Medan – Jika merasa cuaca belakangan ini kian tak menentu, kita tidak sendirian. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) baru saja merilis alarm keras: perubahan iklim telah mengetuk pintu rumah kita.
Fenomena Siklon Tropis Senyar yang mengamuk di Sumatra pada akhir 2025, menjadi bukti nyata betapa ekstremnya “wajah baru” iklim Indonesia saat ini.
Dalam diskusi ilmiah di Universitas Sumatra Utara, BMKG memaparkan data mengejutkan. Siklon Senyar bukan sekadar badai biasa, ia membawa curah hujan yang memecahkan rekor tertinggi sejak 35 tahun lalu.
Di beberapa titik, langit seolah “tumpah” dengan volume air yang berkali-kali lipat dari batas normal.
Saat Langit Sumatra “Meledak”
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan bahwa terjangan Siklon Senyar memicu curah hujan ekstrem yang belum pernah terlihat sejak tahun 1991.
Fenomena ini menjadi potret nyata dari tren pemanasan global yang konsisten.
“Siklon Senyar telah menghasilkan rekor curah hujan dasarian III November tertinggi sejak tahun 1991. Di Kecamatan Koto Tangah, Sumatra Barat, curah hujan selama periode bencana mencapai sekitar tiga kali lipat dari hujan normal di bulan November. Di Singkil Utara, Aceh, curah hujan mencapai dua kali lipat dari kondisi normalnya,” ungkap Ardhasena di hadapan para akademisi.
Indonesia Menuju 1,6°C Lebih Panas
Data BMKG mencatat bahwa lonjakan suhu di Indonesia berada pada jalur yang mengkhawatirkan, dan menjadi bukti perubahan iklim di tanah air.
- Tahun Terpanas: 2024 resmi menjadi tahun terpanas dalam sejarah Indonesia dengan suhu rata-rata 27,5°C. Sementara 2025 menyusul di urutan keenam terpanas.
- Proyeksi Masa Depan: Suhu Indonesia diprediksi bakal naik hingga 1,6°C pada periode 2021-2050 jika tidak ada mitigasi kolektif.
- Perubahan Pola Hujan: Wilayah utara Indonesia diproyeksikan makin basah (naik 8%), sementara wilayah selatan justru makin kering (turun 9%).
- Siklus Hujan Ekstrem: Hujan lebat yang dulunya hanya terjadi 100 tahun sekali, kini diprediksi muncul setiap kurang dari 20 tahun.

Salju Puncak Jaya Hingga Banjir Rob
Dampak perubahan iklim tidak hanya terasa di daratan Sumatra. Di ujung timur Indonesia, es abadi di Puncak Jaya, Papua, dilaporkan sudah di ambang kepunahan.
Sejak 1988, tutupan es telah menyusut drastis sebesar 98%, dan diperkirakan akan habis sepenuhnya paling lambat awal 2027.
Tak hanya itu, kenaikan permukaan air laut di Indonesia kini mencapai laju 4,36 mm per tahun. Angka ini menjadi ancaman serius bagi jutaan penduduk di wilayah pesisir yang kini harus berhadapan dengan banjir rob dan abrasi, yang kian agresif setiap tahunnya.
Perubahan iklim bukan lagi sekadar dongeng tentang masa depan yang jauh, melainkan kenyataan pahit yang harus dihadapi saat ini.
Melalui catatan Siklon Senyar dan hilangnya es Puncak Jaya, BMKG memberikan pesan bahwa kesiapsiagaan dan adaptasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
Kini, bola panas ada di tangan para pemangku kepentingan dan masyarakat luas. Mampukah kita mengubah pola hidup demi menjaga keberlanjutan ekonomi dan kelestarian lingkungan, atau kita hanya akan menjadi saksi sejarah saat bencana demi bencana menjadi rutinitas baru ? (*)





