Teheran – Pencarian sosok pengganti mendiang Ali Khamenei kini mengarah kuat pada putra keduanya, Mojtaba Khamenei.
Penunjukan pria berusia 55 tahun tersebut dipandang sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas Republik Islam di tengah periode paling turbulen dalam 48 tahun sejarahnya.
Berdasarkan Rilis yang ditulis The Guardian,Kabar mengenai suksesi ini muncul di saat upacara pemakaman Ali Khamenei, yang sedianya berlangsung Rabu (4/3/2026), diputuskan untuk ditunda.
Meski belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah, Mojtaba diyakini merupakan kandidat pilihan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Penunjukan ini pun langsung memicu reaksi keras dari luar negeri. Menteri Pertahanan Israel, Gideon Saar, telah mengeluarkan peringatan keras terkait posisi Mojtaba.
Sementara itu, di Washington, Sekretaris Negara AS Marco Rubio menyebut kepemimpinan Iran saat ini sebagai kelompok yang sulit diajak berkompromi secara ideologis, sebuah pandangan yang kemungkinan besar akan diperkuat dengan naiknya Mojtaba.
Mekanisme Seleksi & Kontroversi Dinasti
Secara konstitusional, keputusan berada di tangan Majelis Ahli yang beranggotakan 88 ulama. Ayatollah Seyed Khatami, salah satu anggota Majelis, menyatakan bahwa proses seleksi telah mendekati tahap akhir.
“Majelis hampir menyelesaikan pemilihan pemimpin baru,” ujar Khatami, merujuk pada penyaringan dari enam kandidat potensial Kutip The Guardian
Terpilihnya Mojtaba dipandang sebagai simbol bahwa Iran tidak berniat mencari titik temu dengan Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump.
Trump sendiri sebelumnya menyatakan bahwa skenario terburuk bagi diplomasi adalah jika penerus Khamenei memiliki pandangan yang “sama ekstremnya dengan pendahulunya.”
Namun, isu suksesi yang bersifat turun-temurun ini mendapat penolakan dari kelompok reformis di dalam negeri. Mantan Perdana Menteri Mir Hossein Mousavi telah mempertanyakan rumor ini sejak lama.
“Kabar mengenai konspirasi (suksesi keluarga) ini telah terdengar selama 13 tahun. Jika mereka benar-benar tidak mengejarnya, mengapa mereka tidak membantah niat tersebut sekali saja?” tulis Mousavi dalam sebuah catatan tahun 2022.
Profil Mojtaba Khamenei
Lahir pada tahun 1969, Mojtaba bukanlah sosok baru dalam lingkaran kekuasaan Iran. Ia pernah bertugas dalam Perang Iran-Irak pada usia 17 tahun dan mulai dikenal publik pada akhir 1990-an saat membantu mengonsolidasi kekuatan konservatif pasca kekalahan kandidat pilihan ayahnya dalam pemilu 1997.
- Pendidikan: Mempelajari teologi dan mendapatkan gelar Ayatollah pada tahun 2022, sebuah syarat penting untuk posisi Pemimpin Tertinggi.
- Peran Politik: Dianggap sebagai tokoh kunci di balik penumpasan protes reformis tahun 2009.
- Kekuatan Finansial: Mengelola kekaisaran finansial ayahnya dan memiliki pengaruh besar di media resmi pemerintah (IRIB).
Situasi di Teheran tetap tegang setelah Israel dilaporkan menyerang sebuah bangunan di Qom yang dijadwalkan menjadi lokasi pertemuan Majelis Ahli pada Selasa (3/3/2026) lalu.
Media yang berafiliasi dengan IRGC melaporkan bahwa gedung tersebut dalam keadaan kosong saat serangan terjadi. (YA)





