Kuala Lumpur, Malaysia – Perdana Menteri wanita pertama Jepang, Sanae Takaichi membawa misi besar ke kawasan Asia Tenggara.
Tokyo bersiap untuk secara masif memperdalam kerja sama strategis dengan Malaysia dan ASEAN dalam industri-industri vital seperti semikonduktor (chip) dan kecerdasan buatan (AI).
Langkah ini bukan sekadar urusan dagang biasa, melainkan cerminan fokus baru Tokyo pada keamanan ekonomi dan investasi teknologi bernilai tinggi.
Keputusan ini ditegaskan oleh Duta Besar Jepang untuk Malaysia, Noriyuki Shikata.
“Kami sangat tertarik untuk meningkatkan kerja sama industri kami di sektor-sektor strategis seperti semikonduktor, AI, dan tanah jarang (rare earths).
Takaichi sebelumnya telah menjabat sebagai menteri yang bertanggung jawab atas keamanan ekonomi,” ujar Duta Besar Shikata kepada kantor berita Bernama dalam sebuah wawancara eksklusif menjelang KTT ASEAN ke-47.

Strategi ‘Takaichi Effect’
Penunjukan Sanae Takaichi, 64 tahun, yang mencetak sejarah sebagai PM wanita pertama Jepang, menandai perubahan prioritas dalam kebijakan luar negeri dan ekonomi Tokyo.
Takaichi, yang tiba di Kuala Lumpur untuk menghadiri KTT ASEAN dan melakukan pertemuan bilateral dengan PM Malaysia, Datuk Seri Anwar Ibrahim, membawa agenda yang selaras dengan kerangka Undang-Undang Keamanan Ekonomi baru Jepang.
Inti dari Undang-Undang ini:
- Perlindungan ketat teknologi kritis
- Pengamanan Hak Kekayaan Intelektual (HKI)
- Peningkatan kapasitas industri di negara mitra terpercaya
Inisiatif Jepang ini datang tak lama setelah Menteri Luar Negeri Malaysia, Datuk Seri Mohamad Hasan menyatakan harapan ASEAN agar Jepang memainkan peran yang lebih besar dalam transfer teknologi dan investasi semikonduktor front-end sangat vital bagi rantai pasok global.

Malaysia: “Lembah Silikon Timur”
Bagi Jepang, Malaysia memiliki peran krusial dalam rantai nilai semikonduktor. Dubes Shikata secara khusus menyoroti investasi Jepang yang terus berlanjut di Penang, yang dijuluki “Lembah Silikon dari Timur”.
“Selama lebih dari empat dekade, perusahaan-perusahaan Jepang telah mentransfer teknologi ke Malaysia mulai dari dukungan awal Mitsubishi Motors untuk Proton hingga joint venture Daihatsu dengan Perodua menciptakan lapangan kerja lokal yang terampil dan kapasitas industri jangka panjang,” tambah Shikata.
Selain itu, kerja sama ini juga mencakup ekspansi produsen elektronik utama Jepang, ROHM-Wako Electronics (M) Sdn Bhd, di Kelantan.
Hubungan yang terjalin erat antara kedua negara juga diperkuat oleh peran para alumni Malaysia yang belajar di Jepang dan kini berkontribusi di industri dan universitas lokal.
Transisi Energi Hijau & Keamanan
Selain teknologi tinggi, transisi hijau dan keamanan energi ditetapkan sebagai pilar pertumbuhan bilateral berikutnya.
Jepang melihat Malaysia sebagai kasus percontohan ideal di bawah kerangka Asia Zero Emission Community (AZEC).
Apa Saja Proyek AZEC di Malaysia:
- Proyek biomassa dari limbah sawit.
- Pembangkit listrik bertenaga amonia.
- Inisiatif penangkapan karbon (Carbon Capture and Storage/CCS).
Hampir sepertiga dari 20 nota kesepahaman (MoU) yang baru-baru ini ditandatangani Jepang dengan ASEAN melibatkan Malaysia, memajukan tujuan AZEC untuk dekarbonisasi, pertumbuhan ekonomi, dan keamanan energi secara simultan.
Dubes Shikata menutup pernyataannya dengan pesan utama PM Takaichi kepada ASEAN.
“Pesan utama Perdana Menteri Takaichi kepada ASEAN adalah bahwa Jepang dan ASEAN harus menjadi lebih kuat dan lebih makmur bersama-sama.”
Jepang, sebagai salah satu mitra dagang dan investor terbesar ASEAN, dengan total perdagangan bilateral mencapai US$236,4 miliar tahun lalu, kini bertekad untuk menjadi mitra strategis yang menentukan masa depan ekonomi-teknologi kawasan. (YA)





