Ulsan, Korsel – Setelah bertahun-tahun mengukir sejarah dan membangkitkan harapan di Indonesia, Shin Tae Yong kembali ke rumah.
Namun, kepulangannya bukan untuk beristirahat, melainkan untuk menghadapi tantangan baru yang familiar: menyelamatkan sebuah tim yang sedang terpuruk di liga domestik.
Kisah ini adalah tentang seorang legenda yang kembali ke akarnya, membawa serta pengalaman berharga dari petualangan internasionalnya.
Mantan pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae Yong, secara resmi diumumkan sebagai nakhoda baru klub Liga Korea Selatan, Ulsan HD, pada Selasa (05/08/25). Keputusan ini datang di saat Ulsan sedang berada di titik terendah.
Setelah memecat pelatih sebelumnya, Kim Pan-gon, akibat performa buruk, Ulsan kini terdampar di posisi ke-7 klasemen Liga Korsel dan tidak meraih kemenangan dalam enam pertandingan terakhir.
Kehadiran STY, sapaan akrabnya di Indonesia, diharapkan dapat menjadi angin segar yang membawa kembali kejayaan.
Dalam pernyataan yang dikutip dari The Korea Times, Shin Tae Yong menyampaikan optimismenya.
“Ulsan HD telah menjadi tim unggulan di K League sejak lama. Saya yakin jika kami dapat melewati masa sulit ini, akan ada hari-hari yang hebat di depan. Saya akan berusaha membangun kembali dinasti di sini dengan segala yang saya bisa. Kami memiliki tim yang hebat di sini, dan jika para penggemar dapat mempercayai saya dan menunggu dengan sabar, saya akan membawa tim ini kembali ke persaingan gelar,” ujar STY.
Liga yang Membesarkan Namanya
Keputusan Shin Tae Yong untuk kembali melatih di Liga Korsel terasa seperti pulang kampung. Sebelum menjadi pelatih, ia adalah legenda hidup di sana.
Shin menghabiskan sebagian besar karier pemainnya bersama Seongnam Ilhwa Chunma (kini Seongnam FC), di mana ia meraih berbagai prestasi gemilang:
- Juara Liga Korsel enam kali (1993-1995 dan 2001-2003).
- Juara Liga Champions Asia (1995).
- Penghargaan individu sebagai Pemain Muda Terbaik (1992) dan Pemain Terbaik (1995).
Tidak hanya sebagai pemain, Shin juga mengukir sejarah sebagai pelatih Seongnam.
Ia memimpin klub tersebut meraih gelar Liga Champions Asia kedua mereka pada tahun 2010, menjadikannya sosok pertama yang menjuarai kompetisi itu sebagai pemain dan pelatih.

Perjalanannya terus berlanjut ke kancah internasional. Setelah memimpin Timnas Korea Selatan di Piala Dunia FIFA 2018 dan mengalahkan Jerman, ia ditunjuk menjadi pelatih Timnas Indonesia pada Desember 2019.
Warisan Shin Tae Yong di Indonesia
Di bawah bimbingan Shin Tae Yong, Timnas Indonesia bangkit dari keterpurukan. Ia berhasil membangkitkan semangat Garuda dengan sederet pencapaian luar biasa:
- Lolos ke babak 16 besar Piala Asia 2023 untuk pertama kalinya dalam sejarah.
- Lolos ke ronde ketiga Kualifikasi Piala Dunia FIFA 2026.
- Memimpin Timnas U-23 lolos ke Piala Asia U-23 2024 dan melaju hingga babak semifinal.

Namun, di tengah kesuksesan yang diraihnya, PSSI secara mengejutkan memecatnya pada Januari lalu.
Alasannya, PSSI ingin mencari pelatih Eropa yang bisa berkomunikasi dengan mudah dengan para pemain, yang sebagian besar memiliki darah Belanda. Patrick Kluivert pun ditunjuk sebagai penggantinya.
Baca juga :
- Patrick Kluivert Siap Ubah Strategi di Piala Dunia
- Kalah Telak, Mampukah Kluivert Melanjutkan Warisan Shin Tae-yong ?
Setelah masa jabatannya di Indonesia berakhir, Shin sempat kembali ke Seongnam FC sebagai Direktur Olahraga dan ditunjuk sebagai Wakil Presiden Federasi Sepakbola Korea Selatan.
Kini, petualangan barunya dimulai di Ulsan HD, tim yang membutuhkan sentuhan magisnya untuk kembali bersaing di jalur juara.
Kepulangan Shin Tae Yong ke Liga Korsel bukan hanya sekadar kepindahan pelatih biasa. Ini adalah babak baru bagi seorang legenda, yang membawa warisan keberanian dan semangat juang dari Indonesia.
Ulsan HD kini berada di tangan sosok yang pernah menggebrak dunia dengan timnas yang tidak diunggulkan. Para penggemar Ulsan tentu berharap, magis yang sama dapat terulang di tanah kelahirannya sendiri. (VT)
Baca juga :





