Kab. Bogor — Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto mengingatkan pentingnya sektor perumahan sebagai pondasi utama, bagi kemakmuran rakyat dan mesin penggerak ekonomi.
Dalam acara Akad Massal 26.000 KPR FLPP dan Serah Terima Kunci di Cileungsi, Kabupaten Bogor, Presiden Prabowo tak hanya menyerahkan kunci rumah, tapi juga mengunci visi besar: mewujudkan tiga juta rumah untuk rakyat.
Target tiga juta rumah bukanlah sekadar angka yang dilontarkan tanpa dasar. Presiden Prabowo mengutip wejangan ikonik Bung Karno:

“Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit. Kalau kau tidak sampai, paling sedikit kau akan jatuh di antara bintang-bintang.”
Kutipan ini bukan hanya menjadi penyemangat, tetapi juga landasan filosofis di balik ambisi pemerintahannya.
Ia juga menegaskan, tugas seorang pemimpin adalah berani bermimpi besar dan bekerja keras untuk mewujudkannya.
Misi ini diibaratkan sebagai sebuah perjuangan tanpa henti, di mana setiap hambatan harus dihadapi dengan semangat pantang menyerah.
Jantung Kemiskinan Nasional
Sementara itu Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait atau yang akrab disapa Ara, membeberkan alasan strategis di balik pemilihan Kabupaten Bogor sebagai lokasi akad massal.
Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), Bogor tercatat sebagai wilayah dengan jumlah penduduk miskin ekstrem terbanyak di Indonesia, yakni lebih dari 200.000 jiwa.
“Kami memilih Bogor bukan tanpa alasan. Dari data BPS, jumlah warga yang masuk kategori kemiskinan ekstrem di Bogor paling tinggi secara nasional,” ujar Ara, menyoroti urgensi program perumahan di wilayah ini.
Kualitas Terbaik dan Inspirasi Lokal

Selain faktor kebutuhan, Ara juga menyoroti kualitas perumahan subsidi di Bogor yang sering mendapatkan penghargaan.
Ia bahkan mengisahkan pengembang lokal yang berawal dari pekerja sederhana, dan kini sukses menjadi pengusaha properti berkat program perumahan rakyat.
Kisah ini, menurutnya, menjadi bukti bahwa sektor perumahan bukan hanya menyediakan hunian, tetapi juga menciptakan wirausaha baru dari lapisan bawah.
Pemilihan Bogor juga membawa pesan kuat tentang pemerataan pembangunan.
“Pesan yang ingin kami sampaikan jelas: program rumah subsidi tidak hanya untuk kota besar, tapi juga harus menjangkau daerah dengan tingkat kemiskinan ekstrem tinggi,” tegas Maruarar.
Dengan target penyaluran 350.000 rumah subsidi pada tahun 2025, pemerintah berharap program ini dapat menjadi solusi nyata untuk mengurangi kemiskinan ekstrem dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. (YA)





