Michigan, AS – Universitas-universitas di Amerika Serikat menghadapi tantangan besar, seiring dimulainya tahun ajaran baru.
Kebijakan ketat dari pemerintahan Donald Trump, termasuk larangan bepergian dan pengawasan ketat terhadap visa, diperkirakan akan menyebabkan penurunan drastis jumlah mahasiswa internasional.
Hal itu memicu kerugian finansial yang signifikan bagi perguruan tinggi, khususnya di negara bagian Michigan.
Berdasarkan Data Departemen Pendidikan Amerika Serikat, proyeksi awal menunjukkan jumlah mahasiswa internasional secara nasional diprediksi turun hingga 40%;
Penurunan itu berpotensi menyebabkan kerugian ekonomi sebesar $ 7 Miliar atau sekitar Rp 108 Triliun.
Michigan, salah satu dari 10 negara bagian teratas yang menjadi tujuan mahasiswa internasional, diperkirakan akan menanggung kerugian hampir $ 230 Juta, setara dengan Rp 3,5 Triliun.
Kebijakan Baru & Pengawasan Ketat
Penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh kebijakan baru yang dikeluarkan oleh Departemen Luar Negeri AS.
- Pemeriksaan Media Sosial: Sebuah kebijakan baru yang diterapkan pada musim semi memungkinkan Departemen Luar Negeri untuk memeriksa akun media sosial calon mahasiswa, sebelum mengeluarkan visa. Hal ini telah menunda proses bagi banyak siswa.
- Pembatalan Visa: Lebih dari 6.000 visa mahasiswa telah dicabut tahun ini, dengan alasan siswa melanggar hukum AS atau tinggal melebihi batas waktu visa.
Rachel Banks, Direktur Senior NAFSA, Asosiasi Pendidik Internasional menyebut tingkat pembatalan ini belum pernah terjadi sebelumnya.
Kebijakan-kebijakan ini telah menciptakan lingkungan yang kurang ramah bagi mahasiswa asing.
Presiden Oakland University, Ora Pescovitz mengungkapkan, “Universitas AS selalu dianggap sebagai tempat paling progresif dan maju untuk belajar dan menemukan hal baru. Serangan terhadap mahasiswa internasional ini membuat mereka merasa sangat tidak disambut.”
Kerugian Bukan Sekadar Uang

Dilansir dari Situs Resmi Michigan University, Penurunan ini bukan hanya soal kerugian finansial, melainkan juga hilangnya sumber daya vital.
Mahasiswa internasional biasanya membayar biaya kuliah hingga tiga kali lipat lebih mahal, menjadi sumber daya pengajar penting di tingkat pascasarjana, dan memperkaya keragaman budaya di kampus.
Jennifer DeHaemers, Wakil Presiden Rekrutmen Mahasiswa Central Michigan University (CMU), pada situs resminya menyatakan universitasnya memproyeksikan penurunan sekitar 70% dari jumlah mahasiswa internasional baru.
“Ini adalah penurunan yang sangat besar,” ujarnya. Ia menambahkan, mahasiswa kini diinterogasi lebih dalam, termasuk mengenai afiliasi di negara asal dan ketertarikan mereka pada politik AS.
“Sangat disayangkan bagi pendidikan tinggi Amerika dan CMU. Mahasiswa internasional kami membuat pengalaman di sini lebih kaya karena mereka berbagi budaya mereka, cenderung menjadi siswa yang baik, dan mereka menambah pembangunan ekonomi di negara ini,” kata DeHaemers.
Ancaman Dominasi Global AS
Para ahli dan pejabat universitas khawatir, jika tren ini berlanjut, posisi AS sebagai pemimpin dalam pendidikan global dapat terancam.
Rachel Banks, dari NAFSA memperingatkan, “Jika ini terus berlanjut, maka akan menimbulkan kekhawatiran yang sangat serius tentang kemampuan universitas dan perguruan tinggi (Amerika) untuk tetap menjadi universitas top di dunia.”
Meskipun beberapa universitas, seperti University of Michigan mencoba mitigasi dengan mendorong mahasiswa domestik, mereka menyadari bahwa dampak kerugian budaya sulit digantikan.
“Kampus kami tidak akan begitu kaya tanpa mahasiswa internasional,” ujar Gabriella Scarlatta, Interm Rektor U-M Dearborn, yang juga merupakan mantan mahasiswa internasional dari Italia dikutip dari BBC News.
Dengan lebih dari 38.000 mahasiswa internasional di Michigan pada 2023-2024, dampak kebijakan ini akan terasa di banyak sektor, mulai dari ekonomi lokal hingga kekayaan intelektual dan budaya di lingkungan kampus.
Kebijakan yang semakin membatasi dan suasana yang terasa kurang ramah, membuat Amerika Serikat menghadapi pertanyaan besar, apakah mereka akan mengorbankan dominasi globalnya di sektor pendidikan demi agenda politik tertentu ?
Penurunan jumlah mahasiswa internasional bukan sekadar angka di laporan keuangan, tetapi cerminan dari berbagai potensi yang hilang.
Seperti hilangnya inovasi, keragaman budaya, dan koneksi global yang telah lama menjadi kekuatan utama universitas-universitas Amerika.
Pada akhirnya, masa depan pendidikan tinggi AS kini berada di persimpangan jalan, antara mempertahankan warisan keterbukaan atau menutup diri, dengan resiko kehilangan posisi sebagai mercusuar ilmu pengetahuan dunia.(YA)





