Suara Para Pendidik di Tengah Perang Ukraina: “Generasi Ini Tak Boleh Hilang”

Kisah Pilu Siswa Ukraina, Belajar di Ruang Bawah Tanah Demi Pendidikan dan Masa Depan

Bobryk, Ukraina — Tahun ajaran baru seharusnya dipenuhi tawa dan semangat, namun bagi para siswa di desa Bobryk, Ukraina, hari pertama sekolah mereka dimulai di sebuah ruang bawah tanah.

Bukan karena keinginan, tetapi demi keamanan di bawah bayang-bayang perang dengan Rusia yang tak kunjung usai.

Sudah tiga tahun berlalu, dan ruang-ruang kelas di negara ini dipindahkan ke bawah tanah agar kegiatan belajar-mengajar tetap berjalan.

Sejak perang meletus pada Februari 2022, sekolah-sekolah di Ukraina berjuang menemukan cara untuk memastikan anak-anak tetap mendapatkan pendidikan.

Di Bobryk, sebuah desa di wilayah Sumy yang tak jauh dari garis depan, salah satu sekolah memindahkan seluruh ruang kelasnya ke ruang bawah tanah.

Langkah ini diambil agar para siswa yang pendidikannya sudah terganggu akibat pandemi COVID, bisa kembali belajar secara langsung.

“Kami harus melakukan segalanya agar generasi ini tidak hilang,” kata Kepala Sekolah, Oleksii Korenivskyi. “Waktu adalah satu-satunya hal yang tidak bisa diganti. Ini adalah masa depan kita, dan kita harus memberikan segalanya.”

Dua tahun lalu, sekolah ini dipindahkan ke bawah tanah karena seringnya alarm serangan udara yang bisa berbunyi hingga 20 jam, melumpuhkan seluruh aktivitas belajar.

Foto : Dok. AP News

Satu-satunya pilihan adalah berlindung sambil tetap melanjutkan pelajaran. Ruang bawah tanah dari bangunan administrasi yang tidak pernah dirancang sebagai sekolah, disanalah ruang kelas berjejer memenuhi lorong sempit.

Beberapa hanya dipisahkan oleh lembaran plastik tebal, tanpa jendela atau pintu. Selama pelajaran, suara anak-anak berbaur menjadi satu.

Pada Senin (01/09/25) kemarin, banyak dari mereka datang mengenakan baju tradisional berbordir, atau vyshyvanka. Meja-meja guru dipenuhi bunga segar, hadiah dari murid-murid sebagai tradisi tahun ajaran baru.”

Ruang bawah tanah yang dulunya gelap dan lembap kini diperbarui dengan ventilasi, listrik, dan lantai baru.

Ini adalah salah satu contoh bagaimana rakyat Ukraina beradaptasi demi melanjutkan hidup, di tengah perang yang tak berkesudahan.

Kisah di Balik Dinding Bawah Tanah

Bobryk, dengan populasi sekitar 2.000 jiwa, memiliki sekolah kecil dengan kelas-kelas yang berisi sekitar 10 anak. Tahun ini, hanya tujuh siswa yang duduk di kelas satu.

Dalam pelajaran pertama, guru membuka buku teks yang menampilkan peta utuh Ukraina, tanpa tanda wilayah yang diduduki. Ia menunjuk ke utara, ke wilayah Sumy, tempat Bobryk berada.

“Wilayah kita berada di samping Rusia,” kata sang guru kepada AP News.

Sekolah ini memiliki lebih dari 100 siswa, meskipun sekitar 10% telah pergi sejak perang dengan Rusia, dan lebih banyak lagi yang terus berdatangan. Bagi sekolah kecil ini, setiap kehilangan sangat terasa.

Foto: Dok. AP News

Salah satu siswa yang bersiap pergi adalah Vlada Mykhailyk, yang akan pindah ke Austria bersama adiknya yang berusia 11 tahun. Ibunya memutuskan untuk pindah karena kondisi sudah terlalu berbahaya.

“Kami hidup dengan baik, tapi kadang-kadang sedih. Kami sering mendengar Shahed (drone) dan ledakan,” tutur Vlada. Ia menambahkan, belajar di bawah tanah sudah menjadi rutinitas.

“Jika harus memilih antara daring atau di ruang bawah tanah, ruang bawah tanah lebih baik.” Vlada mengaku enggan meninggalkan kotanya dan lebih memilih menyelesaikan sekolah bersama teman-temannya.

Di salah satu ruang kelas junior, perang bukanlah topik utama di hari pertama.

Ketika guru bertanya apa yang dilakukan siswa selama musim panas, jawaban-jawaban mereka sangat normal, naik sepeda, membantu orang tua, bermain dengan teman baru.

Lalu, sebuah suara kecil dari kelas tiga menambahkan, “Sebuah drone Shahed dicegat di atas kami dan ada serpihannya.”

“Semua ini karena perang,” jawab sang guru dengan lembut.

Karena ruang bawah tanah yang terbatas, sekolah beroperasi dalam dua shif dengan waktu istirahat yang dipersingkat.

Bangunan sekolah asli adalah sebuah bangunan indah dari awal abad ke-20 kini kosong, ruang kelasnya yang luas menanti siswa untuk kembali saat situasi keamanan membaik.

Eva Tui yang memulai tahun ketiga dalam kelas bawah tanah, mengingat ruang kelasnya yang dulu hanya berjarak 400 meter, yang terasa lebih hangat dan nyaman di musim dingin.

“Kami di sini karena sedang masa perang dan banyak sirene,” ujar Eva. Ia menambahkan bahwa dirinya terjaga semalaman karena antusias menyambut tahun ajaran baru.

Harapan Eva untuk tahun ini sangat sederhana: “Bisa kembali ke ruang kelas. Itu terasa lebih seperti rumah.”(YA)

Baca juga :

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *