Tradisi Ramadan Unik di Negara Seribu Wali

Rahasia Tarawih dua sesi dan lezatnya Sup Harirah khas Maroko.

Rabat, Maroko – Masyarakat Maroko merayakan bulan suci Ramadhan dengan perpaduan spiritualitas yang mendalam dan tradisi kuliner yang khas.

Sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim penganut Madzhab Maliki, Maroko tidak hanya dikenal sebagai pusat ilmu pengetahuan Islam melalui tokoh seperti Ibnu Asyir dan Al-Shanhaji, tetapi juga melalui ritme ibadah unik yang membagi salat Tarawih menjadi dua sesi hingga menjelang Subuh.

Maroko bukan sekadar titik di peta Afrika Utara; ia adalah jantung peradaban Islam yang kokoh. Dikenal sebagai “Negara Seribu Wali”, aura spiritual terasa kental di kota-kota bersejarah seperti Fez, Meknes, hingga Marrakesh.

Negeri ini merupakan tanah kelahiran para ulama besar. Sebut saja Abdul Wahid Ibnu Asyir yang kitabnya menjadi pegangan dasar fikih, serta Abu Abdillah Muhammad bin Daud Ash-Shanhaji, sang penulis kitab Al-Jurumiyah yang hingga kini menjadi rujukan wajib studi nahwu di pesantren-pesantren Indonesia.

Sup Harirah Hingga Teh Mint

Saat matahari terbenam di ufuk barat, suasana kota seketika berubah. Meja makan di setiap rumah penduduk mulai dipenuhi dengan aroma rempah yang menggugah selera. Berbuka puasa di Maroko adalah sebuah ritual kehangatan keluarga.

Foto: Moroccanmusthaves

Beberapa menu takjil wajib yang selalu hadir di meja makan antara lain:

  • Sup Harirah: Sup kental kaya rasa yang terbuat dari campuran tepung, kacang adas, kacang hamus (chickpeas), dan sariyah (sejenis mi), dengan aroma daun ketumbar yang segar.
  • Chubakiyah: Kue manis berbahan tepung gandum dan madu, yang teksturnya memanjakan lidah.
  • Kurma dan Telur Rebus: Pelengkap nutrisi yang wajib ada di setiap piring saji.
  • Syai Na’na (Teh Mint): Minuman ikonik Maroko yang disajikan panas dengan aroma mint yang menenangkan, mendampingi pilihan lain seperti kopi krim atau jus jeruk.

Tradisi Tarawih Dua Putaran

Berdasarkan Pantaua PPI Maroko Salah satu keunikan paling menonjol di Maroko adalah manajemen ibadah Tarawihnya.

Berbeda dengan banyak negara lain, masjid-masjid di Maroko menerapkan sistem dua putaran yang terjadwal rapi.

Foto: Maroco kuliner
  1. Putaran Pertama: Kekuatan Lantunan Merdu

Sesaat setelah salat Isya dan Ba’diyah, jamaah melaksanakan 8 rakaat pertama. Meski jumlahnya terdengar sedikit, durasinya terasa panjang karena Imam biasanya membacakan ayat-ayat Al-Quran dengan sangat telaten.

Suara merdu para hafiz di Maroko dikenal mampu “menyihir” jamaah, membuat masjid tetap penuh sesak oleh pemuda dan lansia yang memahami kedalaman makna tiap ayat.

  1. Putaran Kedua: Mengetuk Pintu Langit Sebelum Subuh

Tradisi unik berlanjut satu jam sebelum azan Subuh. Setelah sahur, masyarakat kembali berbondong-bondong ke masjid untuk menyelesaikan sisa juz Al-Quran dalam salat Tarawih putaran kedua.

Targetnya jelas: khatam 30 juz selama bulan Ramadhan. Pemandangan sebelum fajar di masjid-masjid Maroko pun terlihat seramai suasana setelah Isya.

Fenomena penuhnya masjid oleh anak muda di Maroko bukanlah kebetulan. Hal ini merupakan buah dari didikan orang tua yang menanamkan kecintaan pada ibadah sejak kecil.

Mereka meyakini bahwa setiap langkah menuju masjid, sejauh apa pun jaraknya, adalah tabungan pahala yang dilipatgandakan di bulan suci.

Perpaduan antara suara imam yang syahdu, pemahaman maknawi terhadap Al-Quran, dan keteguhan tradisi menjadikan Ramadhan di Maroko sebuah pengalaman yang mempesona—seolah membawa siapa pun yang merasakannya selangkah lebih dekat ke suasana surgawi.

Refleksi dari Negeri Maghribi

Ramadhan di Maroko mengajarkan kita bahwa ibadah bukan sekadar rutinitas, melainkan sebuah seni menghidupkan malam dengan cinta dan ilmu.

Dari semangkuk Harirah hingga sujud panjang di sepertiga malam terakhir, Maroko membuktikan bahwa tradisi yang dijaga dengan ilmu akan melahirkan peradaban yang tak lekang oleh waktu.(NR)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *