Washington, AS – Presiden Donald Trump kembali membuat kejutan, kali ini dengan pernyataan yang menggemparkan basis konservatifnya.
Secara tiba-tiba, ia mengumumkan akan mengizinkan 600.000 mahasiswa China untuk belajar di universitas-universitas Amerika, sebuah langkah yang sangat berlawanan dengan kebijakan ketat imigrasi dan visa yang selama ini ia usung.
Pengumuman ini datang di tengah ketegangan hubungan AS-China yang semakin memanas. Selama ini administrasi Trump dikenal dengan langkah-langkah protektif.
Termasuk penambahan verifikasi ketat untuk visa pelajar, serta upaya membatasi pendaftaran mahasiswa asing di universitas terkemuka seperti Harvard.
Menlu Marco Rubio bahkan sempat menyatakan akan mencabut visa pelajar, yang terafiliasi dengan Partai Komunis China.
Kebijakan Baru Membingungkan

Keputusan Trump ini menimbulkan kebingungan, terutama di kalangan para pendukung setianya yang mengusung slogan “Amerika First.”
Banyak dari mereka, termasuk politisi seperti Anggota Kongres Marjorie Taylor Greene, mantan penasihat Steve Bannon, dan aktivis sayap kanan Laura Loomer, dengan tegas menolak gagasan untuk menerima lebih banyak mahasiswa China.
“Saya tidak mengerti mengapa hal ini terjadi. Ada 600.000 tempat yang seharusnya bisa diisi oleh anak-anak Amerika,” ujar Pembawa Acara Fox News, Laura Ingraham.
Jumlah yang disebut Trump 600.000 jauh di atas jumlah mahasiswa China yang terdaftar saat ini, yaitu sekitar 277.000 orang.
Angka ini bahkan terus menurun dalam beberapa tahun terakhir, akibat hubungan yang kurang harmonis antara kedua negara.
Alasan di Balik Keputusan Trump

Lalu, apa yang membuat Trump tiba-tiba berubah pikiran ?
Saat ditanya wartawan, Trump menjelaskan bahwa kehadiran mahasiswa China sangat penting dan dapat membantu perguruan tinggi AS bertahan.
“Sistem perguruan tinggi kita akan hancur dengan sangat cepat jika mereka (mahasiswa asing) tidak datang,” kata Trump dikutip dari Associated Press.
Menteri Perdagangan Amerika, Howard Lutnick mendukung pernyataan tersebut, dan menyebut keputusan Trump sebagai “pandangan ekonomi yang rasional.”
Ia berpendapat bahwa 15% dari universitas dan perguruan tinggi Amerika, bisa gulung tikar tanpa kehadiran mahasiswa asing. Namun pandangan itu dibantah oleh Anggota Kongres, Greene.
“Jika menolak mahasiswa China menyebabkan 15% sekolah itu bangkrut, maka sekolah-sekolah itu memang seharusnya bangkrut,” katanya, merujuk pada kekhawatiran bahwa universitas AS terlalu bergantung pada uang dari Partai Komunis China (PKC).
Di sisi lain, China telah berulang kali mengecam AS atas “diskriminasi dan penegakan hukum yang selektif secara politik” terhadap mahasiswa mereka.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning mengatakan bahwa beberapa mahasiswa diperlakukan tidak adil, diinterogasi berjam-jam, dan bahkan dicabut visanya dengan alasan “dapat membahayakan keamanan nasional.”
Pernyataan Trump ini bertolak belakang dengan kebijakan sebelumnya dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, yang gencar mencabut visa bagi mahasiswa yang diduga memiliki hubungan dengan PKC. (YA)





