Tarif 50% Tembaga: Gebrakan Trump Yang Kembali Mengguncang Industri Global

Harga Melonjak, Pasar Panik, dan Mitra Dagang Bereaksi, Dibalik Proteksionis Trump, Ada Ambisi Menguasai Logam Dunia

Washington, AS – Dalam sebuah rapat kabinet di Gedung Putih, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump melontarkan pernyataan mengejutkan.

“Saya yakin tarif untuk tembaga akan kami tetapkan sebesar 50 persen,” ujar Trump dengan mantap, seperti dikutip dari CNBC (08/07/25).

Tak butuh waktu lama, pasar langsung bereaksi. Harga Comex Copper Futures, yang diperdagangkan di New York melonjak lebih dari 12 persen, menyentuh rekor tertinggi. Aksi pasar yang mencerminkan kekhawatiran dan ketidakpastian.

Mengapa Trump Incar Pajak Tembaga ?

Tembaga bukan sekadar logam merah. Ia adalah nadi dari revolusi energi bersih, tulang punggung militer modern, dan darah bagi dunia elektronik.

Dari kendaraan listrik (EV), jaringan listrik, pembangunan gedung, hingga peralatan militer semuanya butuh tembaga.

Namun, AS hanya memproduksi setengah dari kebutuhan tembaga tahunannya. Sisanya diimpor, terutama dari Chile, Kanada, dan Meksiko.

Menurut data US Census Bureau (2024), ketiga negara tersebut mendominasi pasokan tembaga, logam paduan, dan produk turunannya ke AS.

Langkah Trump merupakan kelanjutan dari penyelidikan Section 232 yang diumumkan pada Februari lalu, yang memungkinkan pemerintah mengkaji apakah impor tembaga mengancam keamanan nasional.

Namun ternyata penyelidikan ini rampung jauh lebih cepat dari tenggat November.

Dikutip dari CNBC, Howard Lutnick, Sekretaris Perdagangan AS mengatakan bahwa, “Idenya adalah membawa pulang tembaga, membawa kembali kemampuan memproduksi tembaga, dan memperkuat industri strategis AS.”

Lutnick menambahkan kebijakan tarif ini kemungkinan besar akan diberlakukan paling lambat pada 1 Agustus 2025, dan Trump akan merinci kebijakan tersebut melalui akun media sosial pribadinya, Truth Social.

Efek Domino: Pasar, Industri, dan Politik

Beberapa poin penting dari dampak langsung kebijakan ini adalah :

  • Saham Freeport-McMoRan, produsen tembaga terbesar AS, melonjak hampir 5%.
  • Proyek tambang besar seperti Resolution Copper (Arizona) dan Pebble Mine (Alaska) tetap menghadapi tantangan perizinan dan penolakan publik.
  • Reaksi dari negara mitra—Chile, Kanada, Meksiko—masih minim, namun kemungkinan besar akan memicu gesekan diplomatik karena mereka memiliki perjanjian perdagangan bebas dengan AS.

Banyak analis justru skeptis terhadap dampak positif jangka panjang dari tarif ini. Ole Hansen, Kepala Strategi Komoditas di Saxo Bank menyebut bahwa lonjakan harga saat ini hanya bersifat sementara.

“AS telah mengimpor setahun penuh kebutuhan tembaga hanya dalam enam bulan terakhir. Persediaan lokal saat ini berlimpah, jadi lonjakan harga kemungkinan akan segera terkoreksi,” ujarnya kepada Reuters.

Sementara itu, National Mining Association memilih bungkam, menunggu kejelasan lebih lanjut. American Critical Minerals Association pun belum memberikan tanggapan resmi.

Pernyataan Trump bukan sekadar kebijakan ekonomi, melainkan sinyal keras bahwa Amerika Serikat bersiap mengambil alih kendali logam strategis dunia.

Namun langkah ini penuh resiko, pasar bisa terguncang, hubungan dagang bisa retak, dan pelaku industri lokal pun belum tentu siap.

Di tengah suhu politik yang memanas menjelang Pilpres , Trump tampaknya kembali memanfaatkan agenda nasionalisme ekonomi sebagai alat kampanye kali ini, lewat tembaga. Apakah ini akan menjadi langkah jitu atau blunder besar ? (YA)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *