Diplomasi Bernyali: Saat Indonesia Bicara Nilai di Panggung Dunia

Dari Washington hingga Gaza, Menlu Sugiono Tegaskan Peran Strategis ASEAN dalam Perdamaian, Ketahanan Pangan, dan Nilai Kemanusiaan

KUALA LUMPUR – Dalam serangkaian forum diplomatik tingkat tinggi di Kuala Lumpur, Malaysia (10–11 Juli 2025), Menteri Luar Negeri RI Sugiono tampil lugas dan tegas menyuarakan arah baru diplomasi Indonesia: kerja sama strategis berbasis nilai. Dalam berbagai pertemuan, termasuk ASEAN–US Post-Ministerial Conference, ASEAN Plus Three (APT), dan East Asia Summit (EAS), Menlu Sugiono menyampaikan pesan jelas: Indonesia ingin ASEAN tumbuh bukan hanya sebagai kawasan stabil dan makmur, tetapi juga bermartabat secara moral.

ASEAN–AS: Mitra Pertumbuhan dan Perdamaian

Dalam ASEAN–US Post-Ministerial Conference, Sugiono menyebut Amerika Serikat sebagai mitra strategis ASEAN, baik dalam pertumbuhan ekonomi maupun perdamaian kawasan. Ia menggarisbawahi pencapaian konkret seperti pembentukan ASEAN–US Center di Washington DC pada 2023, yang memperkuat posisi ASEAN dalam lanskap global.

US Post-Ministerial Conference (PMC) di Kuala Lumpur, Malaysia yang  dihadiri  Menlu AS Marco Rubio (Foto : dok. Kemnlu RI)

Amerika Serikat adalah mitra pertumbuhan dan perdamaian. Namun kerja sama itu harus berakar pada nilai dan saling percaya,” ujar Menlu Sugiono.

Sugiono juga mengapresiasi dukungan bipartisan terhadap ASEAN Act dari Parlemen AS, undang-undang yang memperkuat komitmen jangka panjang AS terhadap kawasan Asia Tenggara.

Tak hanya urusan diplomasi antarnegara, Sugiono menyoroti lebih dari 8.000 pelajar Indonesia di AS sebagai jembatan penting hubungan antarmasyarakat. Ia mendorong kebijakan visa yang lebih inklusif untuk mendukung investasi strategis jangka panjang ini.

Sementara itu, dalam bidang ekonomi, Menlu RI mendorong penguatan kerja sama melalui ASEAN–US Trade and Investment Framework Arrangement (TIFA) untuk memastikan perdagangan terbuka dan adil.

APT: Ketahanan Pangan di Tengah Geopolitik yang Memanas

Dalam Pertemuan Tingkat Menteri ASEAN Plus Three (APT), Sugiono menegaskan kembali makna APT sebagai “jangkar ketahanan kawasan”, terutama dalam konteks krisis multidimensi saat ini: mulai dari krisis pangan, perubahan iklim, hingga rivalitas geopolitik yang mengancam stabilitas.

(Foto : Dok Kemnlu RI)

APT, yang dibentuk pasca krisis moneter Asia 1997, kini kembali diuji. Sugiono menyebut laporan terbaru FAO-WFP Hunger Hotspots (2024) sebagai peringatan akan meningkatnya kerentanan pangan akibat guncangan iklim dan ketimpangan distribusi.

Saatnya kita mengangkat APT Emergency Rice Reserve menjadi platform strategis, bukan sekadar distribusi darurat, tetapi juga mendorong pertanian berkelanjutan dan koordinasi rantai pasok,” tegas Sugiono.

Indonesia juga mendorong penguatan ASEAN Food Security Information System (AFSIS) dan keterlibatan sektor swasta melalui skema kemitraan publik-swasta (PPP) untuk memperkuat ketahanan pangan kawasan.

EAS: Menjadi Kompas Moral di Dunia yang Terpolarisasi

Pada Pertemuan Menteri EAS ke-15, Sugiono melangkah lebih jauh. Ia tidak hanya bicara strategi atau kebijakan, tapi mengajak EAS menjadi kompas etik” kawasan Indo-Pasifik dalam menghadapi dunia yang kian terpolarisasi.

Tragedi kemanusiaan di Gaza menjadi fokus utama. Sugiono mengutuk keras pembunuhan terhadap Dr. Marwan Al Sultan, Direktur Rumah Sakit Indonesia di Gaza, bersama keluarganya, yang diduga akibat serangan Israel.

Ini bukan soal keberpihakan. Ini tentang keberanian membela nilai universal. Tidak ada justifikasi untuk menargetkan tenaga medis dan fasilitas kemanusiaan,” tegas Menlu Sugiono.

Ia kembali menyerukan gencatan senjata permanen, akses kemanusiaan tanpa hambatan, serta solusi dua negara berdasarkan resolusi PBB.

Sugiono juga menggarisbawahi pentingnya Piagam PBB, UNCLOS 1982, ZOPFAN, TAC, dan Prinsip Bali sebagai pondasi tatanan kawasan yang damai dan adil.

Membangun ASEAN yang Relevan, Bermakna, dan Bermoral

Serangkaian pernyataan dan sikap Menlu RI menunjukkan bahwa Indonesia ingin membawa ASEAN naik kelas, dari sekadar forum ekonomi dan politik menjadi kekuatan moral dan etik global. Dalam berbagai forum, pesan Sugiono konsisten:

(Foto : Dok.Kemnlu RI)
  • Stabilitas kawasan hanya dapat dibangun jika nilai-nilai universal ditegakkan.
  • Ketahanan pangan dan kerja sama ekonomi harus didorong dengan semangat solidaritas dan keberlanjutan.
  • Konflik global, terutama yang menyangkut kemanusiaan, tidak boleh dibiarkan menjadi “normal baru”.

Diplomasi yang Tegas dan Bernilai

Tahun 2025 menandai dua dekade berdirinya East Asia Summit, namun pertemuan kali ini lebih dari sekadar refleksi sejarah. Ia menjadi panggung penting bagi Indonesia untuk menegaskan bahwa diplomasi bukan hanya tentang kepentingan, tapi juga keberanian membela nilai.

Kepemimpinan moral adalah satu-satunya jalan untuk mengembalikan harapan dunia akan perdamaian dan keadilan,” tutup Sugiono. (YA)

 

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *