Penjualan Kurma di Cirebon Melejit Drastis

Berkah Ramadan, Stok Kampung Arab Ludes.

Cirebon –  Memasuki awal Ramadan 1447 H, kawasan Kampung Arab Panjunan, Kota Cirebon, mendadak berubah menjadi lautan manusia.

Ribuan warga memadati sentra perdagangan ini untuk berburu kurma, tradisi wajib yang memicu lonjakan omzet pedagang hingga lima kali lipat dibandingkan hari biasa pada Senin (2/3/2026).

Fenomena tahunan ini tidak hanya didorong oleh nilai religius, tetapi juga kesadaran masyarakat akan khasiat medis buah asal Timur Tengah tersebut sebagai sumber energi instan setelah seharian berpuasa.

Bagi warga Cirebon dan sekitarnya (Wilayah III), Ramadan belum lengkap tanpa kehadiran kurma. Pantauan di lokasi menunjukkan antrean pembeli yang mengular di sejumlah toko legendaris. Salah satu pembeli, Ikhsan, menyebut kurma sebagai investasi kesehatan sekaligus ibadah.

“Ini menu wajib puasa. Selain bagus buat kesehatan, saya juga ingin mengikuti sunnah Rasulullah saat berbuka. Biasanya buka puasa makan kurma dulu, baru minum air putih,” tutur Ikhsan di sela kesibukannya memilih kurma.

Jenis Sukari dan Ajwa Jadi Rebutan

Tingginya antusiasme warga membawa berkah luar biasa bagi para pedagang di Kampung Arab Panjunan.

Salim, salah satu pemilik toko di kawasan tersebut, mengungkapkan kegembiraannya melihat tren pasar tahun ini yang sangat positif.

Situasi Pasar Kurba Di Kampung Arab cirebon

Menurut Salim, ada beberapa jenis kurma yang menjadi top seller dan paling banyak diburu masyarakat:

  • Kurma Mesir: Populer karena harganya yang terjangkau dengan rasa manis yang pas.
  • Kurma Sukari: Dikenal sebagai “Kurma Raja” karena teksturnya yang lembut dan lumer di mulut.
  • Kurma Ajwa: Menjadi buruan utama bagi mereka yang mencari keberkahan medis dan spiritual (sering disebut kurma Nabi).

“Alhamdulillah, sehari kami bisa melayani ratusan pembeli dan menjual lebih dari lima ton kurma untuk memenuhi permintaan masyarakat,” ungkap Salim dengan wajah sumringah.

Dampak Ekonomi dan Tradisi yang Terjaga

Lonjakan penjualan hingga 500% ini membuktikan bahwa Kampung Arab Panjunan tetap menjadi urat nadi perdagangan kurma di Jawa Barat.

Bagi para pedagang, Ramadan bukan sekadar momen meningkatkan spiritualitas, tetapi juga ladang rezeki yang melimpah seiring terjaganya tradisi konsumsi kurma.

Peningkatan aktivitas ekonomi ini juga berdampak pada sektor lain di sekitar kawasan Panjunan, mulai dari jasa parkir hingga pedagang takjil lainnya, menciptakan ekosistem ekonomi Ramadan yang kuat di Kota Udang. (NR)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *