AI Mengancam Perdamaian Dunia ? Menlu Sugiono Minta PBB Segera Ambil Alih Kendali

Indonesia Desak Tata Kelola Global Untuk Mencegah Perlombaan Senjata Cerdas

New York, AS – Kecerdasan buatan (AI) kini bukan lagi sekadar fiksi ilmiah, tetapi ancaman nyata bagi perdamaian dunia.

Hal ini ditegaskan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono di markas besar PBB, New York.

Dalam pidatonya Menlu Sugiono memperingatkan bahwa tanpa tata kelola yang bertanggung jawab, AI bisa berubah menjadi pemicu konflik global, alih-alih menjadi kekuatan untuk perdamaian.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam Debat Terbuka Dewan Keamanan PBB bertema “AI in Military and Security Domain”.

Menlu Sugiono menyoroti bagaimana pemanfaatan AI, terutama di ranah militer, bisa membawa resiko yang sangat besar.

Menlu Sugiono

“Indonesia percaya bahwa AI dapat dimanfaatkan untuk menyelamatkan nyawa, termasuk dalam operasi kemanusiaan dan respons bencana. Namun, jika tidak dikendalikan, AI justru bisa memicu perlombaan senjata, memperkuat aktor non-negara yang tidak bertanggung jawab, dan mengganggu stabilitas regional,” tegas Menlu Sugiono.

Kendali Manusia atau Algoritma ?

Kekhawatiran utama Indonesia adalah semakin dalamnya keterlibatan AI dalam sistem operasi dan kendali nuklir.

Menlu Sugiono menyebut ini sebagai “ancaman nyata yang harus dicegah.” Dia menekankan bahwa kendali harus tetap berada di tangan manusia, bukan diserahkan sepenuhnya pada algoritma.

“Kendali harus tetap dipegang oleh manusia dengan penuh tanggung jawab dan akuntabilitas,” ungkapnya, seraya menegaskan bahwa hukum internasional seperti Piagam PBB dan hukum humaniter harus menjadi landasan utama.

Indonesia juga menyerukan pentingnya tata kelola multilateral yang inklusif. Artinya, setiap negara harus dilibatkan dalam perumusan norma dan aturan terkait AI, bukan hanya mereka yang memiliki kemampuan teknologi.

“Indonesia menyerukan pentingnya kerjasama internasional untuk membangun kapasitas, berbagi pengetahuan, dan memastikan akses yang setara,” pungkasnya.

Peran sektor swasta dan peneliti juga dianggap krusial, untuk memastikan inovasi AI tetap sejalan dengan etika dan kemanusiaan. Menlu Sugiono juga mengingatkan hal itu, agar kesenjangan digital tidak semakin melebar. (YA)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *