KYIV, Ukraina – Langkah strategis yang penuh perhitungan dilakukan oleh pejabat tinggi Ukraina di Washington.
Mereka mengadakan serangkaian pertemuan tertutup dengan dua raksasa industri pertahanan Amerika Serikat, Lockheed Martin dan Raytheon,
hanya beberapa hari sebelum Presiden Volodymyr Zelenskyy dijadwalkan bertemu dengan Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih.
Pertemuan ini, yang diungkap oleh seorang pejabat senior Kyiv , menggarisbawahi upaya mendesak Ukraina untuk mendapatkan sistem persenjataan yang lebih canggih, seperti yang dikutip oleh AP News.
terutama yang memiliki kemampuan serangan jarak jauh, guna menahan gempuran perang skala penuh Rusia yang dimulai pada 24 Februari 2022.
Kebutuhan Senjata Canggih dan Peran Tomahawk
Delegasi yang dipimpin oleh Kepala Kantor Kepresidenan Ukraina, Andrii Yermak, dan Perdana Menteri Yuliia Svyrydenko, bertemu langsung dengan perwakilan dari kedua produsen senjata terkemuka tersebut.
“Kerja sama negara kami terus berkembang,” tulis Yermak dalam unggahan Telegram-nya, meskipun ia tidak merinci topik spesifik yang dibahas.
Namun, isyarat jelas datang dari penasihat senior Yermak, Mykhailo Podolyak, melalui platform X (sebelumnya Twitter) menyatakan bahwa Ukraina secara aktif mencari rudal jelajah, sistem pertahanan udara, dan perjanjian produksi bersama drone dari Amerika Serikat.Seperti :
- Raytheon memproduksi sistem pertahanan udara Patriot, yang terbukti vital, serta rudal jelajah Tomahawk.
- Lockheed Martin juga memproduksi berbagai sistem senjata canggih yang sangat dibutuhkan Kyiv.
Para pejabat Kyiv sangat antusias untuk mendapatkan rudal Tomahawk. Rudal ini dipercaya bisa menjadi “pengubah permainan” karena memiliki daya hancur besar dan akurasi tinggi yang memungkinkan Ukraina menyerang sasaran jauh di dalam wilayah Rusia, termasuk Moskow.
Tekanan AS dan Peringatan Putin
Permintaan Tomahawk ini menjadi isu sensitif menjelang pertemuan Oval Office antara Trump dan Zelenskyy. Washington selama ini ragu-ragu karena khawatir pengiriman rudal jarak jauh dapat meningkatkan eskalasi perang dan memperdalam ketegangan antara AS dan Rusia.
Namun, dinamika berubah setelah Presiden Trump mengeluarkan peringatan keras pada Minggu lalu kepada Rusia. Trump mengancam bahwa ia “mungkin mengirim rudal Tomahawk“ ke Ukraina jika Moskow tidak segera mengakhiri perangnya.
“Jika perang ini tidak berakhir, jika tidak ada jalan menuju perdamaian dalam waktu dekat, maka Amerika Serikat, bersama sekutu kami, akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk membebankan biaya atas agresi berkelanjutan Rusia,” kata Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, kepada para pendukung Barat Ukraina di markas NATO di Brussels.
Di sisi lain, Presiden Rusia Vladimir Putin bersikeras bahwa Tomahawk “tidak akan mengubah situasi di medan perang”.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, memperingatkan bahwa keputusan Washington mengirim Tomahawk ke Kyiv akan menyebabkan “kerusakan kolosal pada prospek normalisasi hubungan antara Rusia dan Amerika Serikat.”
Proyek Energi dan Serangan Balik
Di tengah pertemuan senjata, Perdana Menteri Svyrydenko juga bertemu dengan Menteri Keuangan AS Scott Bessent untuk menyelesaikan detail Dana Reinvestasi AS-Ukraina.
Ini adalah bagian dari kesepakatan yang memberikan akses Amerika Serikat ke sumber daya mineral Ukraina yang melimpah.
Secara bersamaan, serangan balasan antara kedua negara terus berlanjut. Ukraina berupaya keras menghantam pasokan bahan bakar dan pendapatan minyak Rusia, sementara Rusia berusaha melumpuhkan jaringan listrik Ukraina menjelang musim dingin.
Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina melaporkan serangan semalam di terminal minyak di Feodosia, Semenanjung Krimea yang dicaplok Rusia, yang merusak 16 reservoir bahan bakar.
Sebagai balasan, Naftogaz Group, perusahaan minyak dan gas terbesar Ukraina, menyatakan Rusia menyerang salah satu pembangkit listrik termalnya, memicu pemadaman listrik di setidaknya dua wilayah Ukraina.(YA)





