Siapa HRANA? Sumber Data Kematian Protes Iran

Lembaga Aktivis di AS Penantang Klaim Teheran

Washington, Amerika Serikat— Di tengah pemadaman internet total di Iran, angka-angka kematian pengunjuk rasa terus mengalir ke meja redaksi media internasional.

Salah satu sumber paling vokal adalah Human Rights Activists News Agency (HRANA), sebuah lembaga yang kini menjadi sorotan karena keberaniannya menantang narasi resmi pemerintah Iran.

Hingga Rabu (14/01/2026), HRANA melaporkan sedikitnya 2.615 orang tewas sejak protes pecah pada akhir Desember 2025.

Angka ini jauh melampaui data televisi pemerintah Iran yang hanya menyebutkan sekitar 300 korban jiwa dari kalangan aparat dan sipil.

Metode di Balik Angka

Berbasis di Amerika Serikat, HRANA mengklaim bekerja dengan jaringan informan di dalam negeri Iran.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi-Foto: Dok. Al Jazeera

Mereka mendokumentasikan pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di balik “tembok” pemadaman internet yang kini memasuki hari kedelapan kutip Al Jazeera.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam wawancara dengan Al Jazeera, menyebut data tersebut sebagai taktik politik. “Saya membantah angka-angka itu. Itu adalah kampanye misinformasi untuk mencari alasan agresi terhadap Iran,” tegasnya.

Berikut data yang dirilis HRANA:

  • Total Korban: 2.615 orang tewas (termasuk 2.435 pengunjuk rasa dan 153 aparat).
  • Penangkapan: Diperkirakan 18.470 orang ditahan dalam 617 aksi protes di 187 kota.
  • Verifikasi: HRANA mengklaim menggunakan sumber primer, namun merahasiakan identitas mereka demi keamanan.

Berdasarkan laporan yang dihimpun Al Jazeera, HRANA tidak lahir di Amerika. Organisasi induknya, Human Rights Activists in Iran (HRAI), didirikan pada 2005 di Teheran sebagai gerakan bawah tanah untuk membantu tahanan politik.

Namun, tekanan militer pada Maret 2010 memaksa para pemimpinnya melarikan diri dan mendaftarkan organisasi ini sebagai LSM nirlaba di AS.

Foto: Dok. Web.HRANA

Keputusan untuk berbasis di luar negeri memberikan mereka kebebasan operasional, namun juga memicu tuduhan dari Teheran bahwa mereka adalah alat kepentingan Barat.

Meski demikian, data HRANA tetap menjadi rujukan utama dunia karena konsistensi mereka dalam merilis detail nama, usia, dan foto korban.

Tantangan Validitas Data

Verifikasi independen tetap menjadi tantangan terbesar bagi jurnalis global. Organisasi lain, Iran Human Rights (IHR) yang berbasis di Norwegia, bahkan melaporkan angka kematian yang lebih tinggi, yakni 3.428 orang.

Lembaga pengawas internet NetBlocks mengonfirmasi bahwa sulitnya memantau situasi secara real-time disebabkan oleh pemutusan akses komunikasi yang sistematis oleh otoritas Iran.

Hal ini menciptakan celah informasi yang lebar antara klaim aktivis dan pernyataan resmi pemerintah. (YA)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *