Aceh Tamiang – Gema takbir di Masjid Darussalam, Kabupaten Aceh Tamiang, Sabtu pagi (21/03/26), tidak hanya menandai kemenangan setelah sebulan berpuasa.
Bagi warga di kawasan hunian sementara (huntara), Idul Fitri 1447 Hijriah ini adalah momen haru sekaligus bangkitnya harapan baru.
Di tengah saf jamaah, Presiden Prabowo Subianto hadir, berdiri sejajar dengan 1.300 warga terdampak bencana untuk melaksanakan Salat Id bersama.
Kehadiran orang nomor satu di Indonesia ini menjadi “pelipur lara” bagi masyarakat, yang masih berjuang pulih dari musibah banjir besar.
Tanpa jarak, Presiden bergabung dalam rangkaian ibadah yang khidmat, menunjukkan bahwa negara hadir tepat di jantung kesulitan rakyatnya.
Suntikan Semangat Saf Terdepan
Bagi warga yang kehilangan harta benda, kehadiran fisik seorang pemimpin membawa dampak psikologis yang luar biasa.
Suara parau karena haru terdengar dari bibir para ibu, yang tak menyangka akan merayakan Lebaran bersama Presiden di lokasi pengungsian sementara.
Mereka mengaku senang dan merasa sangat diperhatikan, bahkan merasakan spirit luar biasa. Bagi para ibu, kunjungan ini membuktikan warga tidak ditinggalkan sendirian.
Mereka tak kuasa menahan air mata haru, dan berharap kunjungan ini menjadi pembuka jalan bagi masa depan yang lebih baik, terutama lapangan kerja bagi anak-anak di daerah terdampak.
“Alhamdulillah, Presiden sayang sama orang Aceh Tamiang,” ujar Ibu Ami, Warga Desa Upah, sambil menyeka rasa sedih yang tersisa dari musibah.
“Kehadiran Bapak menambah semangat kami untuk optimistis, kami harus bisa bangkit lagi,” tutur Ibu Ades, Warga Desa Simpang Empat.
Bangkit Dari Duka Pascabencana
Ibadah yang dimulai pukul 07.30 WIB ini dipimpin imam Tengku Junaidi. Dalam khotbah yang disampaikan oleh Zulkhaizir, jamaah diingatkan bahwa Idul Fitri adalah wadah untuk menyatukan hati pascabencana alam.
Khatib menekankan bahwa ujian yang dihadapi harus menjadi momentum untuk memperkuat kesabaran dan tawakal.

Kekuatan sosial melalui ukhuwah (persaudaraan) disebut sebagai modal utama dalam menghadapi masa pemulihan agar masyarakat Aceh Tamiang tidak terpuruk dalam kesedihan yang berlarut.
Kunjungan ini tak sekadar seremonial. Presiden Prabowo memastikan bantuan pemerintah tersalurkan secara merata. Setelah sesi halal bihalal yang hangat, dilakukan penyerahan bantuan simbolis berupa:
- 7.000 Paket Sembako: Disalurkan bagi masyarakat huntara dan warga sekitar yang membutuhkan.
- Perlengkapan Ibadah: Pemberian Al-Qur’an dan pakaian untuk mendukung aktivitas keagamaan warga.
- Dialog Langsung: Presiden memanfaatkan momen ini untuk mendengar langsung aspirasi masyarakat terkait proses pemulihan infrastruktur di Aceh Tamiang.
Lebaran di Aceh Tamiang tahun ini memang tidak dirayakan di rumah yang megah, melainkan di hunian sementara. Namun, kehadiran Presiden Prabowo Subianto telah mengubah duka menjadi energi baru.
Di balik air mata warga, tersimpan keyakinan bahwa masa sulit ini akan terlewati. Kehadiran negara di saf-saf Shalat adalah janji nyata, bahwa tidak ada rakyat yang berjalan sendirian menuju masa depan yang lebih baik. (*)





