Al-Quds, Palestina – Suasana khusyuk menyelimuti kompleks Masjid Al-Aqsa saat ribuan warga Palestina menunaikan salat Tarawih pertama.
Namun, di balik lantunan ayat suci, ketegangan terasa nyata. Kepolisian Israel mengerahkan personel besar-besaran dan memberlakukan pembatasan ketat yang memangkas jumlah jamaah secara drastis di awal bulan suci Ramadhan 1447 H ini.
Langkah ini diambil otoritas Israel dengan alasan keamanan, namun ditentang keras oleh tokoh agama dan aktivis Palestina yang menyebutnya sebagai upaya sistematis untuk membatasi ruang gerak umat Muslim di situs tersuci ketiga dalam Islam tersebut dikutip dari Anadolu.
Pembatasan Ketat
Tahun ini, gerbang Al-Aqsa tidak lagi terbuka lebar bagi semua. Berdasarkan kebijakan terbaru, Israel menerapkan aturan usia yang sangat ketat bagi warga dari Tepi Barat yang diduduki:
- Pria: Hanya diizinkan bagi mereka yang berusia di atas 55 tahun.
- Wanita: Hanya diizinkan bagi mereka yang berusia di atas 50 tahun.
- Pemuda: Puluhan pemuda Palestina dilarang masuk sepenuhnya selama bulan Ramadhan.
- Izin Khusus: Meski kepolisian merekomendasikan 10.000 izin, realita di lapangan menunjukkan akses tetap sulit ditembus bagi mayoritas warga.
Perwira Senior Polisi Israel, Arad Braverman kepada Anadolu menyatakan bahwa pasukan akan bersiaga “siang dan malam” di seluruh kompleks dan area Kota Tua Al-Quds (Yerusalem Timur) untuk menjaga ketertiban.

Penangkapan Imam & Tekanan terhadap Wakaf
Sementara itu kisah pilu mewarnai malam-malam menjelang Ramadhan. Sheikh Mohammed al-Abbasi, Imam Masjid Al-Aqsa, ditangkap oleh pasukan Israel di dalam pelataran masjid pada Senin malam.
Meski kemudian dibebaskan, ia dijatuhi sanksi larangan memasuki kompleks Al-Aqsa selama satu minggu sebuah keputusan yang dapat diperpanjang.
“Ini sangat menyedihkan,” ujar Sheikh al-Abbasi. Penangkapan ini terjadi tepat saat ia baru saja kembali bertugas setelah setahun pemulihan akibat kecelakaan mobil yang serius.
Tak hanya individu, operasional Waqf Islam (lembaga yang dikelola Yordania untuk mengurus Al-Aqsa) juga dilumpuhkan. Laporan menyebutkan:
- 33 staf Waqf dilarang masuk ke kompleks sejak seminggu sebelum Ramadhan.
- Pemasangan struktur peneduh matahari bagi jemaah dihalangi.
- Penyediaan klinik medis darurat untuk jemaah juga mendapat hambatan dari otoritas setempat.
Meski ribuan orang berhasil masuk untuk Tarawih, jumlah ini jauh merosot dibanding tahun-tahun sebelumnya yang biasanya mencapai ratusan ribu jemaah.

Euro-Mediterranean Human Rights Monitor mencatat bahwa sejak awal 2026, telah terbit lebih dari 250 perintah pelarangan masuk ke Al-Aqsa bagi warga Palestina. Situasi ini memicu kecaman luas:
- Hamas: Mendesak Liga Arab dan OKI untuk mengambil tindakan tegas terhadap apa yang mereka sebut sebagai proyek “Yudaisasi” Al-Quds.
- PBB: Sebelumnya telah memperingatkan bahwa pembatasan di tempat suci sangat “kontraproduktif” dan berisiko menyulut konflik yang lebih luas.
- Hukum Internasional: Mahkamah Internasional (ICJ) pada Juli 2024 telah menyatakan bahwa pendudukan Israel atas wilayah Palestina adalah ilegal.
Ramadhan seharusnya menjadi bulan kedamaian dan refleksi. Namun, bagi warga Palestina di Al-Quds, setiap sujud di bawah kubah emas Al-Aqsa kini harus dilalui dengan melewati barikade besi dan tatapan tajam petugas keamanan.
Di tengah segala keterbatasan, semangat mereka untuk menjaga identitas suci kota ini tidak kunjung padam.
Doa-doa yang dipanjatkan di pelataran Al-Aqsa malam ini bukan hanya tentang ibadah, tapi juga tentang keteguhan hati sebuah bangsa yang merindukan kebebasan beragama tanpa bayang-bayang senjata.(NR)





