Gaza, Palestina — Di tengah puing-puing dan desingan bom yang menghancurkan rumah, sekolah, dan kampus mereka, harapan sekelompok mahasiswa di Gaza sempat mekar.
Mereka berhasil meraih mimpi yang nyaris mustahil: mendapatkan beasiswa penuh untuk melanjutkan studi di universitas-universitas terkemuka di Amerika Serikat.
Namun, euforia itu hancur berkeping saat kebijakan baru menghantam. Larangan visa mendadak menjebak puluhan mahasiswa ini di dalam wilayah yang luluh lantak.
Mimpi di Tengah Reruntuhan
Salah satunya Maryam, seorang mahasiswi pascasarjana fisika, masih ingat jelas momen saat dunianya runtuh.
Dalam hitungan hari setelah 7 Oktober 2023, rumahnya, sekolah anak-anaknya, bahkan Islamic University of Gaza tempatnya menuntut ilmu, semuanya musnah dilalap serangan udara.
Pukulan terberat datang saat mentornya, Sufian Tayeh seorang ilmuwan terkemuka dan Rektor universitas gugur bersama keluarganya.
“Profesor Tayeh sudah seperti sosok ayah bagi saya,” tutur Maryam yang yang meminta kepada The Guardian nama aslinya disamarkan demi keamanan.
Mariam pun kembali bercerita kepada The Guardian, ketika mendengar kabar duka itu, Maryam merasa segalanya berakhir.
Ia menyimpan rapat-rapat buku catatan fisikanya dan berpikir bahwa mimpinya menjadi fisikawan telah musnah selamanya.
Namun, di balik keputus-asaan, semangatnya tetap menyala. Ia tidak menyerah. Di tengah ancaman bom dan kehidupan di tenda pengungsian di Rafah, Maryam berjuang mencari sinyal internet di dekat perbatasan.
Ia meneliti berbagai peluang beasiswa dan akhirnya berhasil mendapatkan beasiswa penuh untuk program PhD di University of Maryland.
Kisah Maryam bukanlah satu-satunya. Ada puluhan mahasiswa lain dari Gaza yang bernasib sama. Mereka telah diterima di berbagai universitas dan perguruan tinggi AS, namun kini terperangkap tanpa kepastian.
Harapan Berubah Menjadi Hampa

Semua bermula saat pemerintahan Presiden Donald Trump mengeluarkan kebijakan, yang menangguhkan hampir semua visa non-imigran untuk pemegang paspor Palestina.
Pihak Gedung Putih mengklaim kebijakan ini sebagai bagian dari upaya peninjauan keamanan, yang mereka sebut “penting untuk memastikan identitas dan kelayakan pemohon visa.”
Namun, bagi mahasiswa Gaza, dampaknya sangat menghancurkan.
“Saya tidak akan pernah melupakan saat menerima pesan yang mengonfirmasi penerimaan saya. Saya langsung berlari kembali ke tenda untuk memeluk anak-anak saya dan memberi tahu mereka kabar baik itu, bahwa kami akan selamat dari mimpi buruk ini,” kata Maryam.
“Namun, semuanya hancur lagi ketika saya mendengar penangguhan visa. Rasanya mimpi saya dihancurkan untuk kedua kalinya.”
Pintu Tertutup Rapat
Mendapatkan visa ke AS dari Gaza sudah menjadi proses yang sangat sulit bahkan sebelum perang. Mahasiswa harus pergi ke kedutaan AS di luar wilayah, biasanya di Mesir atau Israel.
Sejak perang, akses ke Israel sepenuhnya tertutup, sementara perbatasan dengan Mesir juga sebagian besar ditutup.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS kepada The Guardian menjelaskan bahwa penangguhan ini dilakukan untuk “melakukan tinjauan menyeluruh terhadap proses dan prosedur yang digunakan untuk menyaring individu dari Gaza.”
Mereka menambahkan bahwa “setiap keputusan visa adalah keputusan keamanan nasional.”
Namun, bagi Majid dari Student Justice Network sebuah kelompok advokasi yang membantu mahasiswa Gaza kondisi ini sangat merugikan.
“Tidak ada kejelasan kapan aplikasi mereka akan diproses,” kata Majid. Hal ini mengancam bukan hanya jadwal studi mereka, tetapi juga beasiswa yang telah susah payah mereka dapatkan.
Harapan Baru di Pintu Lain ?
Thomas Cohen, Profesor Fisika di University of Maryland yang menjadi mentor bagi Maryam, mengungkapkan kekecewaannya.
Ia sudah berupaya keras membantu Maryam dan satu mahasiswa lainnya, bahkan menawarkan untuk membayar biaya perjalanan mereka sendiri. Namun, perbatasan ditutup sebelum mereka bisa berangkat.
Melihat situasi yang tidak menentu, Cohen kini menyarankan mahasiswanya untuk mencari peluang di negara lain, seperti Kanada atau Eropa. “Iklim politik di sini sekarang berbahaya bagi warga Palestina,” ujarnya. (YA)





