Jakarta – Kurang dari setahun memimpin, Presiden Prabowo Subianto kembali menggebrak Istana Negara dengan melakukan perombakan kabinet jilid ketiga.
Pada Rabu (17/09/25), empat pejabat kunci dicopot dari jabatannya, termasuk nama besar seperti Erick Thohir dari Kementerian BUMN.
Keputusan yang tertuang dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 96/P Tahun 2025 ini tidak hanya membuat kaget, tetapi juga menandakan komitmen kuat Presiden Prabowo untuk mengevaluasi dan menyempurnakan jajaran pembantunya demi mencapai visi Kabinet Merah Putih.
Keempat pejabat yang dicopot adalah :
- Menteri BUMN, Erick Thohir
- Wakil Menteri Kehutanan (Wamenhut), Sulaiman Umar
- Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO), Hasan Nasbi
- Kepala Staf Kepresidenan (KSP), AM Putranto
“Berdasarkan Keppres Nomor 96/P Tahun 2025, Presiden Prabowo Subianto telah memutuskan untuk memberhentikan sejumlah pejabat dan mengangkat beberapa nama baru,” ujar Deputi Bidang Administrasi Aparatur Kementerian Sekretariat Negara, Nunik Purwanti, saat membacakan Keppres di Istana Kepresidenan.
Pergantian Posisi Mengejutkan

Langkah ini bukan hanya soal pencopotan, tetapi juga penempatan ulang yang penuh teka-teki.
Erick Thohir, yang sebelumnya memimpin Kementerian BUMN, kini dipercaya menempati kursi Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), posisi yang sebelumnya ditinggalkan oleh Dito Ariotedjo.
Sementara itu, Prabowo juga langsung mengisi sejumlah posisi strategis yang kosong.
- Pembaruan Jabatan: Wakil KSP, M Qodari naik pangkat menjadi Kepala Staf Kepresidenan menggantikan AM Putranto.
- Nomenklatur Baru: Wakil Menteri Komunikasi dan Digitalisasi, Angga Raka Prabowo dilantik sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, sebuah nomenklatur baru yang menggantikan posisi PCO yang ditinggalkan Hasan Nasbi. Angga merangkap jabatan sebagai wamen dan Kepala PCO.
- Wajah Baru: Posisi Wamenhut yang kosong setelah Emmanuel Ebenezer (Noel) jadi tersangka di KPK, kini diisi oleh politikus Partai Gerindra, Rohmat Marzuki.
Reshuffle 3 Jilid, Apa yang Terjadi ?
11 Bulan usai mengucapkan sumpah sebagai Presiden RI pada 20 Oktober 2024. Lalu Presiden Prabowo telah melakukan 3 kali bongkar pasang di kabinetnya. Diantaranya :
- Reshuffle Pertama: Satu Menteri Dicopot
– Pencopotan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek), Satryo pada 19 Februari 2025, memberikan sinyal kuat akan ketegasan Prabowo.
– Satryo dicopot setelah menuai kontroversi terkait rekaman suara, yang diduga memarahi stafnya dan dianggap sewenang-wenang.
– Pemberhentiannya disusul dengan penunjukan Brian Yuliarto, seorang Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB), sebagai penggantinya.
– Ini menunjukkan bahwa kinerja dan reputasi para menteri, menjadi pertimbangan serius dalam evaluasi Presiden

- Reshuffle Kedua: 5 Menteri tergeser
– Gelombang kedua perombakan kabinet merah putih terjadi pada 9 September 2025.
– 5 Menteri namanya keluar dari buku absen kabinet merah putih.
– Peristiwa ini sekali lagi menunjukkan komitmen Prabowo dalam memperkuat jajaran kabinetnya, meskipun harus menghadapi kontroversi dan gejolak politik. - Pada reshuffle kedua, 8 September 2025, lima menteri yang dicopot adalah:
– Menteri Keuangan, Sri Mulyani
– Menko Polkam, Budi Gunawan
– Menpora, Dito Ariotedjo
– Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Abdul Kadir Karding
– Menteri Koperasi, Budi Arie Setiadi - Reshuffle Ketiga: 4 Pejabat Kunci Tumbang (Menteri BUMN, Wamen Kehutanan, Kepala PCO & Kepala Staf Kepresidenan)

Langkah ini menimbulkan pertanyaan besar: apa sebenarnya yang memicu perombakan masif ini ?
“Atas berbagai pertimbangan, masukan, dan evaluasi yang dilakukan terus-menerus oleh Bapak Presiden, maka Presiden memutuskan untuk melakukan perubahan susunan Kabinet Merah Putih pada beberapa jabatan,” jelas Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi di Kantor Presiden, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (08/09/25) kepada awak Media.
Tiga gelombang reshuffle dalam waktu singkat menunjukkan bahwa Presiden Prabowo Subianto tidak ragu mengambil langkah tegas, demi efektivitas pemerintahan.
Setiap perombakan memiliki pesan tersendiri, mulai dari sanksi atas kontroversi, penyesuaian posisi strategis, hingga penunjukan figur-figur yang dianggap paling kapabel.
Rentetan perubahan ini menegaskan bahwa Kabinet Merah Putih bukanlah susunan statis, melainkan formasi dinamis yang terus beradaptasi.
Langkah berani ini diharapkan dapat menjaga momentum dan memastikan roda pemerintahan berjalan optimal, membawa Indonesia menuju tujuan yang dicita-citakan. (YA)





