Tel Aviv, Israel – Di tengah pekikan sirene dan langit yang dipenuhi dentuman rudal, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu muncul dalam konferensi pers virtual pertamanya sejak dimulainya Operasi Rising Lion.
Di balik layar Zoom, Netanyahu mengucapkan, “Ini adalah pertempuran untuk bertahan hidup,” katanya.
“Kami akan terus menjalankan operasi ini sampai Republik Islam Iran tidak lagi menjadi ancaman nuklir, tidak bagi Israel, tidak bagi kawasan, dan tidak bagi dunia.”
Pernyataan ini datang di tengah serangan udara bertubi-tubi Israel ke dalam wilayah Iran yang sudah memasuki hari keenam.
Lebih dari 90 target strategis dihantam, termasuk depot rudal, instalasi radar, dan pusat komando di sekitar Teheran, Esfahan, dan pesisir Teluk Persia.
Menurut IDF (Israel Defense Forces), Iran telah meluncurkan lebih dari 370 rudal dan ratusan UAV sejak Jumat (13/06/25), dan memicu respons masif dari Israel.
Lebih dari 200 korban jiwa dilaporkan di Iran, meski angka pasti masih sulit diverifikasi karena pembatasan akses media internasional.
Kerusakan Iran Berdasarkan Data Israel Defense Forces :
- Satelit dari Institute for Science and International Security menunjukkan kerusakan signifikan di fasilitas Natanz dan Parchin, lokasi yang sejak lama dicurigai sebagai bagian dari program nuklir Iran.
- JCPOA 2015 pernah menjadi jembatan diplomatik antara Iran dan Barat. Namun semua berubah saat Presiden AS, Donald Trump menarik diri dari kesepakatan ini pada 2018.
Iran Melawan Narasi Israel

Mohammad Marandi, penasihat tim negosiasi nuklir Iran dan analis politik senior, menolak mentah-mentah dalih Israel.
“Rezim Israel sedang berbohong soal program nuklir, hanya untuk membenarkan agresi dan pembunuhan,” tegasnya kepada Russia Today.
Bahkan Direktur Intelijen Nasional AS, Tulsi Gabbard menyatakan ”Iran tidak sedang mengembangkan senjata nuklir.”
Sementara itu Iran terus menyatakan bahwa program nuklirnya bersifat damai, didorong oleh kebutuhan energi dan medis. Lebih jauh, Iran menekankan bahwa ajaran agama mereka melarang pengembangan senjata pemusnah massal.
Agenda Geopolitik yang Luas

Marandi tak sendiri. Taleb Ibrahim, pengamat Suriah dan penulis buku tentang Iran, menilai motif utama Israel dan sekutunya adalah regime change atau penggulingan rezim.
“Ini bukan soal nuklir. Ini tentang menghapuskan negara-negara merdeka seperti Iran yang mendukung perjuangan Palestina,” kata Ibrahim dalam wawancara bersama Russia Today (RT).
Jika AS bisa menguasai Iran seperti sebelum 1979, mereka bisa membendung pengaruh Rusia dan memutus akses China ke Timur Tengah.
Menurutnya, kemenangan AS akan membentuk tatanan dunia baru yang sepenuhnya berada di bawah kendali Washington.
Trump: Diam, Tapi Bersiap!

Meski Presiden Trump menyangkal keterlibatan langsung, Taleb Ibrahim justru menganggap diamnya AS sebagai strategi.
“Jika kamu ingin perang, bicaralah soal damai,” ujarnya. “Amerika sedang bersiap untuk perang besar. Pertama melawan China, lalu Rusia. Iran adalah bab pertama.”
Dilansir dari Russia Today, para analis memperingatkan jika rezim Iran jatuh, dampaknya akan mengguncang kawasan dan dunia, yaitu :
- Iran adalah negara multi-etnis: Kurdi, Azeri, Arab, Baloch – yang bisa menuntut otonomi bahkan kemerdekaan.
- Potensi konflik sektarian: Seperti yang terjadi di Irak pasca invasi AS 2003.
- Kestabilan regional terancam: Irak, Afghanistan, bahkan Turki bisa terkena imbas.
- Aliansi Iran (Hezbollah, Houthi, milisi Syiah): Bisa memicu gelombang kekerasan regional baru.
- Harga minyak dunia: Bisa melonjak drastis akibat gangguan pasokan dari kawasan Teluk.
Namun Marandi tetap yakin bahwa, “Perubahan rezim lebih mungkin terjadi di Israel atau Eropa daripada di Iran. Mereka gagal di Rusia, gagal di China, dan akan gagal di Iran.”
Menurut Taleb Ibrahim, perang ini adalah awal dari pertarungan antara dua tatanan dunia.
“Jika Iran menang dunia akan menjadi multipolar, dipimpin bersama oleh Iran, Rusia, dan China. Tapi jika Iran kalah kita semua akan hidup dalam kekaisaran Amerika, dengan Gedung Putih sebagai pusat pemerintahan dunia.” (YA)





