Boven Digoel, Papua Barat Daya — Di tengah hamparan hutan lebat dan sungai-sungai yang membelah pedalaman Papua Selatan, sebuah kejutan tak terduga menanti para prajurit TNI.
Di perbatasan yang memisahkan Indonesia dan Papua Nugini, mereka menemukan sebuah ironi: anak-anak setempat ternyata lebih fasih berbahasa Inggris daripada Bahasa Indonesia, bahasa ibu mereka sendiri.
Kisah ini berawal di Pos Inggembit, Distrik Ninati, Kabupaten Boven Digoel, Papua Barat Daya. Di sana, para personel Satgas Pamtas RI-PNG Yonif 126/Kalacakti mendapati realita unik.
Kedekatan geografis dengan negara tetangga membuat Bahasa Inggris lebih sering digunakan dalam percakapan sehari-hari.
“Awalnya kami kaget. Kami sapa mereka pakai Bahasa Indonesia, tapi banyak yang jawab pakai Bahasa Inggris,” tutur seorang prajurit kepada Biro Pers Puspen TNI.
Misi Humanis Mengembalikan Identitas Bangsa
Tersentuh oleh kondisi ini, para prajurit yang seharusnya fokus menjaga kedaulatan negara, mengambil peran baru sebagai “guru dadakan.”
Di bawah rindangnya pohon atau di dalam pos sederhana, mereka membuka kelas darurat. Di sana, anak-anak diajak bermain sambil belajar, dikenalkan kembali dengan kosakata dan tata bahasa Indonesia.
Dengan pendekatan yang jauh dari kesan kaku, mereka menciptakan suasana belajar yang ramah dan akrab. Metode ini sukses memicu antusiasme luar biasa dari anak-anak di Inggembit.
Mereka yang awalnya hanya mampu menyapa “Hello,” kini perlahan mulai bisa merangkai kalimat sederhana dalam Bahasa Indonesia.
Inisiatif ini pun menuai pujian. Seorang tokoh masyarakat setempat mengungkapkan rasa bangganya. “Mereka bukan hanya pelindung wilayah, tapi juga pembina generasi penerus bangsa.”
Hal ini menunjukkan bahwa kedaulatan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari kekuatan militer, tetapi juga dari kemampuannya merawat identitas dan budaya di setiap sudut negerinya.

Harapan Baru di Perbatasan
Langkah humanis para prajurit di Boven Digoel, Papua Barat Daya menjadi bukti nyata dari komitmen TNI untuk mengabdi kepada rakyat.
Misi ini tidak hanya sekadar mengajar bahasa, melainkan menanamkan kembali rasa cinta terhadap tanah air dan bahasa persatuan.
Di ujung timur Indonesia, di mana batas negara menjadi kabur secara budaya, para prajurit ini menunjukkan bahwa merawat bahasa sama pentingnya dengan menjaga perbatasan.
Kemajuan anak-anak di Inggembit adalah secercah harapan baru, bahwa identitas bangsa akan terus hidup dan berkembang, bahkan di daerah terpencil sekalipun. (NR)





