Musim Berburu Aset: Perang Seret Dubai ke Jurang Diskon Properti Besar-Besaran!

Badai Perang Mulai Guncang Harga Properti Dubai, Transaksi Anjlok Hingga 50%

Dubai, UEA – Citra Dubai sebagai “surga aman” (safe-haven) bagi kekayaan global kini menghadapi ujian terberatnya.

Pasca meletusnya perang AS-Israel terhadap Iran hampir tiga minggu lalu, pasar properti di Uni Emirat Arab (UEA) mulai menunjukkan tanda-tanda keretakan serius.

Dilansir dari Reuters, berdasarkan data terbaru dari para analis menunjukkan volume transaksi yang terjun bebas serta munculnya tren pemangkasan harga yang mulai dilakukan oleh para pemilik aset.

Ketegangan geopolitik yang melibatkan serangan Teheran terhadap berbagai pangkalan AS dan negara Teluk telah menusuk jantung kepercayaan investor.

Dari laporan estimasi analis Goldman Sachs, volume transaksi real estat di UEA anjlok 37% secara tahunan (YoY) pada 12 hari pertama bulan Maret, dan merosot tajam 49% dibandingkan bulan sebelumnya (MoM).

Diskon Besar di Tengah Ketidakpastian

Di lapangan, narasi “kemewahan tanpa batas” Dubai mulai bersenggolan dengan realitas perang.

Pantauan tim di lapangan serta tinjauan pesan media sosial menunjukkan beberapa properti premium kini ditawarkan dengan diskon kilat antara 12% hingga 15%.

Sebuah pesan dari agen real estat yang ditinjau oleh Reuters mengungkap adanya pemilik properti di dekat Burj Khalifa yang rela memangkas harga dari $ 735.000 menjadi $ 650.000 (sekitar Rp 10,2 Miliar), demi “penjualan cepat” akibat situasi saat ini.

Fenomena serupa terjadi di kawasan elit Palm Jumeirah, di mana sebuah apartemen mewah ditawarkan dengan potongan harga 15% menjadi $ 2 Juta hanya seminggu setelah konflik pecah.

  • Anjloknya Volume: Transaksi bulanan turun hampir separuh dibandingkan Februari.
  • Koreksi Saham: Raksasa properti, Emaar Properties mencatat penurunan saham lebih dari 26% di bursa Dubai sejak perang dimulai.
  • Revisi Populasi: Analis Citi memangkas ekspektasi pertumbuhan populasi Dubai menjadi hanya 1% tahun ini, jauh dari rata-rata 4% pada tahun-tahun sebelumnya.

Antara Kepanikan & Peluang “Distressed”

Foto: Dok. avkubrakeles

Meski data makro menunjukkan perlambatan, para eksekutif real estat di Dubai mencoba tetap tenang.

Mereka menilai pasar tidak berhenti, melainkan sedang bertransformasi menjadi pasar bagi para pemburu aset murah (distressed assets).

Imran Sheikh, pendiri perusahaan investasi BlackOak menegaskan bahwa aktivitas tetap berjalan.

Menariknya, di tengah isu pelemahan, mantan juara UFC Francis Ngannou baru saja membeli unit hunian mewah di Palm Jumeirah senilai $ 25 Juta.

Hal ini dianggap oleh pengembang Arada sebagai bukti, bahwa minat pada residensial mewah belum sepenuhnya padam.

“Banyak investor menelepon kami mencari klien yang mau jual rugi (distress sale). Mereka siap membeli di harga diskon,” ungkap Himanshu Khandelwal, CEO Asas Capital dikutip dari Reuters.

Senada dengan itu, pendiri Emaar Properties, Mohamed Alabbar, menyatakan bahwa sebagian besar pembeli besar tetap fokus pada nilai jangka panjang.

Dubai kini berdiri di persimpangan jalan. Setelah lima tahun menikmati lonjakan harga tanpa henti, perang menjadi katalis yang mempercepat koreksi yang memang sudah diprediksi para analis sebelumnya.

Jika ketegangan terus berlanjut, skenario terburuk Citi memprediksi harga properti bisa turun rata-rata 7% setiap tahun hingga 2028.

Bagi investor konservatif, ini adalah peringatan merah; namun bagi para spekulan, ini adalah musim berburu aset di kota paling ikonik di dunia. (AW)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *