London, Inggris – Uber dan Lyft kemungkinan besar akan kembali mengguncang dunia transportasi.
Uber merupakan salah satu pelopor aplikasi penyedia jasa transportasi, yang kini menjadi bagian besar dalam kehidupan masyarakat di seluruh dunia.
Uber meluncurkan tren aplikasi yang menawarkan jasa serupa, seperti Lyft, dan bagi warga Indonesia, Gojek dan Grab.
Namun, Uber sepertinya akan kembali memainkan peran utama dalam sebuah perubahan besar di dunia transportasi.
Pada Senin (22/12/25), Uber dan Lyft mengumumkan kerja sama mereka dengan Baidu, perusahaan teknologi asal Tiongkok, untuk mengerahkan layanan Robotaxi di London, Inggris.
Melalui sebuah postingan di akun sosial media X, Uber menyatakan bahwa mulai dari awal 2026, mereka akan memulai uji coba peluncuran layanan kendaraan otonom Baidu, Apollo Go.
CEO Lyft, David Risner, juga mengumumkan kemitraan Lyft dan Baidu melalui akun pribadinya di X.
“Kami berharap dapat mulai menguji armada awal kami dengan puluhan kendaraan tahun depan – menunggu persetujuan regulasi – melalui ekosistem Lyft dan Freenow,” tulis Risner.

Saat ini, layanan Apollo Go sudah beroperasi di Tiongkok dan pada masa mendatang akan diluncurkan di Uni Emirat Arab. Selain Apollo Go, Baidu juga mengerahkan Apolong, bus otonom yang juga aktif di Tiongkok.
Uber sebelumnya juga sudah bekerja sama dengan Waymo untuk menawarkan layanan kendaraan otonom di Atlanta, Amerika Serikat. Waymo sendiri juga menyediakan jasanya di Phoenix, San Francisco, Los Angeles, dan Austin.
Dilansir dari BBC, Heidi Alexander, Menteri Transportasi Britania Raya, menyatakan bahwa meskipun pengumuman tersebut menjadi “bukti kepercayaan lain terhadap rencana kami untuk kendaraan tanpa pengemudi”, banyak pihak yang masih skeptik dengan keamanan yang ditawarkan oleh kendaraan otonom.
“Kami berencana agar mobil tanpa pengemudi dapat mengangkut penumpang untuk pertama kalinya mulai musim semi, di bawah skema percontohan kami – memanfaatkan teknologi ini dengan aman dan bertanggung jawab untuk mengubah perjalanan,” ucap Alexander dalam sebuah unggahan di X.
Britania Raya menjadi salah satu negara yang telah berencana untuk meluncurkan layanan taksi otonom.
Jack Stilgoe, seorang profesor kebijakan sains dan teknologi di University College London, juga memberikan pendapatnya saat berbicara dengan BBC.
“Ada perbedaan besar antara memiliki beberapa kendaraan uji yang menggunakan jalan umum sebagai laboratorium mereka dan sistem yang sepenuhnya dikembangkan dan ditingkatkan skalanya yang menjadi pilihan transportasi nyata bagi masyarakat,”
Apabila kerja sama Uber, Lyft, dan Baidu menjadi sebuah kenyataan, dunia transportasi tentunya akan kembali mengalami sebuah perubahan besar.
Jika layanan seperti Apollo Go menjadi hal normal layaknya aplikasi transportasi Uber, apakah layanan kendaraan umum lainnya seperti bus, kereta, atau bahkan pesawat akan beralih dari pengemudi manusia ke sistem otonom?
Sebuah pertanyaan cukup besar, yang kemungkinan akan terjawab dalam waktu yang tidak begitu lama. (VT)





