Jakarta – Jangan kaget kalau sebentar lagi Indonesia bakal jadi kiblat teknologi di Asia!
Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid dengan penuh semangat menyatakan bahwa Indonesia siap mengambil peran sentral dalam transformasi digital di kawasan ini.
Caranya ? Lewat pengembangan kecerdasan artifisial (AI) yang nggak cuma canggih, tapi juga inklusif, etis, dan pastinya berpihak pada kesejahteraan rakyat.
Dalam pidatonya yang membakar semangat di Asia Economic Summit yang digelar di Jakarta pada Kamis (26/06/25), Meutya Hafid dengan yakin menyampaikan bahwa AI punya potensi besar buat mengubah berbagai sektor di Indonesia.
Dengan strategi yang tepat dan visi yang kuat, Indonesia nggak cuma bisa jadi pemain kunci di dunia digital, tapi juga memimpin arah transformasi digital di seluruh Asia melalui AI!
“Teknologi ini bukan lagi pilihan bagi Indonesia, kami percaya bahwa Indonesia juga harus mengambil peran, baik melalui adaptasi maupun memimpin arah transformasi digital di kawasan kita,” tegas Meutya dalam Keterangan Pers Kemkomdigi.
Lima Sektor Prioritas AI Indonesia
Pemerintah Indonesia nggak main-main soal pengembangan AI ini. Mereka udah menetapkan lima sektor prioritas yang bakal jadi fokus utama pemanfaatan AI, yaitu :
- Kesehatan: Membuat layanan kesehatan lebih efisien, personal, dan mudah diakses.
- Pendidikan Talenta Digital: Mencetak generasi muda yang melek teknologi dan ahli di bidang digital.
- Reformasi Birokrasi: Meningkatkan efisiensi dan transparansi pelayanan publik.
- Pengembangan Kota Cerdas: Mewujudkan kota-kota yang lebih nyaman, aman, dan berkelanjutan dengan bantuan teknologi.
- Ketahanan Pangan: Meningkatkan produktivitas pertanian dan menjaga ketersediaan pangan.
Untuk mewujudkan visi ini, Indonesia juga sedang menyusun Peta Jalan Nasional AI (Roadmap). Langkah strategis ini melibatkan kolaborasi dari nggak kurang 39 kementerian/lembaga serta berbagai pihak terkait lainnya.
Tujuannya jelas, yaitu menciptakan pedoman resmi untuk membangun ekosistem AI Indonesia yang inklusif dan bertanggung jawab.
Senada dengan visi pemerintah, Praktisi Digital yang juga merupakan CEO Digital Tech Ecosystem & Development Sinar Mas Land, Irawan Harahap menyatakan bahwa untuk mewujudkan visi Indonesia sebagai pemimpin digital Asia, pendidikan talenta digital adalah fondasi utamanya.
“Dengan mencetak generasi muda yang melek teknologi dan ahli di bidang digital, kita tidak hanya membangun kapasitas bangsa, tetapi juga menjamin bahwa inovasi teknologi dapat berpihak pada kesejahteraan rakyat, selaras dengan nilai-nilai etis yang kita junjung tinggi,” ujar Irawan.

Kolaborasi Internasional yang Erat
Dilansir dari Siaran Pers Kemkomdigi pada hari yang sama, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria juga nggak kalah sibuk di kancah internasional.
Dalam acara UNESCO Global Forum on the Ethics of Artificial Intelligence di Bangkok, Thailand, beliau menggelar serangkaian pertemuan penting dengan perwakilan dari Thailand, Korea Selatan, serta otoritas AI dari Belanda.
Topik yang dibahas nggak jauh-jauh dari AI, mulai dari tata kelola, regulasi digital, hingga ekonomi digital berbasis nilai-nilai Asia.
1. Indonesia-Thailand, Visi Serupa, Kolaborasi Makin Kuat: Nezar Patria bertemu dengan Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Ekonomi Digital dan Masyarakat Thailand, H.E. Mr. Prasert Jantararuangtong.
- Mereka sepakat untuk memperkuat kerja sama di bidang tata kelola AI, regulasi digital, dan ekonomi digital yang menjunjung tinggi nilai-nilai Asia.
- Thailand bahkan mengapresiasi kesiapan Indonesia untuk berkolaborasi lebih lanjut, mengingat kedua negara punya tahapan transformasi digital dan nilai-nilai budaya yang sejalan.
- Thailand melalui ETDA (Electronic Transactions Development Agency) bahkan berencana mengirim delegasi ke Indonesia untuk belajar lebih dalam soal regulasi digital kita, dan mengundang Indonesia untuk ikut serta dalam pembentukan pusat tata kelola AI di Thailand.
2. Indonesia-Korea Selatan, Fokus Talenta Digital dan Etika AI: Pertemuan Nezar dengan Prof. Sang-Wook Yi, Ketua Divisi Etika & Keamanan Komite Nasional Strategi AI Korea Selatan, juga menghasilkan komitmen yang kuat.
- Kedua negara sepakat untuk mempererat kerja sama dalam pengembangan talenta digital, infrastruktur AI, dan tata kelola AI yang berlandaskan nilai-nilai Asia.
- Mereka juga berbagi pandangan tentang pentingnya menyeimbangkan pengajaran AI dengan pemahaman akan risiko etisnya.
- Korea Selatan sendiri sedang menyusun buku teks nasional tentang AI untuk membangun literasi AI sejak dini, dan Indonesia pun nggak ketinggalan dengan mendorong pengajaran AI dan coding bagi pelajar, sambil tetap menekankan pentingnya literasi kritis terhadap sisi negatif AI.
- Kolaborasi antar universitas, riset bersama, dan pengembangan kurikulum etika AI yang kontekstual juga jadi agenda penting dalam pertemuan ini.
3. Indonesia-Belanda, Belajar Regulasi AI ala Eropa: Selanjutnya, Nezar Patria bertemu dengan Huub Janssen, Manager AI dari Dutch Authority for Digital Infrastructure (RDI) dan Ketua Working Group Otoritas Kompeten AI Belanda dan Uni Eropa.
- Pertemuan ini jadi ajang bertukar informasi soal tata kelola AI, terutama belajar dari EU AI Act (undang-undang AI Uni Eropa), sekaligus menjajaki potensi kolaborasi bilateral di bidang kebijakan AI dan keamanan siber.
- Nezar mengakui bahwa Indonesia sedang menyusun Strategi dan Peta Jalan Nasional AI, dan banyak belajar dari pendekatan EU AI Act yang menekankan keseimbangan antara inovasi dan perlindungan.
- Huub Janssen menjelaskan bahwa EU AI Act menggunakan pendekatan berbasis risiko dalam mengatur sistem AI, mulai dari AI yang dilarang, AI berisiko tinggi yang butuh izin ketat, hingga AI yang wajib transparan informasinya kepada pengguna.
- Pengalaman Belanda ini disambut baik dan mereka juga mendiskusikan perlunya forum global dan regional untuk saling bertukar pengalaman antar negara, yang saat ini sedang didorong bersama UNESCO.
Dari serangkaian pertemuan internasional ini, jelas terlihat bahwa Indonesia nggak cuma punya ambisi besar, tapi juga aktif menjalin kolaborasi dengan berbagai negara untuk mewujudkan visi kepemimpinan digital di Asia.
Pengembangan Smart Digital City

Terkait dengan pengembangan kota cerdas yang bukan hanya sekadar membangun infrastruktur teknologi, melainkan tentang menciptakan ekosistem hidup yang lebih baik, menurut Praktisi Digital Irawan Harahap, AI dan teknologi merupakan alat untuk mewujudkan kota-kota yang lebih nyaman, aman, efisien, dan berkelanjutan.
“Inovasi harus mampu meningkatkan kualitas hidup warga, serta membuka peluang ekonomi baru secara inklusif. Inovasi teknologi bukan hanya tentang efisiensi, tapi juga mengenai bagaimana cara menggunakannya dengan etis untuk mewujudkan kota-kota cerdas yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Irawan Harahap yang juga merupakan CEO Digital Tech Ecosystem & Development Sinar Mas Land.
Dengan fokus pada pengembangan AI yang etis dan inklusif, serta komitmen untuk terus belajar dari pengalaman negara lain, Indonesia punya peluang besar untuk benar-benar menjadi motor penggerak transformasi digital di kawasan Asia! (VT)





