Paris, Prancis – Tour de France 2025 siap mengguncang dunia balap sepeda. Dalam edisi spesial perayaan 50 tahun sejak garis finish pertama di Champs-Élysées (1975–2025), penyelenggara menjanjikan rute yang bukan hanya spektakuler, tetapi juga penuh jebakan teknis, tantangan geografis, dan potensi kejutan besar hingga etape terakhir.
Dengan 21 etape sepanjang 3.492 kilometer (data resmi dari Tour de France – ASO), para pebalap akan memulai perjalanan dari Lille pada 5 Juli dan menutupnya secara ikonik di Paris pada 27 Juli. Dari lintasan berangin di utara Prancis, lereng ganas di Pegunungan Alpen dan Pyrenees, hingga tebing legendaris Mont Ventoux, Tour kali ini punya semua elemen klasik balap sepeda dan beberapa kejutan baru.
Stage 1: Lille Métropole ke Lille Métropole (185km)

Foto: Tim de Waele
Lintasan datar yang tampaknya jinak bisa berubah jadi mimpi buruk jika angin barat menerpa. Lebih dari 140 km potensi crosswind membuat pebalap seperti Jasper Philipsen dan Tim Merlier harus waspada. Etape pembuka, tapi tekanan sudah maksimum.
Stage 2: Lauwin-Planque ke Boulogne-sur-Mer (212km)
Tiga tanjakan curam di 30 km terakhir menjanjikan perpecahan di peloton. Nama-nama seperti Mathieu van der Poel dan Wout van Aert disebut-sebut paling cocok. Untuk para kandidat juara seperti Tadej Pogacar, ini adalah etape bertahan hidup pertama.

Stage 3: Valenciennes ke Dunkirk (178km)
Sprint massal kemungkinan besar terjadi, namun angin sisi tetap jadi faktor penentu. Di sinilah para sprinter yang belum mencetak kemenangan mulai dihitung.
Stage 5: Caen ke Caen (33km)
Ini etape yang ditunggu para spesialis seperti Filippo Ganna (Ineos Grenadiers). Trek datar dan panjang menjanjikan pergerakan signifikan di klasemen umum.
Stage 12: Auch ke Hautacam (181km)
Dengan pendakian legendaris seperti Col du Soulor dan Hautacam, etape ini bisa menentukan siapa yang masih punya harapan untuk mengenakan maillot jaune (jersey kuning) di Paris.
Stage 16: Montpellier ke Mont Ventoux (172km)
Lereng sepanjang 22 km menuju puncak “Giant of Provence” jadi ladang tempur antara Pogacar vs Vingegaard. Ini bukan hanya tentang kekuatan, tapi juga strategi dan pengalaman.
Stage 21: Mantes la Ville ke Paris Champs-Élysées (120km)
Untuk merayakan ulang tahun ke-50 finis di Champs, tahun ini rutenya dibuat berbeda: tiga putaran di Champs-Élysées lalu… tiga kali mendaki Butte Montmartre! Ini adalah perubahan besar yang bisa menjadikan etape terakhir sebagai penentu jika selisih waktu masih ketat.

Menurut Christian Prudhomme, direktur Tour de France, “Kami ingin menggabungkan sejarah dan kejutan. Montmartre memberi sentuhan Paris yang berbeda – lebih ikonik, lebih emosional.” kutip ASO pada acara Konferensi Pers
Seementara itu Bernard Hinault, juara lima kali Tour, dalam wawancara dengan L’Équipe, menyebut Tour 2025 sebagai “kombinasi klasik dan modern paling cerdas.” Ia memperingatkan bahwa “Etape 16 dan 18 akan jadi penentu, tapi jangan lupakan bahaya angin di minggu pertama.”
Sedangkan Matthew Stephens, analis Eurosport dan mantan pebalap profesional, menyatakan, “Kalau Pogacar dan Vingegaard masih bersaing ketat sampai Paris, maka tahun ini kita bisa melihat salah satu finis paling dramatis dalam sejarah Tour.”
Dengan variasi medan yang luar biasa dari dataran yang bisa jadi jebakan angin, tanjakan eksplosif, hingga pendakian panjang yang melelahkan Tour de France 2025 adalah perpaduan antara nostalgia dan inovasi.
Apakah Pogacar akan merebut kembali kejayaannya? Apakah Van der Poel atau Alaphilippe mampu merebut etape spektakuler? Atau justru akan ada pahlawan baru dari tim-tim luar radar? (YA)





