Koneksi Yang Mengubah Takdir, Cerita dari Ujung Timur Indonesia!

Dari Kupang Hingga Maluku Utara, Jaringan 4G dan Satelit SATRIA-1 Mulai Buka Gerbang Masa Depan Digital

Kupang – Pagi itu di Desa Kalali, Kecamatan Fatuleu Barat, Kabupaten Kupang, suasana berbeda terasa.

Warga desa, tenaga pendidik, kepala puskesmas, hingga prajurit TNI bersiap mengikuti kegiatan Monitoring Konektivitas Digital yang digelar Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) secara daring.

Dihadiri langsung oleh Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, lewat Zoom Meeting, kegiatan ini bukan sekadar seremoni daring biasa.

Ini adalah tolok ukur perubahan, simbol bahwa digitalisasi di wilayah 3T (terdepan, terpencil, tertinggal) bukan lagi angan.

Dalam arahannya, Menkomdigi, Meutya Hafid menjelaskan bahwa Indonesia tengah melangkah serius dalam membangun konektivitas nasional.

Melalui Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) :

  • pemerintah telah menghubungkan 27.858 lokasi publik.
  • Dengan internet berbasis satelit SATRIA-1.
  • Serta 6.747 titik layanan publik kini telah menerima sinyal seluler 4G.

“Sejak Februari 2025, kapasitas di lokasi-lokasi ini kita tingkatkan menjadi 8 Mbps per titik melalui migrasi dari VSAT ke microwave. Ini membuat performa BTS jauh lebih stabil, latency menurun, dan packet loss berkurang signifikan,” ujar Meutya Hafid.

Teknologi ini didukung oleh komitmen Committed Information Rate (CIR) dari Telkomsat, sebuah skema yang memastikan setiap lokasi mendapatkan bandwidth tetap—bukan berbagi seperti dulu.

Digitalisasi Menjawab Tantangan Wilayah

Salah satu capaian monumental lainnya adalah peluncuran dan pemanfaatan satelit SATRIA-1. Dengan kapasitas 150 Gbps, satelit ini menyuplai internet ke sekolah, puskesmas, dan kantor desa dari Sabang sampai Merauke.

“Dengan SATRIA-1, ribuan titik layanan publik kini dapat merasakan internet cepat. Ini adalah bukti konkret komitmen kita terhadap pemerataan digital,” kata Meutya.

Dialog terbuka dalam kegiatan ini menghadirkan suara langsung dari kepala daerah. Salah satunya adalah Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena.

Ia menekankan pentingnya konektivitas bagi daerah kepulauan dan perbatasan.

“Digitalisasi penting untuk mendukung program One Village One Product (OVOP). Produk lokal bisa masuk ke pasar digital, ini akan meningkatkan PAD NTT,” ungkap Melki dalam Zoom Monitoring Konektivitas Digital, Komdigi, 2025.

Dari Maluku Utara, Gubernur Sherly Tjoanda menambahkan bahwa konektivitas memberi solusi konkret pada masalah kronis, seperti kekurangan tenaga pendidik dan akses dokter spesialis.

“Kini anak-anak bisa belajar daring. Di bidang kesehatan, kami bisa lakukan teleconsultation. Ini benar-benar solusi,” jelas Sherly.

Digitalisasi kini bukan lagi mimpi bagi desa-desa terpencil.

Dengan koneksi 4G yang stabil, satelit berkapasitas tinggi, dan komitmen penuh dari pemerintah, daerah pinggiran kini menjadi bagian dari peta transformasi digital nasional.

Kegiatan monitoring ini bukan hanya laporan angka. Ia adalah cerita nyata bahwa dari balik hutan, pantai, dan bukit, sinyal harapan kini mulai mengalir. (VT)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *