Perang Iran: AI Ubah Kecepatan Serangan Militer

Teknologi Claude Persingkat Rantai Keputusan Serangan

Teheran – Penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam serangan militer terhadap Iran menandai dimulainya era baru peperangan yang bergerak lebih cepat dari “kecepatan berpikir” manusia.

Teknologi ini memungkinkan identifikasi target hingga peluncuran rudal terjadi dalam hitungan detik, memicu kekhawatiran bahwa peran manusia dalam pengambilan keputusan strategis mulai terpinggirkan.

Berdasarkan rilis The Guardian, Militer Amerika Serikat dilaporkan menggunakan model AI bernama Claude milik perusahaan Anthropic untuk mempercepat kill chain atau rantai serangan.

Dalam 12 jam pertama operasi, AS dan Israel meluncurkan hampir 900 serangan ke target-target di Iran. Operasi tersebut termasuk serangan rudal yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Struktur serangan yang masif dan instan ini dimungkinkan oleh fenomena yang disebut para ahli sebagai decision compression atau kompresi keputusan. Seperti:

  • Kecepatan Ekstrim: AI mampu memproses data intelijen dari drone, penyadapan telekomunikasi, dan laporan lapangan secara simultan untuk menentukan target.
  • Otomatisasi Logistik: Sistem seperti milik Palantir tidak hanya memilih target, tetapi juga merekomendasikan jenis senjata berdasarkan ketersediaan stok dan efektivitas historis.
  • Evaluasi Hukum Otomatis: AI digunakan untuk menilai dasar hukum sebuah serangan sebelum direkomendasikan kepada komandan manusia.
  • Skala Serangan: Proses perencanaan kompleks yang biasanya memakan waktu hari atau minggu kini dapat diselesaikan dalam hitungan menit.

Craig Jones, pakar rantai serangan dari Newcastle University, menjelaskan bahwa teknologi ini memungkinkan serangan gaya pembunuhan dilakukan bersamaan dengan pelumpuhan kemampuan respons rezim.

“Anda melakukan segalanya sekaligus. Ini jauh lebih cepat daripada kecepatan berpikir manusia,” ujarnya Kepada The Guardian

Namun, efisiensi ini membawa dampak kemanusiaan yang nyata. Media pemerintah Iran melaporkan sebuah rudal menghantam sekolah di Iran selatan pada hari Sabtu (28/2/2026), menewaskan 165 orang yang mayoritas adalah anak-anak. Lokasi tersebut berada di dekat barak militer, dan PBB menyebut insiden ini sebagai pelanggaran berat hukum kemanusiaan.

Kekhawatiran moral juga muncul terkait cognitive off-loading. David Leslie, Profesor Etika dan Teknologi di Queen Mary University, memperingatkan bahwa ketergantungan pada AI dapat membuat pengambil keputusan manusia merasa terlepas dari konsekuensi serangan.

“Sistem ini memberikan opsi dengan jendela waktu yang sangat sempit bagi manusia untuk mengevaluasi rekomendasi tersebut,” kata Leslie.

Kondisi ini dikhawatirkan membuat ahli militer dan hukum manusia hanya sekadar menjadi “stempel” bagi rencana serangan yang disusun otomatis oleh mesin.

Saat ini, AS sedang dalam masa transisi penggunaan teknologi Anthropic sebelum beralih ke OpenAI yang telah menandatangani kesepakatan baru dengan Pentagon.

Sementara itu, program AI Iran dilaporkan tertinggal jauh akibat sanksi internasional, meskipun Teheran mengklaim telah menanamkan AI pada sistem penargetan rudal mereka sejak 2025.(YA)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *