Inggris – Pemain bintang Liverpool dan Kapten Tim Nasional Mesir, Mohamed Salah, secara terbuka menyindir UEFA di media sosial, terkait unggahan belasungkawa untuk pemain sepakbola Palestina, Suleiman al-Obeid.
Unggahan UEFA yang dinilai samar dan tidak transparan itu, memicu pertanyaan tajam dari Salah yang menggemparkan jagat maya.
Dengan jutaan pengikutnya, Mo Salah mengunggah ulang pesan belasungkawa UEFA dan melontarkan pertanyaan yang menggantung di udara.
“Bisakah Anda memberi tahu kami bagaimana dia meninggal, di mana, dan mengapa?” Pertanyaan sederhana namun menusuk itu sontak menjadi viral dan mengundang perdebatan sengit.

Reaksi Publik & Sorotan Dunia
Unggahan UEFA yang tidak jelas memicu banyak kritik. Namun, ketika Mohamed Salah, salah satu atlet Muslim paling terkemuka di dunia, menyuarakan keraguannya, dampaknya jauh lebih besar.
Unggahan Salah, yang dibuat hanya sehari setelah unggahan UEFA, menerima respons yang luar biasa dengan lebih dari 1,3 juta likes dan 365.000 repost.
Hal ini jauh melampaui unggahan UEFA yang hanya mendapat 113.000 likes.
Popularitas Mo Salah, yang dijuluki “Raja Mesir” oleh penggemarnya, memberinya platform besar untuk menyoroti isu-isu kemanusiaan.
Sebelumnya, ia telah menyerukan agar bantuan kemanusiaan segera diizinkan masuk ke Gaza, dan mendesak para pemimpin dunia untuk mencegah pembantaian lebih lanjut.

Kicauan Salah bahkan memicu tanggapan dari militer Israel.
Juru bicara militer Israel, Nadav Shoshani dalam sebuah unggahan di X, menulis, “Setelah peninjauan awal, kami tidak menemukan catatan insiden apa pun yang melibatkan Suleiman al-Obeid. Untuk melihat lebih dekat, kami membutuhkan detail lebih lanjut.”
Tragedi di Balik Nama ‘Pele Palestina’
Suleiman al-Obeid, yang dijuluki ‘Pele Palestina’, meninggal di tengah konflik berkepanjangan di Gaza.
UEFA, dalam unggahannya memberi penghormatan dengan menyebutnya sebagai “bakat yang memberikan harapan bagi banyak anak-anak, bahkan di masa-masa tergelap.”
Namun, menurut laporan Reuters yang mengutip Doaa al-Obeid, istri dari al-Obeid, sang suami tewas ketika sebuah tank Israel diduga menembaki area di mana orang-orang berkumpul untuk menerima bantuan kemanusiaan.
Kematian al-Obeid menjadi cerminan dari tragedi yang dialami oleh banyak atlet di Gaza. Janda al-Obeid mengungkapkan bahwa suaminya adalah sosok yang berdedikasi tinggi.
“Bahkan di tengah krisis perang, di tengah roket, penembakan, dan pembunuhan massal, dia tetap bermain,” kenangnya.(YA)





