Perang 12 Hari Berakhir: Siapa Menang, Siapa Tumbang?

Di balik perangnya rudal dan diplomasi senyap Iran dan Israel, muncul pemenang politis seperti Trump dan Netanyahu, sementara Khamenei, Putin hingga Boeing ikut terseret ke pusaran sorotan dunia.

Gaza, Teheran, Tel Aviv – Dua kekuatan regional, Iran dan Israel, akhirnya sepakat melakukan gencatan senjata sementara usai konflik memanas selama 12 hari. Presiden Donald Trump menyebutnya “12 Day War”  analogi sejarah dari Six-Day War 1967   dan mendeklarasikan bahwa inisiatif damai berasal dari Washington.

Namun, gencatan itu rapuh. Hanya beberapa jam usai diumumkan, Trump menuduh kedua negara telah melanggarnya.

Lalu, siapa menang? Siapa yang kehilangan muka?

Dalam riuh politik dan ledakan senjata, muncul tokoh-tokoh yang mencuat dan tenggelam.

Donald Trump – ‘Juru Damai Sekaligus Penyerang’

Foto : Dok. Newsweek

Trump, yang bersiap untuk Pemilu Presiden AS 2024, berhasil mengubah narasi global. Ia mengklaim perannya sebagai arsitek perdamaian setelah memerintahkan serangan presisi terhadap fasilitas nuklir Iran menggunakan bom bunker-buster GBU-57 buatan Boeing.

Iran tampaknya mengambil off-ramp dan memilih respons terbatas. Ini pilihan rasional, mengingat kekuatan AS jauh di atas mereka,” kata Rosemary Kelanic, Direktur Program Timur Tengah Defense Priorities  seperti yang dikutip Newsweek

Dengan manuver ini, Trump dinilai berhasil: menghindari perang terbuka, namun tetap menunjukkan ketegasan militer dan diplomasi.

Benjamin Netanyahu – Pemulihan Reputasi di Ujung Krisis

Foto : dok. Newsweek

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuai keuntungan politik besar. Operasi militer bertajuk Operation Rising Lion sejak 13 Juni berhasil menghantam target strategis Iran dengan bantuan Amerika Serikat.

Saya biasa mengkritik Netanyahu, tapi kali ini saya angkat topi. Operasinya luar biasa,” ujar Emmanuel Navon, peneliti senior Jerusalem Institute for Strategy and Security  kepada Newsweek.

Setelah dipermalukan pada serangan Hamas 7 Oktober 2023, Netanyahu kini mengembalikan citra sebagai ‘penjaga’ keamanan Israel, bahkan disebut-sebut kembali seperti “Winston Churchill” oleh kalangan analis dalam negeri.

Boeing – Dari Duka ke Demonstrasi Kekuatan

Raksasa pertahanan dan penerbangan ini sempat dihantam krisis terbaru, kecelakaan 787 di India yang menewaskan hampir seluruh penumpang.

Namun, kini Boeing kembali ke panggung lewat debut tempur GBU-57, bom penghancur bunker yang merusak parah situs nuklir Fordow dan Natanz milik Iran.

Setidaknya, serangan itu telah menunda program nuklir Iran cukup signifikan,” kata Jennifer Kavanagh, analis militer senior di Defense Priorities.

Pihak yang Tersungkur:

  1. Ayatollah Ali Khamenei – “Taring Macan Telah Patah”
Foto : Dok.Newsweek

Serangan udara yang menghantam para pemimpin militer dan ilmuwan nuklir Iran mengungkap kerapuhan sistem keamanan Teheran. Bahkan, Reza Pahlavi, putra mendiang Shah Iran, menyebut Khamenei “bersembunyi seperti tikus ketakutan”.

Republik Islam kini tinggal bayang-bayang masa lalunya,” kata Nazenin Ansari, Pemred Kayhan London

Dari dalam, muncul ketegangan di tubuh militer dan pasukan elit Iran. Hamidreza Azizi dari German Institute for International and Security Affairs menyebut, “Pendukung rezim kini frustrasi karena ancaman balasan hanya menjadi omong kosong.”

  1. Vladimir Putin – Sekutu yang Tak Banyak Bertindak
Foto : Dok.Newsweek

Putin sempat mengecam “agresi AS-Israel terhadap Iran”, namun tak ada aksi nyata yang membuktikan dukungannya. Padahal, Iran selama ini menyuplai drone Shahed untuk perang Rusia di Ukraina.

Reuters melaporkan bahwa Teheran kecewa, sebab perjanjian strategis 20 tahun yang diteken Januari lalu tidak menjamin bantuan pertahanan.

Kini, dengan jatuhnya rezim Assad di Suriah dan memburuknya citra Moskow di Timur Tengah, Rusia kehilangan pijakan geopolitik utama.

  1. Tulsi Gabbard – Tersandung Prediksi Intelijen

Direktur Intelijen Nasional AS ini sempat menyampaikan bahwa Iran tidak sedang mengembangkan senjata nuklir. Trump langsung menyanggahnya, menyebut “dia salah”.

Gabbard berusaha klarifikasi, namun terlanjur kehilangan kredibilitas publik dan membuat sebagian pengamat meragukan akurasi laporan intelijen resmi.

  1. Tucker Carlson – Suara Anti-Perang yang Terbelah

Kritik tajamnya terhadap keterlibatan AS dalam konflik Iran membuat Carlson berselisih paham dengan Trump dan kelompok konservatif. Wawancaranya yang menyindir Senator Ted Cruz viral, namun juga memecah suara dalam koalisi MAGA (Make America Great Again).

Apa Selanjutnya?

Gencatan senjata ini masih rapuh, dan kedua pihak saling tuding pelanggaran. Namun secara politis, Trump dan Netanyahu telah mengukir narasi sebagai pemenang. Sedangkan Iran  meski belum runtuh  kini berada di titik terlemah sejak era embargo internasional.

Dunia kini menyaksikan: apakah “Perang 12 Hari” ini benar-benar usai… atau hanya jeda sebelum babak baru dimulai? (YA)

 

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *