Dubai, UEA – Gelombang serangan pesawat nirawak (drone) berbahan baku murah milik Iran dilaporkan telah memicu gangguan signifikan di berbagai wilayah Timur Tengah dalam sepekan terakhir.
Langkah ini dinilai sebagai upaya Teheran untuk melumpuhkan sistem pertahanan udara lawan melalui taktik kuantitas yang masif.
Meski Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya menyatakan bahwa industri rudal Iran akan “dilenyapkan total” saat memulai serangan udara pada Sabtu (28/03/26) lalu, ancaman dari armada drone justru luput dari sorotan utama.
Berdasarkan laporan BBC News dilapangan, enam hari terakhir, Iran tercatat telah meluncurkan lebih dari 2.000 drone berbiaya rendah untuk menciptakan kekacauan regional.
Ancaman Drone ‘Kamikaze’
Drone jenis Shahed yang dijuluki sebagai ‘kamikaze’ ini membawa hulu ledak yang meledak saat benturan. Insiden paling mematikan sejauh ini terjadi di sebuah pangkalan militer di Kuwait, yang menewaskan enam tentara AS.

Selain menyasar target militer, serangan juga menghantam kawasan padat penduduk. Sebuah verifikasi video oleh BBC menunjukkan drone Iran menghantam instalasi radar di Markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Manama, Bahrain.
Sementara itu, di Uni Emirat Arab (UEA), sebuah drone dilaporkan menabrak hotel di kawasan mewah Palm Jumeirah, Dubai.
Sektor energi tidak luput dari dampak serangan. Kilang minyak terbesar Arab Saudi di Ras Tanura terpaksa menghentikan produksi akibat kebakaran, sementara terminal ekspor gas alam cair (LNG) di Qatar ditutup sementara setelah menjadi sasaran.
Efisiensi Biaya dan Teknologi
Para pakar militer menyoroti efektivitas drone Shahed 136 yang memiliki desain sederhana namun mematikan.
Dengan biaya produksi hanya berkisar antara $20.000 hingga $50.000 (sekitar Rp315 juta hingga Rp780 juta), drone ini mampu menempuh jarak hingga 2.500 km menggunakan navigasi satelit pra-program.
“Drone ini telah terbukti sangat efektif dalam konflik sebelumnya,” ujar Mick Mulroy, mantan perwira CIA dan pejabat tinggi pertahanan AS untuk Timur Tengah, kepada BBC News.

Kesuksesan taktis ini mendorong AS mengerahkan versi miliknya sendiri yang disebut Lucas (Low-cost Uncrewed Combat Attack System).
Laksamana Brad Cooper, komandan pasukan AS di Timur Tengah, menyatakan pihaknya telah mengadopsi desain tersebut dengan peningkatan teknologi untuk digunakan kembali dalam operasi terhadap Iran.
Tekanan Psikologis & Stok Senjata
Nicholas Carl, pakar Iran dari American Enterprise Institute, menilai bahwa strategi Iran bertujuan menguras stok rudal interseptor milik AS dan sekutunya.
Sebagai perbandingan, Inggris dilaporkan menggunakan jet tempur RAF dengan rudal seharga £200.000 (sekitar Rp4 miliar) hanya untuk menjatuhkan satu unit drone murah.

“Rezim ini sedang mencoba memaksakan teror dan tekanan psikologis terhadap AS dan mitra regionalnya guna menekan Presiden Trump agar menyetujui kesepakatan gencatan senjata,” kata Carl kepada BBC News
Namun, efektivitas serangan ini mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan. Data militer terbaru menyebutkan intensitas peluncuran drone Iran merosot hingga 83% sejak hari pertama pertempuran, sementara penggunaan rudal balistik turun 90%.
“Iran kini kesulitan untuk mempertahankan intensitas serangan mereka di tengah tekanan militer berkelanjutan dari AS dan Israel,” pungkas Carl. (YA)





