Banjir Bandang & Longsor Sumatra: Krisis Kemanusiaan Meningkat

Kerusakan Infrastruktur dan Korban Jiwa Mencapai Angka Memprihatinkan

Sumatra – Bencana hidrometeorologi yang melanda Pulau Sumatra, khususnya Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, semakin memburuk.

Hingga Kamis,(18/12/25), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat total korban meninggal dunia akibat banjir bandang dan tanah longsor mencapai 1.059 jiwa.

Angka ini diperkirakan akan terus meningkat seiring berlanjutnya upaya pencarian korban. Krisis kemanusiaan kini berada di titik kritis.

Selain korban jiwa, lebih dari 190 orang masih dinyatakan hilang. Sementara sekitar 7.000 warga lainnya mengalami luka-luka.

Hal ini menunjukkan betapa besarnya dampak dari bencana, yang disebabkan oleh intensitas hujan ekstrem yang terus berlangsung serta penggundulan hutan yang tidak terkendali.

Operasi SAR Masih Berlanjut

Salah satu titik fokus operasi pencarian dan pertolongan (SAR) berada di Sumatra Barat, khususnya di Kabupaten Agam, yang melaporkan 55 orang hilang di Kecamatan Malalak dan Palembayan.

Selain itu, aliran Sungai Batang Anai yang meluap di Kota Padang Panjang dan Padang Pariaman menjadi lokasi utama upaya penyelamatan.

Di Sumatra Utara, daerah yang terdampak parah adalah Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan, yang dilanda longsor besar. Di Tapanuli Tengah, 41 orang hilang akibat tanah longsor yang menimbun rumah-rumah warga.

Sementara itu di Aceh, enam kabupaten mengalami kerusakan serius, dengan korban terbanyak tercatat di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Utara.

Total jumlah korban di seluruh Sumatra dengan rincian :

  • Korban meninggal: 1.059 jiwa.
  • 192 orang hilang.
  • 7.000 orang luka-luka.
  • Daerah terdampak utama: Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat.

Skala Besar Kehancuran Infrastruktur

Bencana ini menyebabkan kerusakan infrastruktur yang luar biasa. BNPB melaporkan bahwa lebih dari 2.000 kilometer jalan rusak, setara dengan dua kali panjang jalan tol Trans-Jawa.

Selain itu, fasilitas publik lainnya juga terdampak parah. Kerusakan infrastruktur diantaranya :

  • Hunian: 147.236 rumah rusak berat maupun ringan.
  • Pendidikan: 973 sekolah dan 562 madrasah terhenti operasionalnya.
  • Fasilitas Umum: 31 jembatan nasional rubuh, 219 fasilitas kesehatan rusak, 434 rumah ibadah terdampak.
  • Ketahanan Air: 13 bendungan mengalami kerusakan, berpotensi mengganggu pasokan air dan irigasi.

Kerusakan ini menciptakan tantangan besar dalam upaya pemulihan. Banyak daerah yang kesulitan mengakses bantuan karena rusaknya infrastruktur jalan dan jembatan.

BNPB kini fokus pada pemulihan kebutuhan dasar bagi pengungsi serta evakuasi korban yang masih terjebak.

Upaya evakuasi dihadapkan pada tantangan logistik yang signifikan. Sekitar 108 ruas jalan dan puluhan jembatan rusak parah, menyulitkan distribusi bantuan dan peralatan SAR ke daerah-daerah yang terisolasi.

Meskipun demikian, operasi SAR terus berlanjut dengan fokus pada penyelamatan korban yang masih terjebak di lokasi yang sulit dijangkau.

“Operasi SAR terus berjalan meskipun menghadapi medan yang sangat sulit. Kami sedang melakukan evaluasi mengenai batas waktu pencarian, terutama di daerah-daerah dengan kondisi tanah yang tidak stabil,” ujar jubir BNPB dalam laporan resminya.

Para ahli meteorologi memperingatkan bahwa pola cuaca ekstrem, kemungkinan akan berlanjut di wilayah Sumatra bagian utara dan barat.

Kondisi ini memicu kekhawatiran akan terjadinya bencana serupa yang dapat memperburuk keadaan. Oleh karena itu, otoritas lokal diminta untuk tetap waspada dan memastikan kesiapan dalam menghadapi potensi ancaman bencana lebih lanjut. (NR)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *