Kab. Tangerang – Bayangkan sebuah kota yang tidak lagi dibangun dari semen dan baja, melainkan dari data, ide, dan kurasi intelektual.
Di tengah hiruk-pikuk Jakarta, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Digital Hub (D-Hub SEZ BSD City) sedang melakukan sesuatu yang radikal: mereka sedang “menginstal” sistem operasi baru bagi pendidikan Indonesia.
Kehadiran delegasi puluhan universitas ternama di Inggris Januari lalu, bukanlah sekadar kunjungan diplomatik.
Itu adalah momentum di mana salah satu standar akademik tertua di dunia, Inggris, bertemu dengan ekosistem digital ambisius di Asia Tenggara.
Global & Local “Sandbox”
Bagi para akademisi Inggris, Digital Hub adalah sebuah sandbox (ruang bermain) yang sempurna. Summer Xia, Country Director Indonesia & ASEAN British Council, melihat ini sebagai harmoni antara tradisi dan ambisi.
“BSD City itu sangat established, hijau, dan punya energi yang menular. D-Hub sudah menarik magnet teknologi seperti Apple, dan itu adalah fondasi ‘emas’ bagi kemitraan Inggris. Dengan status KEK, ada tax holiday dan insentif yang membuat universitas Inggris merasa ‘pulang ke rumah’ namun dengan peluang masa depan yang jauh lebih besar,” ungkap Summer.

Daya tarik ‘pulang ke rumah’ ini kemudian bersenyawa dengan dinamika lapangan, yang meruntuhkan sekat-sekat tradisional antara kampus dan industri. Pendidikan di masa lalu terjebak dalam ruang kelas yang statis. Namun, di Digital Hub, pendidikan bersifat liquid. Professor Dennis Wong dari Newcastle University terkesima dengan kecepatan evolusi kawasan ini.
“Pesan utama saya adalah kecepatan. BSD City telah berevolusi dari sekadar tempat tinggal menjadi ekosistem inovasi kelas dunia. Saat Anda punya Apple, Microsoft, dan Monash dalam satu radius jalan kaki, Anda menciptakan sinergi live-work-learn yang tidak dimiliki kota lain di kawasan ini. KEK adalah kunci yang membuka pintu menjadi pusat digital regional,” jelasnya.
Menampung Ambisi Presiden
Di balik layar, pemerintah sedang merajut regulasi agar ambisi besar ini tidak tersangkut birokrasi. Bambang Wijanarko dari Dewan Nasional KEK menekankan bahwa fleksibilitas adalah mata uang baru.
“Sektor kesehatan dan edukasi adalah pemain pembuka yang progresnya luar biasa. Kita bicara soal klinik standar internasional dan kampus-kampus elit. Arahan Presiden sangat jelas: kita ingin universitas Inggris masuk, dan Digital Hub adalah wadah yang paling siap untuk menampung itu semua,” ujar Bambang.
Di puncak transformasi ini, CEO Digital Tech Ecosystem & Development Sinar Mas Land, Irawan Harahap melihat Digital Hub sebagai sebuah manifesto dan kurasi pusat gravitasi baru.
“Sudah saatnya kita berhenti berpikir tentang kota satelit yang pasif. Digital Hub sebagai Social and Technology OS, yang menyatukan kurikulum dunia dengan realita industri secara real-time. Sebuah Intellectual Frontier; garis depan baru di mana teori akademik global bertemu ekosistem digital yang lapar akan solusi.”
Irawan menambahkan, status KEK hanyalah instrumen, tujuan akhirnya adalah menciptakan sebuah ‘Knowledge Hub’ di mana setiap interaksi antara mahasiswa, raksasa teknologi, dan kebijakan pemerintah melahirkan dampak yang permanen bagi generasi mendatang.

Digital Hub “The Next Frontier”
- Algoritma Kebijakan: Status KEK bertindak seperti percepatan hardware, memberikan kemudahan pajak dan regulasi yang tidak ada di tempat lain.
- High-Density Talent: Pertemuan antara raksasa teknologi (Apple/Microsoft/dll) dengan akademisi top dunia menciptakan “reaktor fusion intelektual” bagi lahirnya inovasi radikal.
- Green-Tech Integration: BSD City membuktikan bahwa teknologi tinggi tidak harus mengorbankan hijaunya lingkungan, sebuah nilai yang sangat dihargai oleh mitra Eropa.
Jika dulu anak bangsa bermimpi untuk melihat London, kini London yang bisa datang dan menetap di BSD City.
Kolaborasi transnasional ini bukan lagi soal memindahkan kurikulum, tapi soal menyatukan dua dunia untuk menciptakan satu masa depan.
Digital Hub kini bukan lagi sekadar alamat di peta, ia adalah alamat masa depan pendidikan Indonesia. (*)
Baca juga :





