Minab, Iran – Gelombang duka mendalam menyelimuti Kota Minab, selatan Iran, pada Rbu(4/3/2026). Ribuan pelayat memadati jalan-jalan utama untuk melepas jenazah para siswa dan staf sekolah yang menjadi korban serangan udara fatal pada Sabtu (28/2/2026) lalu.
Otoritas Iran melaporkan lebih dari 160 orang, mayoritas siswi perempuan, tewas dalam insiden tersebut.
Teheran menuding pasukan Amerika Serikat dan Israel sebagai dalang serangan yang menghantam gedung pendidikan di tengah operasi militer skala luas.
Siaran televisi nasional Iran menampilkan pemandangan emosional saat peti mati berbalut bendera Republik Islam diarak di tengah kerumunan.
Isak tangis orang tua yang kehilangan anak-anak mereka pecah saat prosesi pemakaman berlangsung.

Berdasarkan laporan resmi yang dirilis BBC News , sekolah tersebut dihantam oleh tiga rudal pada Sabtu pagi. Mengingat Sabtu adalah hari kerja di Iran, gedung sekolah dipastikan sedang dalam kondisi penuh aktivitas saat ledakan terjadi.
Pezeshkian Kecam “Tindakan Barbar”
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengutuk keras insiden ini dan menyebutnya sebagai lembaran hitam tambahan dalam daftar kejahatan agresor. “Ini adalah tindakan barbar,” tegas Pezeshkian sebagaimana dikutip dari BBC News.
Menteri Luar Negeri Seyed Abbas Araghchi turut bereaksi melalui media sosial dengan mengunggah foto penggalian liang lahat massal. Ia melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump.
“Beginilah rupa ‘penyelamatan’ yang dijanjikan oleh Tuan Trump dalam kenyataan,” tulis Araghchi dalam unggahannya.
Bantahan Keras Amerika Serikat
Dari Washington, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memberikan klarifikasi resmi pada Senin (2/3/2026). Ia menegaskan bahwa pihak militer Amerika Serikat tidak memiliki motif untuk menyerang infrastruktur sipil.

“Amerika Serikat tidak akan secara sengaja menargetkan sebuah sekolah. Kami tidak memiliki kepentingan dan insentif untuk melakukan itu,” ujar Rubio dalam konferensi pers tersebut.
Senada dengan Rubio, Juru Bicara Komando Pusat AS (Centcom), Tim Hawkins, menyatakan pihaknya tengah meninjau laporan tersebut dengan serius. Ia menekankan bahwa perlindungan warga sipil tetap menjadi prioritas utama dalam setiap operasi.
Hingga saat ini, militer Israel menyatakan “tidak mengetahui” adanya operasi yang dilakukan di wilayah tersebut pada waktu kejadian.
Dunia internasional masih menunggu hasil investigasi lebih lanjut mengenai asal-usul proyektil tersebut.
Pihak independen, termasuk media internasional dan BBC News , mengakui adanya kendala dalam memverifikasi jumlah korban secara mandiri. Hal ini disebabkan oleh pembatasan akses dan visa bagi jurnalis asing di wilayah Iran.
Namun, verifikasi terhadap rekaman video pasca-ledakan menunjukkan bukti visual berupa kepulan asap membubung dari bangunan sekolah. Video tersebut juga merekam kepanikan warga yang berusaha menolong korban di reruntuhan.(YA)





