Siswa IKN Kini Jago Teknologi Lewat Aplikasi

Bukan lagi sekadar teori, murid SD di Sepaku mulai kuasai dunia digital

Sepaku – Dulu, memegang mouse (tetikus) saja terasa canggung bagi para siswa di SDN 020 Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara. Namun kini, laboratorium komputer di sekolah yang terletak di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) tersebut telah berubah menjadi arena eksplorasi digital yang hidup.

Melalui implementasi Super Aplikasi Rumah Pendidikan yang diluncurkan oleh Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kemendikdasmen, literasi digital siswa di wilayah 3T ini melonjak drastis. Per Senin (2/3/2026), tercatat sebanyak 155 dari 328 siswa aktif memanfaatkan fitur Ruang Murid, mencatatkan tingkat adopsi digital sebesar 47,2 persen.

Dari Canggung Menjadi Percaya Diri

Perubahan paling signifikan terlihat pada perilaku belajar siswa. Jika sebelumnya teknologi dianggap sebagai benda asing yang rumit, kini siswa mampu membuka aplikasi, mencari materi, hingga mengerjakan tugas secara mandiri.

Syarinah, salah satu guru di SDN 020 Sepaku, menceritakan bagaimana suasana kelas berubah sejak aplikasi ini hadir. “Awalnya banyak siswa canggung. Sekarang mereka lebih percaya diri, berani mengeksplorasi konten tanpa takut salah,” ungkapnya.

Foto: Dok. Kemendikdasmen

Menurut Syarinah, Rumah Pendidikan bukan sekadar alat bantu, melainkan media yang memerdekakan siswa untuk tumbuh di dunia digital secara positif.

Keberhasilan ini tidak terjadi dalam semalam. Ada strategi matang yang diterapkan di balik angka 47,2 persen tersebut:

  • Pemanfaatan Rutin: Jadwal akses aplikasi dilakukan dua kali sebulan (2 x 35 menit).
  • Keterlibatan Guru: Sebanyak 16 guru aktif mendampingi dan memaksimalkan fitur utama.
  • Konten Variatif: Penggunaan fitur Lab Maya, Buku Digital, hingga Game Interaktif yang menarik minat siswa.
  • Penguatan Karakter: Integrasi modul “Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”.
  • Kolaborasi KKG: Berbagi praktik baik melalui forum Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus 2 Kecamatan Sepaku.

Rantai Putus Sekolah dengan Teknologi

Kepala Pusdatin, Yudhistira Nugraha, menekankan bahwa digitalisasi di wilayah pelosok memiliki misi yang lebih besar daripada sekadar modernisasi. Super Aplikasi ini dirancang sebagai “intervensi cerdas” untuk menekan angka putus sekolah.

“Rendahnya kesadaran dan dorongan sosial untuk bekerja di usia muda sering memicu anak putus sekolah. Rumah Pendidikan diharapkan menjadi daya tarik pembelajaran yang inklusif dan berkualitas,” ujar Yudhistira.

Dengan konten audio-visual yang dinamis, guru kini lebih leluasa menerapkan pembelajaran berdiferensiasi sebuah metode yang menyesuaikan materi dengan gaya belajar masing-masing anak.

Meski baru mencapai angka 47,2 persen, pihak sekolah optimis menyongsong semester depan. Fokus utama saat ini adalah penguatan infrastruktur laboratorium komputer dan optimalisasi kemampuan teknis guru. Targetnya jelas: 80 persen siswa harus terliterasi digital secara penuh (NR)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *