luar negeri, dengan fokus yang lebih besar pada agenda domestik dan keamanan. Hal ini berdampak langsung pada badan-badan kemanusiaan internasional yang sangat bergantung pada Washington.
  • Prioritas Pertahanan dan Keamanan: Banyak negara donor kini mengalihkan dana publik yang besar menuju belanja pertahanan dan keamanan, sebagai respons terhadap ketidakstabilan geopolitik yang meningkat, seperti konflik di Eropa Timur dan Timur Tengah.
  • Kesenjangan Kebutuhan vs. Sumber Daya: Dengan lebih dari 130 konflik aktif di seluruh dunia, kebutuhan kemanusiaan meningkat drastis, jauh melampaui sumber daya yang tersedia, sehingga setiap pemotongan dana akan mengurangi jumlah bantuan yang dapat diberikan kepada masyarakat yang rentan.

Rincian Restrukturisasi & Fokus Operasi

Berdasarkan Rilis ICRC, pemotongan ini setara dengan menghilangkan sekitar 15% dari total 18.500 karyawan ICRC.

Dari 2.900 posisi yang dipangkas, sekitar 200 di antaranya berada di markas besar ICRC di Jenewa, Swiss, lokasi tempat organisasi ini didirikan pada tahun 1863.

Untuk menghadapi tantangan ini, ICRC akan:

  • Menggabungkan Departemen: Melakukan efisiensi birokrasi dan administrasi di tingkat manajerial.
  • Memperamping Manajemen: Mengurangi pos-pos manajerial untuk mengalihkan sumber daya ke garis depan.
  • Mempertahankan Misi Inti: Tetap memprioritaskan operasi di zona konflik paling kritis. Sekitar sepertiga dari pengurangan staf dicapai melalui pengunduran diri sukarela atau dengan tidak mengisi posisi yang kosong.

“ICRC tetap berkomitmen untuk bekerja di garis depan konflik, di mana hanya sedikit pihak lain yang dapat beroperasi,” tegas Spoljaric.

“Tetapi realitas keuangan memaksa kami membuat keputusan sulit untuk memastikan kami dapat terus memberikan bantuan kemanusiaan yang penting kepada mereka yang paling membutuhkan.”

Meskipun terjadi pemotongan besar, ICRC berjanji akan mempertahankan kehadirannya di beberapa zona konflik terparah, seperti :

  • Sudan
  • Ukraina
  • Palestina
  • Republik Demokratik Kongo

Pemotongan anggaran ICRC menyoroti kegagalan kolektif dunia untuk menyelaraskan pengeluaran militer yang melonjak, dengan dukungan yang setara untuk pencegahan konflik dan perlindungan kemanusiaan, jelas ICRC kepada Al Jazeera.

Jika tren ini berlanjut, konsekuensinya bukan hanya kerugian pekerjaan di Jenewa, tetapi juga kehidupan yang tak terhitung jumlahnya yang akan hilang atau semakin menderita di garis depan, di mana uluran tangan terakhir kini terpaksa ditarik. (YA)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *