Algoritma Menggeser Manusia: Gelombang PHK TikTok di Tengah Laporan Keuntungan!

Ketika Untung Tak Berbanding Lurus Dengan Tenaga Manusia: Sisi Gelap Otomatisasi AI di TikTok

London, Inggris — Sebuah email mengubah nasib ratusan orang di London.

Para staf di departemen trust and safety TikTok membaca pesan yang mengumumkan bahwa perusahaan sedang mempertimbangkan untuk tidak lagi melakukan pekerjaan moderasi dan penyaringan kualitas konten di kantor mereka.

Di balik keputusan ini, ada sebuah narasi besar yang kini mengemuka di industri teknologi: kecerdasan buatan (AI) siap mengambil alih peran manusia.

Momen ini terasa ironis. Keputusan TikTok untuk memangkas ratusan karyawannya, termasuk di Inggris, datang di saat-saat krusial.

Hanya beberapa minggu sebelum Undang-Undang Keamanan Daring (Online Safety Act) di Inggris, resmi berlaku penuh.

Dilansir dari Financial Times, aturan ini mewajibkan perusahaan teknologi untuk mencegah penyebaran materi atau konten berbahaya dan ilegal. Jika gagal, mereka akan menghadapi denda besar hingga 18 Juta Pound Sterling atau 10 persen dari pendapatan global.

Dari Manusia ke Mesin

TikTok memperkenalkan kontrol “penjaminan usia” untuk mematuhi persyaratan baru, guna membatasi paparan konten berbahaya bagi pengguna di bawah 18 tahun.

Seperti grup media sosial lainnya YouTube dan Meta, TikTok mengatakan bahwa mereka berencana untuk mengandalkan teknologi pembelajaran mesin untuk “menyimpulkan” usia pengguna berdasarkan cara mereka menggunakan situs dan dengan siapa mereka berkomunikasi.

Namun sistem berbasis AI ini belum disetujui oleh regulator Ofcom, yang sedang menilai tentang kepatuhan.

Pergeseran ini bukan hanya terjadi di Inggris. Keputusan ini merupakan bagian dari reorganisasi global yang lebih besar.

Perusahaan induk TikTok, ByteDance, berencana untuk memusatkan operasional moderasi di beberapa lokasi tertentu, seperti Dublin dan Lisbon, serta mengurangi tim di pasar individual, termasuk Berlin.

Dalam email yang diterima Financial Times, TikTok menyatakan bahwa “kemajuan teknologi, seperti peningkatan model bahasa besar (large language models) yang lebih canggih, mengubah cara mereka bekerja.”

Perusahaan mengklaim bahwa dengan AI, mereka bisa memaksimalkan efektivitas dan kecepatan.

Namun, serikat pekerja memiliki pandangan lain. John Chadfield, seorang penyelenggara nasional di Serikat Pekerja Komunikasi (CWU), skeptis dengan narasi AI ini.

“Mereka tidak ingin memiliki moderator manusia, tujuan mereka adalah agar semuanya dilakukan oleh AI,” kata Chadfield, yang juga menambahkan bahwa realitasnya, perusahaan kemungkinan akan memindahkan pekerjaan ke yurisdiksi di mana biaya tenaga kerja lebih murah.

“AI membuat mereka terdengar pintar dan mutakhir, padahal mereka sebenarnya hanya akan memindahkan pekerjaan ke luar negeri.”

Serikat Pekerja Komunikasi memperkirakan bahwa ada sekitar 300 orang yang bekerja di departemen moderasi dan penyaringan kualitas konten serta keselamatan TikTok di London, dan mayoritas akan terkena dampak PHK.

Kekuatan Teknologi di Tengah Keuntungan Bisnis

Keputusan ini menjadi sorotan tajam, terutama jika dilihat dari kondisi keuangan TikTok. Dikutip dari Financial Times, laporan keuangan terbaru TikTok yang diterbitkan menunjukkan bahwa:

  • Pendapatan TikTok di Inggris dan Eropa tumbuh 38 persen dari tahun ke tahun pada 2024, mencapai $ 6,3 Miliar.
  • Kerugian sebelum pajak perusahaan turun drastis, dari $ 1,4 Miliar pada 2023 menjadi $ 485 Juta pada tahun lalu.

Angka-angka ini, yang dilaporkan dalam pengajuan regulasi di Inggris, menunjukkan bahwa TikTok berada dalam kondisi finansial yang sangat baik.

Namun, keuntungan finansial ini ternyata tidak berbanding lurus dengan komitmen terhadap pekerjaan manusia.

Pada akhirnya, kisah ini bukan sekadar tentang PHK. Ini adalah cerita tentang dilema yang dihadapi peradaban modern: bagaimana kita menyeimbangkan kemajuan teknologi dengan perlindungan terhadap pekerjaan dan tanggung jawab etis ?

Di satu sisi, ada janji AI yang menawarkan efisiensi tanpa batas. Di sisi lain, ada peran vital manusia dalam memastikan platform digital tetap aman dan terpercaya, sebuah tanggung jawab yang kini dipertaruhkan di tangan algoritma. (*)

Baca juga :

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *