Amerika Membara: Jutaan Orang Protes Nasional ‘No Kings’ Lawan Kebijakan Trump!

'No Kings' Ketiga Pecah di AS & Eropa, Digelar di 3.000 Titik, Jadi Aksi Massa Terbesar Dalam Sejarah ?

Washington, AS – Gelombang protes nasional bertajuk “No Kings” kembali mengguncang Amerika Serikat untuk ketiga kalinya pada Sabtu (28/03/26).

Jutaan demonstran turun ke jalan di lebih dari 3.000 lokasi dari Florida hingga Washington D.C., guna menentang kebijakan pemerintahan Presiden ke-47, Donald Trump, yang dinilai otoriter.

Penyelenggara memprediksi aksi ini akan menjadi protes kolektif terbesar dalam sejarah AS, melampaui jutaan partisipan pada edisi sebelumnya.

Gerakan Melawan Otoritarianisme

Gerakan “No Kings” bukanlah sebuah organisasi tunggal, melainkan koalisi kelompok progresif yang bersatu di bawah satu keyakinan: menolak gaya kepemimpinan Trump yang dianggap lebih mirip monarki daripada presiden terpilih.

Melalui Situs Resminya No Kings, koalisi ini menegaskan bahwa Amerika tidak mengenal sistem raja, dan mereka tidak akan mundur melawan apa yang mereka sebut sebagai korupsi dan kekejaman.

Ezra Levin, salah satu pimpinan dari kelompok advokasi Indivisible, menyatakan bahwa rakyat Amerika sudah muak.

“Orang-orang di seluruh negeri sedang bergerak, menunjukkan kepedulian pada tetangga mereka, dan mempertegas bahwa kami sudah selesai dengan otoritarianisme ini,” tegasnya dalam pernyataan resmi.

Foto: Dok. Reuters (Evelyn Hockstein)
  • Skala Global: Digelar di 50 negara bagian AS dan setidaknya 10 negara Eropa, termasuk London yang mengklaim kehadiran 500.000 orang.
  • Pusat Aksi: Flagship event berlangsung di Minneapolis-St. Paul, menghadirkan Bruce Springsteen, Joan Baez, Jane Fonda, hingga Senator Bernie Sanders.
  • Komitmen Damai: Penyelenggara menekankan aksi non-kekerasan dan melarang keras penggunaan senjata dalam bentuk apa pun di lokasi acara.

Reaksi Pihak Republik & Gedung Putih

Foto: Dok. Reuters

Menanggapi gerakan masif ini, pihak Republik dan media konservatif cenderung bersikap kritis. Di masa lalu, mereka melabeli protes ini sebagai reli “Benci Amerika” dan menuduh adanya penyusupan anggota Antifa atau demonstran bayaran, meski tanpa bukti kuat.

Gedung Putih sendiri tampak memberikan tanggapan dingin. Juru bicara Abigail Jackson menyebut aksi ini hanyalah “Sesi Terapi Gangguan Jiwa Trump” yang hanya dipedulikan awak media.

Saat ini, fokus pemerintah diklaim tetap tertuju pada isu geopolitik seperti perang dengan Iran, dan stabilitas bandara nasional.

Mencatatkan Sejarah Baru di Amerika

Foto: Dok. AP News (Tom Baker)

Dampak dari gerakan “No Kings” mulai dianalisis para pakar. Peneliti dari Nonviolent Action Lab Harvard menilai gerakan ini memiliki indikator kesuksesan, seperti jangkauan luas ke wilayah baru & kemampuan mempertahankan disiplin non-kekerasan.

Meskipun sulit menghitung jumlah peserta secara pasti, “No Kings” kali ini dipastikan masuk dalam jajaran demonstrasi massa terbesar di negeri Paman Sam.

Skalanya bersaing dengan rekor sejarah seperti Hari Bumi pertama tahun 1970 yang diikuti 20 juta orang.

Gemuruh teriakan “No Kings” yang menggema dari Memorial Bridge hingga gedung Capitol Minnesota, menjadi sinyal kuat bahwa polarisasi di Amerika Serikat masih berada di titik didih.

Aksi ini bukan sekadar protes biasa; ia adalah manifestasi dari keresahan jutaan warga yang merasa prinsip demokrasi mereka sedang dipertaruhkan.

Apakah gerakan ini akan mampu mengubah arah kebijakan di Washington atau sekadar menjadi catatan kaki sejarah, waktu yang akan menjawab.

Namun satu yang pasti, rakyat Amerika kembali membuktikan bahwa suara mereka tidak bisa dibungkam begitu saja. (AW)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *