New York, AS – Di hadapan para pemimpin dan delegasi dari seluruh dunia, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto menyampaikan sebuah pidato yang tak hanya memukau, tetapi juga menandai sebuah pergeseran strategis dalam diplomasi Indonesia.
Pidato yang disampaikan pada Sidang Majelis Umum PBB ini dinilai penuh bobot dan strategis, membawa narasi yang kuat tentang keadilan global, perdamaian, dan peran aktif Indonesia yang kini siap melangkah dari sekadar penonton menjadi pemain kunci.
Panggilan Moral & Kesiapan Bertindak
Pidato Prabowo dibuka dengan sebuah fondasi moral yang kuat. Ia mengutip filsuf Thucydides, “Yang kuat melakukan apa yang mereka bisa, yang lemah menderita apa yang harus mereka tanggung,” sebagai fondasi untuk menyampaikan pesan utamanya: bahwa di dunia modern, kebenaran harus menjadi landasan, bukan kekuatan.
Namun, momen yang paling krusial dan menjadi sorotan utama adalah ketika pidato tersebut beralih, dari filosofi ke komitmen konkret yang mengejutkan banyak pihak.
- Komitmen 20.000 Pasukan: Prabowo secara tegas menyatakan, “Jika dan ketika Dewan Keamanan dan Majelis ini memutuskan, Indonesia siap mengerahkan 20.000 atau bahkan lebih putra-putri bangsa kami untuk membantu mengamankan perdamaian di Gaza, Ukraina, Sudan, Libya, di mana pun perdamaian perlu ditegakkan dan dijaga.”

Pernyataan ini bukan sekadar janji, melainkan sebuah aksi nyata yang menunjukkan keseriusan Indonesia untuk berkontribusi secara signifikan dalam resolusi konflik global, menempatkan bangsa ini sebagai aktor yang diperhitungkan.
Jembatan Perdamaian & Konflik Global
Selain komitmen militer, pidato ini juga menyoroti peran diplomatik Indonesia sebagai jembatan perdamaian.
Terutama dalam isu yang sangat sensitif seperti konflik Palestina-Israel, Prabowo menunjukkan pendekatan yang berimbang dan konstruktif.
- Pendekatan Berimbang: Ia menegaskan kembali dukungan penuh Indonesia terhadap solusi dua negara, namun pada saat yang sama, ia juga menekankan pentingnya jaminan keselamatan dan keamanan bagi semua pihak.
“Kita harus memiliki Palestina yang merdeka, tetapi kita juga harus mengakui, menghormati, dan menjamin keselamatan serta keamanan Israel,” ujarnya, menunjukkan bahwa perdamaian sejati hanya dapat terwujud jika hak dan keamanan semua pihak terjamin.

Pesan dalam pidato ini berhasil menyentuh sisi kemanusiaan yang mendalam, dan menunjukkan bahwa narasi yang dibangun Prabowo memiliki resonansi yang kuat di antara para pemimpin dunia. Usai pidato Prabowo pun mendapat standing ovation.
Pidato Presiden Prabowo di Sidang PBB merupakan pernyataan tegas yang menandai babak baru bagi Indonesia di panggung global.
Ini adalah pidato yang tidak hanya tentang apa yang telah dilakukan Indonesia, tetapi juga tentang apa yang siap Indonesia lakukan di masa depan.
Pidato ini secara gamblang menunjukkan tekad Indonesia untuk beralih dari diplomasi yang reaktif menjadi diplomasi yang proaktif.
Siap mengambil peran aktif dalam menyelesaikan konflik global, dan mewujudkan dunia yang lebih adil bagi semua. (YA)
Baca juga :





