Maar Shamarin, Suriah – Penduduk mulai kembali ke desa-desa mereka di pedesaan Idlib selatan, wilayah yang dulunya merupakan garis depan dalam perang sipil Suriah, setelah bertahun-tahun mengungsi.
Namun, upaya untuk memperbaiki dan membuka kembali sekolah-sekolah yang rusak dan dijarah, menjadi kunci bagi kepulangan para pengungsi.
Hampir setahun setelah mantan Presiden Bashar Assad dilengserkan dalam serangan pemberontak, ratusan sekolah di wilayah tersebut masih hancur.
Jutaan anak di Suriah tidak bisa sekolah, sementara yang lain harus mengikuti pelajaran di bangunan yang luluh lantak tanpa fasilitas dasar.
Gedung Sekolah Rusak Parah
The Associated Press menulis cerita Safiya al-Jurok dan keluarganya, yang melarikan diri dari kota Maar Shamarin lima tahun lalu.
Setelah jatuhnya Assad Desember lalu, keluarga itu kembali dan kini tinggal di tenda yang sama mereka gunakan saat mengungsi di samping sisa-sisa rumah mereka yang hancur.
Sekolah dasar setempat telah dibuka kembali bulan lalu, dan al-Jurok mengirim ketiga anaknya. Bangunan sekolah berbentuk L itu compang-camping, dindingnya dipenuhi lubang peluru, dan catnya mengelupas.

Di dalam ruang kelas, cahaya matahari menembus bingkai jendela yang bolong tanpa kaca. Para siswa duduk bersila di atas selimut tipis yang digelar di lantai yang dingin.
“Jika hujan, itu akan menimpa anak-anak saya” melalui jendela yang rusak, kata al-Jurok kepada The Associated Press. Al-jurok juga menambakan “Sekolah ini bahkan tidak memiliki air mengalir.”
Sementara itu Abdullah Hallak, Kepala Sekolah mengatakan gedung itu kehilangan hampir segalanya.
Mulai dari meja, jendela, pintu, dan bahkan tulangan baja telah dicuri. Ini terjadi di banyak kota di Idlib selatan setelah penduduk melarikan diri.
“Anak-anak kami datang ke sini di mana tidak ada tempat duduk, tidak ada papan tulis dan tidak ada jendela, dan seperti yang Anda tahu, musim dingin akan datang,” kata Hallak kepada The Associated Press.
“Beberapa orang tua menelepon kami untuk mengeluh bahwa anak-anak mereka sakit karena duduk di lantai, jadi mereka menyuruh mereka bolos sekolah,” Tambahnya.
Upaya Masif Membangun Sekolah
Menurut Wakil Menteri Pendidikan, Youssef Annan, 40% sekolah di seluruh Suriah masih hancur, sebagian besar berada di pedesaan Idlib dan Hama.
Di Idlib saja, 350 sekolah tidak dapat digunakan, dan baru sekitar 10% yang telah direhabilitasi sejauh ini.
“Banyak sekolah dilucuti hingga telanjang, dengan besi dicuri dari atap dan struktur, membutuhkan waktu bertahun-tahun dan dana signifikan untuk membangun kembali,” ujarnya.

Meskipun tahun ajaran baru telah dimulai pada pertengahan September, sekitar 2,5 hingga 3 juta anak di Suriah masih belum bersekolah, menurut Meritxell Relano Arana, perwakilan UNICEF di Suriah.
“Akses pendidikan bagi banyak anak di Suriah sulit. Banyak sekolah telah hancur, banyak guru tidak kembali untuk mengajar, dan banyak anak bahkan tidak punya uang untuk membeli perlengkapan sekolah,” katanya.
Selain infrastruktur, Relano menekankan bahwa sekolah memainkan peran kunci dalam pemulihan psikologis bangsa.
“Banyak anak mengalami trauma akibat konflik bertahun-tahun, jadi mereka perlu kembali ke sekolah yang aman di mana dukungan psikososial tersedia,” tambahnya.
Sekolah Dasar Maar Shamarin kini menampung sekitar 450 siswa dari kelas satu hingga empat, tetapi permintaan terus meningkat.
Kurangnya kursi dan perlengkapan sekolah membuat guru sulit menjaga ketertiban, dan banyak siswa tertinggal secara akademis setelah bertahun-tahun mengungsi.(YA)





