Casablanca, Maroko – Tim nasional Mali mengukir kisah heroik di babak 16 besar Africa Cup of Nations (AFCON) 2025.
Bermain dengan 10 orang sejak babak pertama, Mali secara dramatis sukses menyingkirkan Tunisia lewat babak adu penalti (3-2) setelah bermain imbang 1-1 hingga perpanjangan waktu di Stadion Mohammed V, Casablanca.
Keberhasilan ini membawa skuad berjuluk The Eagles melenggang ke perempat final, dan akan bertemu dengan Senegal yang sebelumnya mengalahkan Sudan.
Sosok penjaga gawang Djigui Diarra keluar sebagai bintang utama, setelah aksi heroiknya menepis tendangan pemain Tunisia di babak penentuan.
Ujian di Menit Awal
Pertandingan di Casablanca ini dimulai dengan tensi tinggi yang langsung memakan korban. Tunisia harus kehilangan bek Dylan Bronn lebih awal karena cedera.
- Namun, petaka sebenarnya menghampiri Mali pada menit ke-27, saat Wayo Coulibaly menerima kartu merah langsung akibat tekel keras terhadap Hannibal Mejbri. Bermain dengan 10 orang, Mali dipaksa bertahan total.
- Tunisia mencoba mengeksploitasi keunggulan jumlah pemain, namun disiplin lini belakang Mali dan ketangguhan Djigui Diarra membuat skor tetap kacamata hingga turun minum.
Drama Menit Akhir
Memasuki babak kedua, laga semakin memanas.
- Penantian Tunisia seolah berakhir pada menit ke-88 ketika Firat Chaouat menyambut umpan silang Elias Saad dengan sundulan mematikan yang merobek jala Mali. Pendukung Tunisia sudah bersiap merayakan kemenangan, namun takdir berkata lain.
- Di masa injury time (90+6′), bek Tunisia Yassine Meriah melakukan kesalahan fatal dengan menyentuh bola di kotak terlarang.
- Lassine Sinayoko yang maju sebagai algojo melepaskan tendangan penalti dingin yang menyamakan kedudukan menjadi 1-1, memaksa laga berlanjut ke babak tambahan hingga adu penalti.
Tangan Dingin di Babak Tos-tosan
Dalam babak adu penalti, mentalitas juara Mali berbicara. Di bawah tekanan hebat publik Casablanca, tiga penendang Mali sukses menjalankan tugasnya, sementara Tunisia hanya mampu menyarangkan dua bola.
Djigui Diarra sekali lagi membuktikan kelasnya dengan penyelamatan krusial yang memastikan kemenangan Mali. Skor akhir 3-2 untuk Mali, yang melaju ke babak perempat final.
Dalam wawancara usai laga, Pelatih Mali, Tom Saintfiet menyatakan rasa bangganya atas hasil yang diraih timnas Mali.
“Saya bangga dengan para pemain. Saya bilang kepada mereka bahwa mereka adalah juara. Kami tetap tenang meski bermain dengan 10 orang karena sepakbola juga butuh kecerdasan,” ujar Saintfiet dikutip dari Situs Resmi CAF.
Djigui Diarra yang menjadi Man of the Match dalam laga ini menambahkan bahwa, “Kami tahu ini akan berat sejak kartu merah itu keluar. Kami saling menguatkan di lapangan. Saat penalti, saya hanya memikirkan rakyat Mali di rumah. Kemenangan ini untuk mereka.”
Sementara Sami Trabelsi, Pelatih Tunisia sangat kecewa dengan hasil tersebut, dan menyatakan bahwa dirinya yang harus bertanggung jawab.
“Sangat menyakitkan. Kami memegang kendali, tapi melakukan kesalahan tak masuk akal setelah mencetak gol. Saya bertanggung jawab penuh atas kekalahan ini.”
Kemenangan ini bukan sekadar tiket lolos, melainkan pernyataan mental dari Mali yang telah menunjukkan bahwa dalam sepakbola, jumlah pemain bisa berkurang, namun semangat juang kolektif tidak bisa dipatahkan. (*)
Baca juga :





