Jakarta – Program Sekolah Rakyat, besutan Presiden Prabowo Subianto, kini telah menunjukkan geliatnya.
Berawal dari 100 bangunan sekolah perintis yang beroperasi sejak 14 Juli 2025, kini jumlahnya telah melonjak signifikan menjadi 165 titik, dengan target mencapai 500 sekolah.
Program ini bukan sekadar menambah fasilitas pendidikan, melainkan sebuah senjata ampuh untuk memutus transmisi kemiskinan di Indonesia.
Kepala Daerah Siapkan Lahan
Antusiasme menyambut program ini datang dari berbagai daerah. Wakil Menteri Sosial (Wamensos), Agus Jabo Priyono mengungkapkan dalam Rapat Kerja bersama Komite III Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, bahwa banyak kepala daerah telah menyiapkan lahan untuk pembangunan sekolah permanen.

“Sampai sekarang kita masih membuka. Siapa pun bupati, walikota, gubernur yang mau mengusulkan pembangunan Sekolah Rakyat, kita masih membuka,” kata Agus Jabo.
Ia menambahkan, respons positif dari para pemimpin daerah ini menjadi sinyal kuat keberlanjutan program yang digagas Presiden.
Fokus Pendidikan Dini
Meskipun kewenangan penentuan jumlah sekolah berada di tangan Presiden, Wamensos menegaskan bahwa arahan Presiden sudah jelas, setiap pemerintah daerah (Pemda) minimal harus memiliki satu Sekolah Rakyat.
“Perintah pak presiden setiap pemda itu harus memiliki minimal satu Sekolah Rakyat,” jelasnya.
Setiap sekolah permanen nantinya akan mampu menampung hingga 1.000 murid, mulai dari jenjang SD, SMP, hingga SMA.
Agus Jabo memaparkan bahwa Presiden Prabowo secara khusus meminta, agar program ini memprioritaskan anak-anak di jenjang SD.
Alasannya tak lain adalah upaya untuk memutus rantai kemiskinan sejak dini, memberikan kesempatan yang sama kepada semua anak untuk meraih masa depan yang lebih baik. (NR)





