Gilimanuk – Aspal menuju Pelabuhan Gilimanuk kini tak lagi menyisakan ruang kosong. Arus mudik dari Bali menuju Pulau Jawa meledak signifikan dengan kenaikan mencapai 33,8 persen.
Menanggapi lonjakan ini, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) bersama Kementerian Perhubungan resmi menarik tuas “Operasi Sangat Padat” demi menjaga napas pergerakan kendaraan agar tidak terkunci di ujung barat Pulau Dewata.
Data terbaru mencatat sebanyak 80.416 penumpang telah menyeberang, angka yang jauh melampaui periode yang sama tahun lalu.
Tak hanya manusia, volume kendaraan roda dua bahkan melonjak drastis hingga 52,7 persen, memaksa petugas di lapangan bekerja ekstra keras melakukan kanalisasi.
Strategi “Tiba–Bongkar–Berangkat”
Untuk memastikan Selat Bali tidak menjadi titik macet yang statis, ASDP menerapkan skema TBB (Tiba–Bongkar–Berangkat).
Strategi ini menghapus waktu tunggu pemuatan kendaraan pada dermaga-dermaga tertentu. Begitu kapal merapat, muatan diturunkan, dan kapal segera berlayar kembali untuk menjemput antrean berikutnya. Langkah taktis yang dilakukan meliputi:
- Armada Tempur: Pengerahan 35 unit kapal (dari normalnya 28 unit), termasuk 4 kapal tambahan untuk memperkuat daya angkut.
- Pola Satu Arah (One Way): Kepolisian memberlakukan sistem satu arah dalam radius 4,5 km menuju pelabuhan untuk meminimalkan konflik arus.
- Buffer Zone & Kanalisasi: Kendaraan kecil dilarikan ke Terminal Kargo dan UPPKB Cekik sebagai titik pengendali sebelum diizinkan masuk ke area pelabuhan.
- Dermaga Khusus: Optimalisasi dermaga MB1, MB4, dan LCM untuk percepatan rotasi kapal dengan pola 8 trip.
Komando Langsung Dari Jakarta
Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi tidak ingin mengambil risiko. Ia secara khusus memerintahkan Wakil Menteri Perhubungan dan Dirjen Perhubungan Darat untuk turun langsung ke Gilimanuk guna memantau denyut nadi operasional secara real-time.
“Informasi yang cepat dan akurat kini sama pentingnya dengan kesiapan infrastruktur. Kami mendorong percepatan langkah operasional agar kepadatan dapat segera terurai, sehingga mobilitas masyarakat tetap terlayani dengan baik,” tegas Menhub Dudy di Jakarta.

Roda Dua Merajai Jalanan
Lonjakan arus tahun ini menunjukkan pergeseran tren mobilitas yang cukup mencolok dibandingkan tahun 2025, yaitu:
| Jenis Muatan | Jumlah (H-6 2026) | Kenaikan vs 2025 |
| Penumpang | 80.416 orang | +33,8% |
| Motor (Roda 2) | 18.306 unit | +52,7% |
| Mobil (Roda 4) | 5.044 unit | +9,2% |
| Bus | 945 unit | +39% |
| Total Kendaraan | 25.885 unit | +35,4% |
Menariknya, di saat semua moda naik, jumlah truk justru mengalami penurunan sebesar 13,4 persen, memberikan sedikit ruang napas bagi kendaraan pribadi dan bus untuk bergerak lebih leluasa di jalur utama. Koordinasi intensif pun dijalin antara BPTD Bali, operator kapal, hingga otoritas pelabuhan.
ASDP juga mengonfirmasi bahwa ekor antrean sempat menyentuh KM 15, namun berkat pengaturan lalu lintas yang dinamis, kondisi antrean kini mulai terurai secara bertahap.
Di balik hiruk-pikuk antrean, alam tampaknya sedang berpihak pada para pemudik. Berdasarkan pantauan BMKG kondisi cuaca di Selat Bali dilaporkan sangat kondusif untuk pelayaran.
Dengan tinggi gelombang hanya sekitar 1 meter dan jarak pandang mencapai 10 km, proses sandar kapal diperkirakan tidak akan mengalami kendala cuaca yang berarti.
Dengan 35 kapal yang terus berpacu dan komando langsung dari pusat pemerintahan, harapan untuk mudik yang lancar kini digantungkan pada efisiensi “Operasi Sangat Padat”.
Bagi pemudik yang sedang berada dalam antrean, ikutilah arahan petugas di lapangan.
Ingat, perjalanan ini bukan tentang siapa yang tercepat sampai, melainkan tentang bagaimana semua bisa kembali dengan selamat dan bermartabat. Selamat mudik, tetap waspada! (*)





