Brussels – Pada konferensi pers yang penuh senyum dan tawa lepas, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, mengumumkan rampungnya negosiasi Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA), yang telah berjalan selama satu dekade.
“Hari ini kita telah mencapai sebuah terobosan besar. Setelah sepuluh tahun negosiasi, kita sepakat untuk memiliki perjanjian perdagangan bebas,” kata Prabowo penuh semangat, disambut tepuk tangan para pejabat Uni Eropa dan delegasi Indonesia.
Dari Meja Perundingan ke Panggung Dunia
Perjanjian ini tidak tercipta dalam semalam. Sejak negosiasi dimulai pada 2016, sebanyak 19 putaran perundingan telah digelar dengan berbagai dinamika. Beberapa kali sempat mandek, namun diplomasi dan tekad politik akhirnya membawa kedua pihak pada kata sepakat.
Dalam konferensi pers bersama Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, Presiden Prabowo dengan nada ringan menyampaikan, “Saya bahkan minta maaf karena kunjungan ini dilakukan hari Minggu. Tapi inilah bukti pentingnya hubungan kita dengan Uni Eropa.”

Tak hanya sekadar kesepakatan dagang, IEU-CEPA membuka babak baru kemitraan strategis yang menyentuh:
- Perdagangan barang dan jasa
- Investasi dan alih teknologi
- Keberlanjutan lingkungan
- Pengembangan kapasitas sumber daya manusia
Angka-angka yang Menjanjikan
Menurut studi CSIS (2021) dan Sustainability Impact Assessment Komisi Eropa (2020), manfaat IEU-CEPA bagi Indonesia sangat signifikan:
- PDB Indonesia diproyeksikan naik sebesar 0,19%
- Pendapatan nasional meningkat hingga USD 2,8 miliar
- Ekspor diprediksi melonjak 57,76% hanya dalam tiga tahun setelah implementasi (Sumber: Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, 2025)
“Eropa adalah pemimpin dalam sains, teknologi, dan keuangan. Kita memiliki sumber daya yang krusial. Kemitraan ini adalah kontribusi penting bagi stabilitas ekonomi dan geopolitik dunia,” ujar Prabowo menekankan nilai strategis perjanjian ini.
Strategi Baru di Tengah Ketidakpastian Global
Presiden Prabowo tidak hanya memposisikan IEU-CEPA sebagai instrumen ekonomi, tetapi juga sebagai contoh kerja sama konstruktif di tengah dunia yang penuh ketegangan.

“Saya pikir, di era kebingungan ini, kita memberikan contoh yang baik,” ucap Prabowo sambil tersenyum, disambut tawa para diplomat.
Lebih dari itu, ia menyampaikan harapan agar Uni Eropa memainkan peran lebih besar sebagai mitra kawasan Asia Tenggara.
“Kami ingin melihat Eropa yang lebih kuat dan ingin bekerja sama lebih erat dengan Eropa. Mungkin tidak banyak yang mau mengakuinya secara terbuka, tapi saya katakan dengan jujur,” tambahnya dengan nada tegas namun ramah.
Apa Target Selanjutnya?
Setelah deklarasi rampungnya negosiasi, pemerintah Indonesia menargetkan untuk:
- Memulai proses legalisasi dan ratifikasi dalam waktu dekat
- Penandatanganan resmi implementasi IEU-CEPA di Brussels sebagai simbol keberlanjutan kerja sama
- Pembentukan forum bersama untuk pemantauan dan evaluasi manfaat perjanjian
Presiden Prabowo bahkan sempat berseloroh, “Kalau bisa, penandatanganan berikutnya dilakukan di Brussels lagi—supaya saya bisa kembali ke sini,” ucapnya sambil tertawa.
Bukan Sekadar Perjanjian, Tapi Warisan
Apa yang diumumkan Presiden Prabowo di Brussels bukan hanya berita baik bagi pelaku usaha dan dunia perdagangan. Ini adalah legasi diplomatik dan ekonomi yang akan menjadi bagian dari peta kekuatan global di masa depan.
“Mulai hari ini, tidak ada lagi perbedaan pendapat antara Indonesia dan Uni Eropa terkait perjanjian dagang ini. Saya sangat senang,” kata Prabowo, menutup pernyataannya dengan wajah lega.
Sebagai pemimpin baru Indonesia, Presiden Prabowo Subianto telah membuka jendela baru bagi ekonomi nasional untuk melangkah lebih percaya diri di panggung internasional dengan Eropa sebagai mitra strategis yang kini resmi menggenggam tangan Indonesia. (YA)





