Idul Fitri: Keteladanan & Rajut Peradaban Damai, Potret Toleransi Tanpa Batas di Pulau Dewata!

Ketum PP Muhammadiyah Ingatkan Perubahan Perilaku Setelah Ramadan, Sementara Pecalang Bali Jaga Sujud Jamaah

Yogyakarta – Di bawah langit cerah Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir menyampaikan pesan mendalam bagi jutaan umat Muslim yang merayakan Idulfitri 1447 H pada Jumat (20/03/26).

Ia menegaskan bahwa keberhasilan puasa tidak diukur dari tuntasnya menahan lapar selama sebulan, melainkan dari transformasi nyata perilaku dan kontribusi terhadap peradaban.

Dalam khutbahnya, Haedar menyoroti fenomena “puasa formal” yang seringkali gagal mengubah akhlak pemeluknya.

“Jangan sampai kita hanya mendapatkan lapar dan dahaga tanpa dampak pada kehidupan sehari-hari,” ujarnya dengan nada mengingatkan di hadapan ribuan jamaah.

Dari Ego Pribadi ke Kepedulian Sosial

Haedar Nashir menekankan bahwa Idulfitri harus menjadi titik balik bagi umat Islam untuk memperbaiki cara pandang terhadap dunia. Di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan, ia menyerukan gaya hidup yang lebih bijak dan produktif.

  • Gaya Hidup Moderat (Tawasuth): Menghindari konsumsi berlebihan dan mengedepankan efisiensi sumber daya.
  • Etos Filantropi: Memperkuat infak dan sedekah sebagai investasi akhirat sekaligus solusi sosial.
  • Kesalehan Digital: Menggunakan media sosial untuk silaturahmi, bukan untuk menyebarkan fitnah, kebencian, atau hujatan.
  • Perlindungan Generasi: Mendidik anak cucu agar tangguh secara spiritual dan intelektual, serta jauh dari jeratan narkoba dan kekerasan.

Idul Fitri Bukan Ajang Debat Perbedaan

Foto: Dok. Muhammadiyah

Satu hal yang menjadi perhatian khusus Haedar adalah sikap dalam menghadapi perbedaan penetapan hari raya.

Sebagaimana diketahui, tahun ini terdapat perbedaan waktu Idulfitri (20 dan 21 Maret). Haedar meminta agar semua pihak, baik warga maupun pemerintah, menahan diri dari keinginan untuk saling menyalahkan.

“Tidak perlu kita mempertajam perbedaan, apalagi mencari pembenaran diri dengan menyalahkan pihak lain. Jalani Idul Fitri dengan khusyuk, agar kita tidak terjebak dalam hasrat perbedaan yang justru meretakkan persatuan,” tegas Haedar Nashir sebagaimana dikutip dari Laman Resmi Muhammadiyah.

Ia juga memberikan “sentilan” kepada para elite bangsa untuk menjadi uswah hasanah (teladan yang baik).

Menurutnya, rakyat butuh contoh nyata tentang bagaimana mengelola toleransi dan kedamaian, di tengah ketertinggalan bangsa yang masih memerlukan kerja keras bersama.

Lebih jauh, Haedar mendorong umat Islam sebagai kelompok mayoritas untuk tidak puas hanya pada aspek kuantitas.

Ia memacu umat untuk menjadi motor penggerak dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi melalui etos kewirausahaan yang tinggi.

“Umat Islam harus menjadi kekuatan utama dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil, dan sejahtera,” katanya optimistis.

Khutbah tersebut ditutup dengan doa menyentuh untuk keselamatan bangsa Indonesia, agar menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, serta permohonan damai bagi saudara-saudara Muslim di belahan dunia yang masih dirundung konflik.

Toleransi Tanpa Batas di Pulau Dewata

Denpasar – Sementara pemandangan menyejukkan tersaji di Pulau Dewata pada Jumat (20/03/26) pagi.

Hanya berselang sehari setelah umat Hindu merayakan keheningan Nyepi, warga Muhammadiyah Bali memenuhi lapangan dan masjid untuk melaksanakan Salat Idul Fitri 1447 H.

Di tengah perbedaan penetapan 1 Syawal dengan pemerintah, ukhuwah dan toleransi di Bali justru semakin teguh, dibuktikan dengan hadirnya pecalang yang ikut mengamankan jalannya ibadah.

Foto: Dok. Antara

Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Bali menegaskan bahwa perbedaan waktu lebaran tahun ini harus dimaknai sebagai rahmat.

Meski sebagian umat Muslim baru akan melaksanakan salat pada Sabtu (21/03/26), suasana di Denpasar dan sekitarnya tetap kondusif, aman, dan penuh rasa hormat.

Harmoni Pasca-Nyepi: Pecalang Siaga

Pelaksanaan Salat Ied tahun ini memiliki tantangan unik, karena berdekatan dengan Hari Raya Nyepi. Namun, hal ini justru menjadi panggung nyata bagi indahnya kerukunan antarumat beragama di Bali.

  • Penjagaan Ketat: Lokasi Salat Ied sudah disiapkan sejak dua hari sebelumnya. Selama umat Hindu melaksanakan Nyepi, pecalang desa adat tetap bersiaga menjaga lokasi-lokasi tersebut selama 24 jam penuh.
  • Kolaborasi Pengamanan: Saat pelaksanaan shalat berlangsung, pecalang bekerja sama dengan pemerintah daerah memastikan ketertiban lalu lintas dan keamanan jamaah.
  • Titik Pelaksanaan: Di Denpasar, jamaah memadati Lapangan Niti Mandala Renon, Mushalla KH Ahmad Dahlan, dan Gedung PWM Bali. Ibadah serupa juga berlangsung tertib di Buleleng, Jembrana, Tabanan, hingga Klungkung.

Ketua PWM Bali, Husnul Fahmi menyatakan bahwa warga Muhammadiyah telah berkomitmen menjaga harmoni dengan mengikuti arahan pusat, termasuk melakukan takbiran secara khusyuk tanpa mengganggu ketenangan umum.

“Jangan jadikan perbedaan sebagai sumber pertentangan. Menjaga kerukunan harus dimulai dari internal kita sendiri, kemudian diperluas kepada sesama Muslim dan umat beragama lain,” tegas Husnul Fahmi saat ditemui di sela-sela kegiatan.

Senada dengan Husnul, Sya’ban selaku khatib di Lapangan Renon mengingatkan bahwa semangat Idul Fitri adalah tentang ukhuwah Islamiah.

Ia menekankan bahwa perbedaan hari tidak boleh sedikit pun mengurangi rasa persaudaraan sesama Muslim di Indonesia.

Meskipun sempat diguyur hujan ringan, antusiasme jamaah tidak surut. Momentum ini dianggap sebagai awal baru untuk meningkatkan kualitas spiritual.

Khatib mengingatkan bahwa indikator diterimanya amalan Ramadan adalah konsistensi dalam menjalankan ibadah wajib maupun sunnah, setelah bulan suci berakhir.

Apa yang terjadi di Bali adalah pesan kuat bagi seluruh bangsa: bahwa perbedaan keyakinan maupun metode penetapan hari raya bisa berjalan berdampingan dengan indah.

Ketika pecalang berdiri tegap menjaga saudaranya yang bersujud, di situlah Idul Fitri menemukan makna kemenangan yang sesungguhnya, kemenangan melawan ego dan fanatisme sempit. (NR)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *