Israel-Hamas Sepakat Gencatan Senjata & Tukar Sandera, Akhir Perang di Depan Mata ?

Kesepakatan Fase Pertama Rencana Damai Diterima, Pasukan Israel Mulai Ditarik Mundur

Gaza – Setelah dua tahun konflik yang menghancurkan, harapan besar muncul di Timur Tengah.

Israel dan Hamas sepakat menghentikan pertempuran di Gaza untuk memulai pembebasan sandera yang tersisa, ditukar dengan tahanan Palestina.

Kesepakatan perdamaian yang diajukan oleh pemerintahan Donald Trump, membuka jalan bagi kemungkinan berakhirnya perang yang telah menewaskan puluhan ribu warga Palestina.

Pengumuman ini disambut dengan kelegaan luar biasa. Di Tel Aviv, keluarga para sandera yang tersisa tak kuasa menahan air mata bahagia dan langsung merayakan dengan botol sampanye.

Sementara di Gaza, warga sipil yang lelah dan berulang kali mengungsi menyebut kesepakatan ini sebagai ‘anugerah dari Tuhan’.

Kesepakatan Fase Pertama

  • 20 Sandera Hidup Segera Dibebaskan: Hamas berencana melepas semua 20 sandera Israel yang masih hidup dalam hitungan hari.
  • Penarikan Pasukan Israel: Militer Israel akan memulai penarikan pasukan dari sebagian besar Gaza ke batas yang disepakati.
  • Langkah Awal Menuju Perdamaian Abadi: Presiden Trump menyebut ini adalah langkah pertama menuju “Perdamaian yang Kuat, Abadi, dan Kekal.”

Penuh Haru dan Skeptisisme

Presiden Donald Trump mengumumkan kabar ini di media sosial pada Rabu malam, menegaskan bahwa “SEMUA Sandera akan segera dibebaskan.”

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu segera menyusul dengan pernyataan: “Dengan pertolongan Tuhan kami akan membawa mereka semua pulang.”

Netanyahu dijadwalkan mengumpulkan pemerintah pada Kamis untuk meresmikan persetujuan ini.

Namun, di tengah gelombang kegembiraan, masih tersisa kehati-hatian.

“Kami lelah, kami terusir dan inilah hari yang kami tunggu. Kami ingin pulang,” kata Alaa Abd Rabbo, seorang warga Gaza yang terpaksa pindah beberapa kali karena pertempuran, kepada kantor berita The Associated Press.

Warga Palestina merayakan setelah pengumuman itu – Foto: Dok. AP News

Skeptisisme pun muncul dari pihak Palestina, terutama terkait janji penarikan penuh Israel.

Ahmed al-Farra, Direktur Jenderal Pediatri di Rumah Sakit Nasser di Khan Yunis menyatakan keraguannya terhadap Israel yang menepati perjanjian, berdasarkan pengalaman masa lalu.

“Kami harus kembali hidup,” ujar al-Farra, menyampaikan harapan tipis di tengah keraguan.

Di sisi lain, kebahagiaan para keluarga sandera tak terbendung. Einav Zangauker, ibu dari tawanan Israel Matan Zangauker, mengatakan kepada wartawan bahwa impian terbesarnya hanya satu.

“Jika saya punya satu impian, itu adalah melihat Matan tidur di tempat tidurnya sendiri.”

Rencana Trump & Masalah Mengganjal

Kesepakatan ini lahir setelah negosiasi yang intens di Mesir selama tiga hari, melibatkan mediator dari Qatar, dan utusan khusus dari pihak Trump seperti Steve Witkoff dan Jared Kushner.

Rencana perdamaian yang diajukan Trump, meskipun disambut baik sebagai terobosan, masih memiliki aspek yang belum jelas:

  • Nasib Hamas: Ketidakpastian besar masih menyelimuti, bagaimana dan apakah Hamas akan melucuti senjata.
  • Pemerintahan Gaza Pasca-Perang: Siapa yang akan memerintah Gaza setelah perang ? Rencana ini mengisyaratkan peran bagi Otoritas Palestina setelah reformasi besar, sesuatu yang ditentang oleh PM Netanyahu.
  • Negara Palestina: Rencana Trump sangat ambigu tentang negara Palestina di masa depan—gagasan yang secara tegas ditolak Netanyahu.

Kendati demikian, bagi ribuan warga yang menderita, kesepakatan gencatan senjata ini adalah secercah harapan yang paling nyata sejak perang dimulai.

“Ini hari yang luar biasa, sukacita yang luar biasa,” kata Ahmed Sheheiber, seorang warga Palestina yang mengungsi, menunggu dengan tidak sabar agar gencatan senjata berlaku.(YA)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *