Roma, Italia – Stadion Olimpico jadi saksi betapa “keras kepalanya” Atalanta musim ini. Duel leg pertama semifinal Coppa Italia 2025/2026, berlangsung panas pada Kamis (05/03//26) dinihari.
Lazio harus gigit jari setelah kemenangan yang sudah di depan mata dirampas tendangan “gledek” Yunus Musah hanya dua menit sebelum laga usai. Skor imbang 2-2 menjadi hasil yang adil, namun terasa menyakitkan bagi Lazio.
Bagi Atalanta, ini adalah bukti mentalitas baja. Meski dua kali tertinggal dan sempat “dikerjai” VAR, anak asuh Raffaele Palladino menunjukkan bahwa mereka adalah tim yang menolak mati sebelum peluit panjang berbunyi.
Atalanta mendominasi babak pertama, namun gol Krstovic dianulir VAR, dan tendangan voli Zappacosta membentur mistar.
Seni ‘Comeback’ Kilat La Dea
Lazio sebenarnya sempat mengira mereka sudah memegang kendali saat Fisayo Dele-Bashiru mencetak gol di awal babak kedua.
- Namun, Olimpico seketika terdiam saat Mario Pasalic menunjukkan insting predatornya. Ia memanfaatkan bola muntah hasil tendangan Samardzic untuk menyamakan kedudukan empat menit setelah gol Lazio.
- Puncak drama terjadi di akhir laga, saat stadion bergemuruh merayakan gol Boulaye Dia di menit ke-87 yang tampaknya akan mengunci kemenangan Lazio.
- Namun Atalanta melakukan apa yang terbaik: menyerang tanpa ampun. Lewat skema serangan balik cepat, Yunus Musah melepaskan tembakan kaki kanan yang menghujam deras ke gawang Provedel dan kembali menyamakan skor 2-2 hingga akhir laga.

“Kami tidak pernah menyerah,” tegas Musah usai pertandingan, menggambarkan filosofi yang kini mendarah daging di skuad Bergamo tersebut.
Dilansir dari Situs Resmi Atalanta, Pelatih Raffaele Palladino tak bisa menyembunyikan kepuasannya. Meski gagal menang, membawa pulang skor imbang dari Roma adalah modal berharga.
Lazio kini harus menghadapi tekanan besar saat harus bertandang ke New Balance Arena di leg kedua nanti. Strategi Lazio yang mencoba bermain bertahan setelah unggul justru menjadi bumerang.
Kreativitas Kamaldeen yang memberikan asis untuk gol terakhir membuktikan bahwa kedalaman skuad Atalanta jauh lebih siap, dalam menghadapi situasi genting dibandingkan skuad Elang Ibu Kota.
Hasil 2-2 ini membuat peta persaingan masih sangat terbuka. Namun, keuntungan psikologis kini berada di tangan Atalanta.
Dengan dukungan publik Bergamo nanti, Lazio butuh lebih dari sekadar keberuntungan untuk bisa menembus final. (*)
Baca juga :





