Washington – Amerika Serikat meluncurkan operasi militer skala besar di Venezuela pada Sabtu (3/1/2026) dini hari waktu setempat yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro.
Presiden AS, Donald Trump, mengonfirmasi bahwa Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, telah ditahan dan diterbangkan keluar dari negara tersebut untuk menghadapi proses hukum di Amerika Serikat.
Operasi kilat yang berlangsung kurang dari 30 menit ini melibatkan serangan udara di ibu kota Caracas.

Melalui platform Truth Social, Trump menyatakan bahwa operasi tersebut berjalan sukses dan dilakukan melalui koordinasi dengan penegak hukum AS. Penangkapan ini terkait dengan dakwaan “narkoterorisme” yang telah dijatuhkan kepada Maduro oleh pengadilan New York sejak Maret 2020 Kutip BBC News.
Respons Pemerintah Venezuela
Wakil Presiden Venezuela, Delcy Rodriguez, mengutuk keras tindakan tersebut dan menyebutnya sebagai “serangan imperialis.”
Dalam pernyataan resminya, Rodriguez mendesak rakyat Venezuela untuk turun ke jalan melakukan mobilisasi massa guna menolak agresi militer tersebut.
“Kami tidak tahu keberadaan Presiden Nicolás Maduro dan Ibu Negara Cilia Flores. Kami menuntut bukti bahwa mereka masih hidup,” tegas Rodriguez.
Saat ini, otoritas Venezuela telah mengaktifkan seluruh rencana pertahanan nasional untuk menghadapi gangguan eksternal.
Di Caracas, kepanikan melanda warga sipil saat jet tempur terbang rendah di atas pemukiman. “Seluruh tanah bergetar.
Ini mengerikan. Kami mendengar ledakan dan suara pesawat,” ujar Carmen Hidalgo, seorang pekerja kantor berusia 21 tahun kepada awak media termasuk BBC News di lokasi.

Beberapa wilayah di ibu kota dilaporkan mengalami pemadaman listrik total. Meskipun milisi sipil bersenjata mulai tampak di beberapa titik, sejumlah jalan utama di Caracas terpantau sepi saat warga memilih berlindung di dalam rumah sesuai instruksi keamanan.
Konteks dan Latar Belakang
Ketegangan antara Washington dan Caracas telah memuncak selama beberapa bulan terakhir. Pemerintahan Trump terus meningkatkan tekanan militer dengan dalih memerangi kartel narkoba di kawasan Karibia.
Sebelum serangan hari ini, AS telah melakukan sedikitnya 35 serangan terhadap kapal-kapal yang dicurigai membawa narkoba sejak September lalu.
Sejumlah pihak di Kongres AS mulai mempertanyakan legalitas konstitusional dari serangan ini, mengingat tidak adanya deklarasi perang resmi. Namun, Departemen Luar Negeri AS melalui Deputi Sekretaris Christopher Landau menyebut momen ini sebagai “fajar baru bagi Venezuela.”(YA)





