AI Menerobos Batasan Film Indonesia: Revolusi atau Ancaman ?

DNA Master Class 2025: Sutradara Hanung Bramantyo Ungkap Masa Depan Sinema di Era Kecerdasan Buatan

Jakarta – Kedatangan kecerdasan buatan (AI) di industri kreatif menjadi topik hangat, memunculkan pertanyaan tentang peran manusia.

Dalam acara DNA Master Class pada kamis (21/08/25) di Jakarta , sutradara kondang Hanung Bramantyo bersama putranya, Bumi Bramantyo, berbagi pandangan mereka.

Keduanya menyoroti bagaimana AI, alih-alih menjadi ancaman, justru menjadi alat krusial yang merevolusi cara kerja para sineas.

Hanung Bramantyo, yang dikenal dengan karya film-film sejarahnya, mengakui bahwa AI adalah “revolusi yang besar.” Namun, ia menegaskan bahwa AI tidak akan sepenuhnya menggeser profesi pembuat film.

“Yang menggantikan adalah mungkin gajinya digantikan. Gajinya agak turun nih. Kalau itu iya pasti, tetapi bahwa kemudian akan merevolusi semua atau seorang-orang film kemudian pada nganggur atau segala macam. Saya pikir tidak,” ujarnya. Ia menekankan, kunci utamanya adalah kemampuan manusia untuk beradaptasi.

Tantangan Film Sejarah & Solusi AI

Bagi Hanung, yang sering bergelut dengan tantangan produksi film sejarah, AI menawarkan solusi nyata. Ia menceritakan betapa mahalnya biaya produksi film sejarah, yang sering kali menelan anggaran hingga puluhan miliar rupiah.

“Membuat film sejarah itu budget-nya tidak bisa di bawah Rp 5M sampai Rp. 6M,” katanya kepada Newslink Indonesia.

Padahal, penonton film sejarah di Indonesia cenderung terbatas, jarang menembus angka satu juta. Menurut Hanung, AI menjadi penyelamat karena mampu menekan biaya produksi secara signifikan.

Ia mencontohkan teknologi AI telah digunakan untuk membuat film pendek yang ditayangkan pada 17 Agustus lalu, di mana AI digunakan untuk menciptakan latar dan elemen visual yang realistis.

Tidak hanya dari sisi visual, Hanung juga melihat potensi AI dalam penggunaan suara aktor.

Ia menyebut contoh film “Jumbo” yang menggunakan suara Ariel Noah dan Bunga Citra Lestari (BCL), membuktikan bahwa karakter animasi tetap dapat memiliki daya jual tinggi meskipun penonton tidak melihat wujud asli artis tersebut.

“Suaranya tetap bisa terpakai dan penonton ternyata tidak perlu melihat BCL dalam bentuk asli atau Ariel dalam bentuk animasi. Suaranya Ariel saja ternyata itu punya nilai jual sendiri,” ungkap Hanung.

Alat Ekspresi Kreatif

Sejalan dengan pandangan sang ayah, Bhumi Bramantyo juga sangat antusias dengan peran AI. Sebagai pembuat film muda yang lahir di “generasi AI,” ia menganggap AI sebagai alat yang sangat membantu proses kreatifnya.

“Saya bisa mencari gambar sesuai apa yang saya inginkan di kepala saya,” tuturnya.

Bhumi menambahkan, AI seperti ChatGPT dan Gemini juga membantu mempercepat proses penulisan skenario, yang biasanya memakan waktu bertahun-tahun.

“Hal ini memungkinkan para kreator untuk lebih fokus pada pengembangan ide dan cerita.”

Ia mengakui, awalnya banyak orang yang meragukan AI, khawatir akan menggantikan manusia. Namun, ia berpendapat bahwa manusia harus terus berkembang.

“Gimana caranya saya bisa menguasai semua aplikasi AI itu hanya untuk bisa membantu saya dalam bekerja,” tegasnya.

Menurutnya, AI sangat membantu dalam pembuatan creative deck atau moodboard untuk presentasi ke investor, karena mampu menghasilkan gambar-gambar orisinal yang menarik.

Di tengah perdebatan global tentang masa depan industri kreatif, dunia perfilman dan animasi, Hanung dan Bhumi Bramantyo memberikan sebuah perspektif yang menyegarkan: AI bukanlah musuh, melainkan kawan seperjalanan.

Dengan AI sebagai alat, batasan anggaran yang selama ini menghalangi film-film sejarah dapat diatasi, dan proses kreatif yang panjang dapat dipersingkat.

CEO Digital Tech Ecosystem and Development Sinar Mas Land, Irawan Harahap menyatakan bahwa kehadiran AI yang mampu menekan biaya produksi film terutama film sejarah dan bisa memperkaya visual, membuktikan bahwa teknologi ini adalah solusi.

“AI sebagai pintu gerbang yang membuka peluang tanpa batas, memungkinkan para sineas dan kreator muda untuk mengeksplorasi ide-ide besar tanpa terbebani oleh batasan teknis atau finansial. Ekosistem Digital Hub yang kami bangun bertujuan untuk menjadi wadah bagi kolaborasi semacam ini, di mana imajinasi manusia dapat bersinergi sempurna dengan kemampuan AI, menciptakan karya-karya revolusioner yang mendongkrak industri kreatif Indonesia ke level global,” ujar Irawan.

Pada akhirnya, masa depan film dan industri kreatif Indonesia akan ditentukan oleh sejauh mana para kreator berani beradaptasi, bereksperimen, dan memanfaatkan setiap alat baru yang ada di tangan mereka, demi sebuah karya yang tak hanya bagus, tapi juga relevan dan visioner. (YA)

Baca juga : 

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *