Jakarta – Prajurit TNI berhasil melumpuhkan salah satu tokoh sentral Organisasi Papua Merdeka (OPM), Mayer Wenda alias Kuloi Wonda, dalam sebuah kontak senjata yang terjadi di Kampung Mukoni, Distrik Mukoni, Kabupaten Lanny Jaya, Papua Pegunungan.
Mayer Wenda dikenal sebagai Wakil Panglima Kodap XII/Lanny Jaya dan telah masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) sejak 2014 karena keterlibatannya dalam berbagai aksi kekerasan bersenjata.
Ia disebut turut serta dalam penyerangan Mapolsek Pirime dan pembunuhan anggota Polri.
“Operasi ini merupakan bagian dari pelaksanaan tugas pokok TNI dalam Operasi Militer Selain Perang (OMSP) sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2025 tentang Perubahan atas UU Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI,” kata Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Mayjen Kristomei Sianturi, dalam keterangannya, Rabu (06/08/25).
Kontak tembak terjadi sekitar pukul 16.30 WIT saat Mayer bersama kelompoknya melakukan perlawanan terhadap pasukan TNI yang tengah menjalankan operasi.
Dalam baku tembak tersebut, TNI mengambil tindakan tegas hingga menewaskan Mayer Wenda di lokasi. Selain Mayer, satu orang lain yang diduga adalah adiknya, Dani Wenda, juga dinyatakan tewas di tempat kejadian.
Jenazah Mayer dan Dani Wenda kemudian dievakuasi ke RSUD Wamena, untuk keperluan identifikasi dan penanganan lebih lanjut.
Barang bukti yang diamankan dari lokasi kejadian antara lain:
- 1 Pucuk senjata api jenis revolver dan 24 butir amunisi
- 2 KTP atas nama Dani Wenda dan Pemina Wenda
- 2 Unit ponsel, Uang tunai Rp 65.000, 1 buah noken khas Papua

Kapuspen TNI menegaskan bahwa operasi ini dilakukan secara profesional dan tetap dalam koridor hukum.
“Keberhasilan ini membuktikan bahwa setiap tindakan prajurit TNI dalam menghadapi kelompok bersenjata dilaksanakan secara profesional, terukur, dan berdasarkan peraturan perundang-undangan,” tegas Kristomei.
Ia menilai operasi ini merupakan bagian dari langkah strategis pengamanan menjelang peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan RI, sekaligus mencerminkan komitmen TNI dalam menjaga stabilitas keamanan nasional.
Meski operasi dilakukan dengan pendekatan militer, TNI tetap membuka ruang rekonsiliasi.
“TNI tetap menyambut dengan tangan terbuka apabila ada anggota OPM yang menyadari kekeliruannya dan ingin kembali ke pangkuan NKRI dan bersama-sama membangun Papua demi masa depan masyarakat Papua yang lebih damai dan sejahtera,” ucap Kristomei. (Ep)





