Washington, Amerika Serikat – Pada Jumat (01/05/26) waktu setempat, Pentagon mengumumkan bahwa mereka telah mencapai kesepakatan dengan tujuh perusahaan Kecerdasan Buatan (AI): SpaceX, OpenAI, Google, Nvidia, Reflection, Microsoft, dan Amazon Web Services, untuk menerapkan AI dalam jaringan komputer rahasianya.
“Perjanjian-perjanjian ini mempercepat transformasi menuju pembentukan militer Amerika Serikat sebagai kekuatan tempur yang mengutamakan AI dan akan memperkuat kemampuan prajurit kita untuk mempertahankan keunggulan pengambilan keputusan di semua domain peperangan,” ucap Pentagon, sebagaimana dikutip dari The Guardian.
Berdasarkan pernyataan Pentagon, perusahaan-perusahaan terkemuka tersebut telah menyetujui penggunaan teknologi mereka dalam “penggunaan sah sesuai hukum”.
Persetujuan ini menjadi langkah terbaru dalam upaya Departemen Pertahanan AS untuk mempercepat penggunaan AI di beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan laporan Brennan Center for Justice pada Maret lalu, AI merupakan alat ampuh yang mampu menggali data dan mempercepat pengembalian keputusan dalam medan perang. Selain itu, AI memiliki fungsi pendukung yang berguna, seperti perkiraan kebutuhan pemeliharaan dan perbaikan senjata hingga pengaturan jalur pasokan selama konflik.
Kekhawatiran Penggunaan AI Untuk Keperluan Militer
Keputusan untuk menerapkan AI dalam keperluan militer AS tentunya memicu kritik dari beberapa pihak.
Helen Toner, Direktur Eksekutif Sementara di Pusat Keamanan dan Teknologi Baru Universitas Georgetown dan mantan anggota dewan OpenAI, mengungkapkan kekhawatirannya mengenai ketergantungan berlebihan pada teknologi AI.
Dilansir dari AP News, Toner mengakui bahwa “Sistem AI dapat membantu dalam hal meringkas informasi atau melihat umpan pengawasan dan mencoba mengidentifikasi target potensial”. Namun, ia mempertanyakan keterlibatan manusia dan risiko menggunakan sistem AI.
“Bagaimana anda menerapkan alat-alat ini secepatnya supaya mereka bisa bekerja dengan efektif dan mampu memberikan keunggulan strategis?” ujar Toner, “selagi menyadari bahwa anda harus melatih para operator dan memastikan bahwa mereka mengerti tata cara pemakaiannya dan tidak terlalu percaya dengan (AI)?”
Pada Maret lalu, Anthropic, perusahaan rintisan dibalik chatbot Claude, menggugat Pentagon setelah mereka menerima tuntutan untuk menghapus filter keamanan Claude. Anthropic juga menyatakan kekhawatirannya atas penyalahgunaan AI sebagai senjata tanpa input dari manusia.
Anthropic, yang kemudian digantikan oleh OpenAI usai gugatan tersebut, tidak termasuk dalam daftar perusahaan yang mencapai kesepakatan dengan Pentagon pada Jumat ini.
AI: Senjata Terbaru Amerika Serikat?

Pada Januari lalu, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, meluncurkan “strategi percepatan AI” yang menurutnya akan “melepaskan eksperimen, menghilangkan hambatan birokrasi, fokus pada investasi, dan menunjukkan pendekatan eksekusi yang dibutuhkan untuk memastikan kita memimpin dalam AI militer dan bahwa AI tersebut tumbuh lebih dominan di masa depan”.
Dalam pernyataan mereka pada Jumat ini, Pentagon mengatakan bahwa personel militer sudah menggunakan kemampuan AI-nya melalui platform resminya, GenAI.mil.
“Para prajurit, warga sipil, dan kontraktor saat ini sedang memanfaatkan kemampuan ini secara praktis, memangkas banyak tugas dari berbulan-bulan menjadi beberapa hari,”
Dikutip dari AP News, Pentagon juga menambahkan bahwa kemampuan AI militer akan “memberi para prajurit alat yang mereka butuhkan untuk bertindak dengan percaya diri dan melindungi negara dari ancaman apa pun.”
Dengan teknologi AI yang setiap harinya semakin berkembang dengan pesat, bukan sebuah kejutan ketika teknologi ini pada akhirnya diterapkan dalam dunia militer.
Lantas, satu pertanyaan besar kini dipertanyakan oleh seluruh dunia: apabila Amerika Serikat mulai bergantung kepada AI dalam keperluan militer, apakah negara lainnya akan mengikuti langkah negeri Paman Sam? (VT)





